baru

Selasa, 21 April 2015

Badai 9-11

9
                Seorang pelayan membuka pintu tempat San dan Min Ho akan makan. Di dalamnya, tampaklah Min Ho yang tak kalah tampan dan gagahnya dari San sendiri. Setelah menutup pintu, para pelayan menyingkir dan pergi. Karena, memang itulah yang diinginkan oleh Min Ho dan San.
                “Tak apa-apa kita pergi? Bagaimana, jika tamu wanitanya datang?” tanya salah seorang pelayan. Pelayan yang lain menjawab dengan tidak perduli, “Sudah biarkan saja! Kita cukup melakukan apa yang diminta pembeli. Toh, dia sendiri yang memintanya dan lagipula, makanan sudah ada di sana. Kita pergi saja, jarang-jarang, kan kita bisa bebas begini. Biasanya, kita harus melayani permintaa tamu sampai malam...”
                Pelayan-pelayan yang lain menyetujui hal itu.
                Di dalam ruang makan yang mewah itu. San dan Min Ho sedang makan malam asyik. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi, mereka benar-benar tampak seperti sepasang kekasih. Hanya saja, memang tidak ada wanita di sana.
                “Kau tidak memotong jenggotmu?” tanya Min Ho.
                “Apa perlu kupotong?” tanya Kim San. Dia memang membiarkan jenggot dan kumisnya agar tetap tumbuh. Min Ho menggelengkan kepalanya, “Kau tampak keren.”
                Kim San tersenyum. Kemudian, dia menghentikan makanannya dan mengambil anggur merah yang ada di dalam ember berisi es. Kemudian, membukanya dan menuangkannya ke gelas besar. Dia memberikan satu gelas pada Min Ho dan San duduk di kursi yang ada di dekat Min Ho.
                “Mari bersulang.” kata San.
                San dan Min Ho mengetuk ujung gelas mereka dan meneguk anggur merah itu pelan-pelan. Mereka bercanda, mengobrol dan tertawa sampai anggur mereka habis. Kemudian, saat San hendak mengambil botol anggur. Tangannya, ditahan oleh Min Ho. Benar, dulu pun begitu, awalnya mereka hanya berpegangan tangan.
#####
                Tae Ho perlahan-lahan mulai mengerti apa yang dilakukan oleh ibu tirinya. Awalnya, hanya pegangan tangan. Tapi, semakin lama, perbuatan mereka semakin berani. Setiap kali ayah Tae Ho pergi, maka pria itu akan datang ke rumah Tae Ho dan menghabiskan malam dengan ibu tirinya. Tae Ho ingin mengatakan pada ayahnya, tapi Tae Ho terlalu takut. Tae Ho tak tahu, tapi dia selalu takut akan bahaya yang seolah-olah mendekat ke arahnya, ke arah keluarganya.
                Semua pelayan yang dulu mengabdi pada keluarga Tae Ho dipecat. Digantikan dengan pelayan-pelayan yang hanya mendengarkan apa perkataan ibu tiri Tae Ho. Pria bertato itu, juga selalu berada di rumah. Dia berjalan kesana-kemari, seperti binatang yang mencari mangsa.
                Tae Ho hanya bisa diam dalam ketakutan.
                Sampai. pada akhirnya bencana yang ditakuti Tae Ho benar-benar terjadi. Ayahnya, datang lebih cepat dari yang diperkirakan oleh Tae Ho.  Dia baru pulang dari Jeju untuk keperluan bisnis. Ayahnya, membawa begitu banyak oleh-oleh dari sana. Ketika dia pulang, wajahnya terlihat begitu lelah.
                “Mana ibumu?” tanya ayahnya.
                Tae Ho tergagap, tak tahu apa yang mesti dikatakan.
                “Apa dia sakit?” tanya ayahnya mulai khawatir. Jelas, dia salah faham dengan kegagapan Tae Ho. Tae Ho tahu, ayahnya mencintai wanita itu. Dengan mengatakan yang sebenarnya, akan menghancurkan ayahnya. Tae Ho, takut.
                “Aku....aku.....” kata Tae Ho. Ayah Tae Ho mulai bertambah curiga, dia berjalan hendak ke kamarnya, Tae Ho langsung menghalangi langkah ayahnya dan berteriak, “Jangan!!!” Tapi, ayah Tae Ho justru bertambah khawatir, mungkin dalam pikirannya, Jin Hee sakit dan melarang Tae Ho memberi tahunya.
                Kemudian, Jo Myung meninggalkan barang-barangnya dan berlari ke kamarnya. Saat, Jo Myung membuka pintu, dia melihat mereka berdua. Melihat keduanya, tanpa pakaian. Di atas tempat tidur miliknya.  Melakukan, sesuatu yang harusnya dilakukan bersama diri Jo Myung.
                Kekhawatiran Jo Myung berubah menjadi kemarahan.
                Kim Tae Ho, hanya bisa berdiri di belakang ayahnya, dengan badan menggigil ketakutan.
                “Kau pulang lebih cepat, ya?” tanya ibu tiri Tae Ho terbangun. Dia berkata dengan raut wajah santai sekali. Seolah-olah, yang dia lakukan hanyalah perbuatan sepele. Park Jae Seong, juga memandangi ayah dengan senyuman meremehkan di wajahnya, “Wah, kukira kita akan lebih cepat ketahuan. Padahal, kupikir anakmu akan memberi tahumu lebih cepat. Dia lebih penakut dari yang kukira.”
                Ayah Tae Ho menarik pria itu dan menghajarnya sampai Jae Seong terbanting ke lantai. Kemudian, dia bangkit kembali dan menghajar balik Jo Myung. Senyuman tersungging di wajahnya, “Kenapa kau begitu terkejut?” Mereka berdua berkelahi, sementara ibu tiri Tae Ho hanya memperhatikan mereka. Kemudian, dia melihat ke arah belakang Tae Ho dan mengangguk.
Tae Ho membalikkan badannya dan pria bertato itu bergerak dengan cepat. Dia membawa pemukul dan ketika Tae Ho berteriak, “Ayah awas!”
                Semua sudah terlambat.
                Pria itu memukul kepala ayah Tae Ho sampai terjatuh tanpa daya. Pria bertato itu terus memukul kepala dan leher Jo Myung sampai berkali-kali. Badan ayah menghadapnya dan menatapnya, mulutnya berkata dengan lirih. Terlalu lambat untuk bisa didengar, tapi Tae Ho bisa memahami maknanya.
                “Selamatkan So Hyun...”
                Kim Tae Ho berlari dan ketakutan.
Badannya gemetar.
“Apa yang harus kita lakukan pada anak itu?” tanya pria bertato itu.
Iblis wanita itu hanya berkata, “Kalau kau suka. Kau boleh melakukannya........”
10
                Kim San dan Min Ho sedang berjalan-jalan. Menikmati salju yang turun dengan perlahan-lahan. Jung Woo sudah mereka minta pergi duluan, karena keduanya sedang ingin berjalan-jalan saja. Seperti, pasangan-pasangan yang lain. Orang lain pun, sepertinya melakukan hal yang sama. Ada yang duduk di warung tenda, sambil menikmati berbotol-botol soju[1]. Ada lagi yang berdiri di samping penjual hoppang[2]. Sementara, yang lain memilih berjalan cepat, mungkin pulang ke rumahnya setelah penat bekerja seharian.
                “Kau mau beli apa?” tanya Min Ho di depan bibi penjual makanan. Kim San berdiri di depan gerobak tepat disamping Min Ho, melihat-lihat apa saja yang dijual.  Akhirnya, San memutuskan untuk membeli beberapa buah gyeranppang[3], sementara Min Ho lebih memilih membeli gun goguma[4].
                “Terima kasih, ahjumma[5].” kata Min Ho.
                Keduanya kembali berjalan berduaan, Kim San berjalan sedikit lebih lambat. Dia menatap Min Ho yang berjalan di hadapannya. Kemudian, tiba-tiba tanpa diduga, Min Ho langsung berlari dengan kencang, “Kalau kau bisa, coba tangkap aku!” teriaknya.
                San tersenyum, kemudian berlari mengejar Min Ho.
                Dulu, San juga berlari.
                Dalam ketakutan.......
#####
                Tae Ho berlari dengan penuh rasa takut. Tangan dan kakinya bergetar hebat. Matanya tak berhenti  mengalirkan air mata. Tae Ho, tak tahu apa yang akan dilakukannya nanti. Tapi, satu hal yang dia tahu. Dia harus segera ke kamar So Hyun dan menyelamatkannya. Tae Ho berlari ke kamar So Hyun dan membangunkannya. So Hyun yang waktu itu masih sangat kecil mengeluh, “Aku masih mengantuk.” Tae Ho hanya bisa berkata, “Tak apa-apa. Tidurlah dipelukanku!”
Tae Ho mengendongnya dan masuk ke dalam lemari pakaian yang ada di dalam kamar So Hyun.
                Mereka bersembunyi di sana.
Tak lama kemudian pria bertato itu masuk ke dalam kamar So Hyun. Tae Ho ketakutan dan menutup mulut So Hyun dengan tangannya agar kami tidak ketahuan. Pria itu melihat ke sekeliling dan saat  Tae Ho lihat dia melangkahkan kakinya pergi. Tae Ho membuka pintu lemari dengan perlahan. Tapi, bahkan, saat mereka belum keluar dari lemari sepenuhnya.
Tiba-tiba pria bertato itu muncul dan tersenyum girang.
Senyumannya, seperti senyuman orang gila.
Sejak awal dia tahu Tae Ho ada di dalam lemari. Tapi, dia bersembunyi dan membiarkan Tae Ho sendiri yang keluar. Tae Ho sendiri yang menghampiri kehancurannya. Dia menarik tubuh kecil Tae Ho keluar dari lemari. Tae Ho berusaha memeluk So Hyun agar tidak jatuh dengan sekuat tenaga.
Tapi, pria bertato itu memukul Tae Ho tanpa ampun sampai dia  terjengkang ke belakang. So Hyun yang terlepas dari pelukan Tae Ho terjatuh ke lantai. Dia mulai menangis. Pria bertato itu menarik So Hyun dalam satu tarikan dan membenturkannya ke dinding. Lalu, merobek gorden kamar dan melilitkannya di kaki, tangan dan mulut So Hyun.
Tae Ho berusaha bangkit dan memukuli pria itu.
“Lepaskan adikku! Lepaskan!” teriaknya.
Menurut kalian, apa yang bisa dilakukan bocah berusia sembilan tahun dengan tangan yang kecil? 
Tak ada.
Pria bertato itu menghajarnya dan membenturkan badannya ke dinding. Dia mengunci pintu kamar dan menatap Tae Ho dengan mata penuh nafsu seks. Pria bertato itu, gay. Tidak, tidak hanya itu. Dia juga maniak seks dan seorang pengidap pedofilia. Dia berkata, “Ibu tirimu memerintahkanku agar tidak membunuhmu. Dia ingin agar kau tetap hidup dan bisa melihat penderitaan yang akan terjadi pada ayahmu. Tapi, selebihnya dia membolehkanku melakukan apapun padamu.”
Dia memakai sebuah cincin berwarna emas dengan ujung yang tajam seperti cakar di jari tengahnya. Kemudian, dia melepaskan pakaiannya perlahan-lahan. Kim Tae Ho ketakutan dan memundurkan badannya dengan wajah penuh air mata. Dia tak tahu apa yang akan terjadi, dia terlalu kecil untuk mengerti, tapi dia tahu itu pasti hal yang buruk.
“Jangan mendekat..... jangan mendekat.....” katanya.
Pria bertato itu mengeluarkan lidahnya dan menjilat bibirnya, dia  menatap Tae Ho yang ketakutan dengan girang, “Kau sangat tampan sekali. Sejak awal aku sudah menyukaimu.”
Setelah  dia melepaskan semua pakaiannya. Dia melakukan perbuatan kejinya pada Tae Ho. So Hyun yang saat itu menangis melihat semua kejadian itu dengan mata kecilnya. Aku tak akan menceritakan detail peristiwa itu pada kalian. Cukuplah detail peristiwa itu kusimpan baik-baik dalam ingatanku. Tapi, satu hal yang pasti, pria bertato itu telah menimbulkan kerusakan yang parah pada psikologis kedua anak itu. Tapi, tentu saja, Tae Ho-lah  yang kerusakannya paling parah.
                Suatu kekejian luar biasa yang merusaknya lahir dan batin.
11
                Awal Januari, musim dingin di Seoul.....
                Kim San berdiri memandangi kota Seoul lewat kaca. Dia tidak sedang berada di apartemennya, melainkan berada di hotel mewah berbintang lima. Di tangannya, ada segelas anggur merah yang tinggal tersisa sedikit. Dia tidak mengenakan pakaian, hanya celana hitamnya saja yang masih dipakainya.
                Di punggungnya, banyak sekali bekas luka cakaran.
                Kim San memandangi bangunan-bangunan yang bercahaya di waktu malam. Sebagian sudah tertutupi salju sehingga hanya terlihat putih saja. Bagiku, Seoul kota yang cukup indah, apalagi ketika salju-salju mulai turun. Di beberapa jalanan, akan dipasangi hiasan berbentuk kristal salju yang bercahaya. Seoul Plaza juga akan berubah fungsi menjadi tempat ice skating[6]. Orang-orang akan bermain di sana dengan senang, sementara, sebagian orang lain lebih memilih pergi bermain ski di Gangwon-do[7].
                Meski, begitu, Kim San selalu ingin pergi dari tempat ini. Ke tempat yang jauh sekali. Ke tempat, dimana dia bisa merasakan ketenangan dan kenyamanan. Kim San, tak pernah pergi dari negeri ini, karena ayahnya yang koma sudah tak mungkin lagi dibawa pergi.
                San meneguk anggurnya perlahan-lahan...
                Sejak pemukulan itu, ayahnya tak pernah sadarkan diri lagi. Pria bertato itu sudah merusak sistem syaraf Jo Myung. Otak dan sumsum tulang belakangnya mengalami kerusakan permanen, tidak hanya membuatnya lumpuh seumur hidupnya. Tapi, juga kehilangan kesadarannya.
                Tiba-tiba sebuah tangan memeluk tubuh San dari belakang.
                “Kau sedang memikirkan apa?” tanya Min Ho, dia meletakkan kepalanya di bahu San. “Tidak memikirkan apa-apa. Hanya, ingin melihat betapa indahnya kota Seoul di malam hari.”
“Kau mau jalan-jalan? Bagaimana, kalau kita ke Deokgyusan[8]?” tanya Min Ho. “Kita bisa mendaki ke sana dan melihat hamparan salju yang indah sekali. Kau pasti suka.”
                “Bulan ini, aku tidak bisa pergi kemana-mana.” kata Kim San. “Pekerjaanku banyak sekali dan aku juga tak yakin bisa mendaki.”
                “Kau masih belum mau menceritakan rahasiamu, ya?”
                “Rahasia apa?” tanya San.
                “Tubuhmu yang penuh dengan luka. Kau tidak pernah menceritakan alasannya.” kata Min Ho. Dia menyentuh salah satu bekas cakaran itu dengan lembut, selama sembilan tahun hubungan mereka. Tak pernah sekalipun, Kim San menceritakan apa yang membuatnya terluka. Kim San juga tak pernah minum-minuman keras, kecuali hanya wine yang tidak terlalu memabukkan.
                San menghabiskan minumannya. dan melepaskan pegangan Min Ho. Setelah, meletakkan gelasnya di atas meja, dia berjalan kembali ke arah Min Ho.
                “Kau mau melakukannya?”
                “Boleh saja...” kata Min Ho.
                Kim San mencium Min Ho sebagai awal untuk memulai hubungan intim mereka.
                Maukah kalian tahu jawaban dari pertanyaan Min Ho? Bekas cakaran di punggung San, adalah bekas cakaran dari cincin tajam yang dulu digunakan pria bertato itu. Setiap kali, dia melakukannya pada San. Dia akan mencakar kulit San, beberapa luka tampak lebih dalam dari yang lain. Karena, pria itu terkadang mencakar di tempat yang sama.
                Sementara, alasan kenapa San tidak mau mabuk, adalah karena dia tak ingin lupa pada balas dendam yang sudah menjadi tujuan hidupnya.
#####
                Sejak peristiwa itu, Grup DK diambil alih oleh Choi Jin Hee dan Park Jae Seong. Dia dan selingkuhannya berpindah ke tempat lain yang lebih bagus dan juga lebih mewah. Semua pelayan itu juga ikut ke rumah mereka berdua yang baru. Kecuali, sepasang suami-istri tua yang mungkin sudah berumur tujuh puluhan. Mereka berdua disuruh tinggal di rumah lama. Begitu juga, si pria bertato itu tetap tinggal di sini untuk mengawasi ayah San yang sekarat.
                Jin Hee hanya pernah membawa ayah Tae Ho sekali ke dokter. Tapi, setelah itu dia tidak pernah melakukannya.
Tae Ho tahu, satu-satunya alasan membawanya ke dokter waktu itu. Hanya agar dia bisa mengambil alih Grup DK. Karena, dengan keterangan dari dokter. Pihak perusahaan bisa percaya jika ayah Tae Ho memang sakit parah dan sudah tidak mungkin lagi untuk memimpin perusahaan. Setelah itu, tak pernah ada lagi dokter. Ayah Tae Ho hanya dirawat oleh sepasang suami istri tua itu dan sebagai ‘makanan’ untuknya, hanya infus yang diganti setiap berkala. Dokter hanya akan datang jika ayah Kim San benar-benar mengalami kondisi kritis dan  setelah itu, semua kembali seperti sedia kala.
                Mungkin, kalian ada yang bertanya, bagaimana mungkin Tae Ho tahu?
                Sementara, dia dikurung di kamar bersama adiknya. Hanya diberi makanan hewan dan minum dari kamar mandi? Jawabannya, sederhana, pria bertato itulah yang memberi tahunya.
                Karena, setiap kali ‘keduanya’ melakukan hubungan intim. Dia sengaja memberi tahu Tae Ho agar membuatnya tersiksa. Pria bertato itu adalah pria yang kasar, pemabuk, hyperseks dan juga psikopat yang gila. Dia tak merasa bersalah sedikitpun atas apa yang dia lakukan, semakin kesakitan Tae Ho dan semakin kencang tangisan So Hyun. Maka, dia akan semakin senang dan kegirangan, bukankah hanya orang gila yang seperti itu?
So Hyun hanya diam sementara keduanya berhubungan di atas ranjang, kedua tangannya memegang lututnya. Pandangannya diturunkan ke bawah. Saat itu, air matanya meleleh, menangis tanpa henti.  Setelah selesai, pria bertato itu akan membalikkan tubuh Tae Ho dan mencakar salah satu bagian tubuhnya. Terkadang, dia juga menjilat bekas lukanya dengan nafsu yang tidak ada habisnya.
Setelah itu, dia akan keluar dari kamar dan tertawa terbahak-bahak. Entah, apa yang dilakukan setan sepertinya. Ketika, So Hyun sudah akan mengangkat kepalanya, Tae Ho langsung berkata, “Bukankah sudah kubilang jangan melihat ke atas jika aku belum menyuruhmu?”
                So Hyun kembali menundukkan kepalanya.
                Ya, Tae Ho tidak ingin membiarkan So Hyun  boleh melihat alat vitalnya atau bagian tubuh  bagian bawah yang cedera parah. Tae Ho mengambil celananya dan dengan cepat memakainya. Belum lagi dia memakai baju, So Hyun sudah mengangkat kepalanya dan berdiri lalu memeluk Tae Ho serta menangis tersedu-sedu.
                Entah berapa lama semua itu terjadi.
                Entah berapa bulan atau mungkin berapa tahun...
                “Aku belum memakai bajuku...” kata Tae Ho perlahan. Tapi, So Hyun terus menangis. Tangannya menyentuh banyak sekali bekas cakaran di punggung Tae Ho. Tae Ho membiarkannya menangis. Sedikit banyak Tae Ho bersyukur karena, pria bertato itu sama sekali tidak menyentuh So Hyun.
                “Tak apa-apa So Hyun, ini tidak separah kemarin.” kata Tae Ho berbohong. Itu adalah kalimat yang selalu diucapkannya setiap hari. Karena, sangat bohong jika dia bilang keadaannya tidak separah kemarin, semakin lama tubuh segalanya menjadi bertambah parah.
 Tae Ho membiarkan adiknya menangis dan menyuruhnya untuk itu. Aku tak tahu apa ini hal yang benar atau tidak jika menurut ilmu psikologi. Tapi, So Hyun sudah melihat persetubuhan sesama jenis di usianya yang masih kanak-kanak. Pasti, itu akan menimbulkan kerusakan psikis yang luar biasa padanya. Karena itu, Tae Ho berusaha menterapi So Hyun semampunya.
Tae Ho membiarkan So Hyun berbicara apa saja. Tae Ho membiarkannya menangis dan –bahkan- ketakutan. Karena, aku tahu Tae Ho khawatir jika dia menyuruhnya diam. So Hyun akan merasa sangat tertekan atau lebih parahnya lagi, Tae Ho khawatir So Hyun akan menjadi gila.
                Tae Ho berusaha bertahan hanya demi ayah dan adiknya. Kalau bukan, karena mereka mungkin dia sendiri sudah menjadi gila. Tae Ho terus berusaha membuat dirinya tetap sadar. Aku tak boleh membiarkan diriku sendiri stress, frustasi apalagi sampai menjadi gila. Aku harus menjaga kepalaku agar tetap sehat  dan waras. Itulah yang selalu dikatakannya setiap waktu.
                Hanya dengan cara seperti itu, Tae Ho bisa mencari jalan agar bisa bebas dari sini. Hanya dengan bertahan dan membiarkan kepalanya tetap waras, dia bisa melakukannya. Meski, itu berarti dia  harus menikmati saat pria bertato itu menyetubuhinya.           



[1] Soju adalah minuman distilasi asal Korea. Sebagian besar merek soju diproduksi di Korea Selatan. Walaupun bahan baku soju tradisional adalah beras, sebagian besar produsen soju memakai bahan tambahan atau bahan pengganti beras seperti kentang, gandum, jelai, ubi jalar, atau tapioka (dangmil). Minuman ini bening tidak berwarna dengan kadar alkohol yang berbeda-beda, mulai dari 20% hingga 45% alkohol berdasarkan volume (ABV). Kadar alkohol yang paling umum untuk soju adalah 20% ABV.
[2] seperti bakpao, bisa dikukus dan bisa juga digoreng. Biasanya ada di musim dingin dan diisi dengan kacang merah, sayuran dll.
[3] mirip seperti egg muffin, makanan ini adalah roti gurih yang ditengahnya diisi telur. Biasanya, disajikan dalam keadaan hangat. mudah ditemukan di sekitar stasiun, pasar maupun sekolah.
[4] alias ubi rebus atau ubi panggang
[5] bibi.
[6] biasanya mulai dibuka sekitar pukul 10.00 pagi dan setiap satu jam sekali, permukaannya selalu dibersihkan dan dipoles agar tidak mengurangi kenyaman bermain ice skating.
[7] merupakan tempat yang paling banyak dihujani salju di Korsel , meski jaraknya  agak jauh dari seoul, tapi tetap menjadi tempat favorit saat musim dingin tiba.
[8] Taman Nasional Deokgyusan ini terletak menyeberangi Muju-gun dan Jangsu-gun,  Provinsi Jeollabuk-do dan  Geochang-gun, Provinsi Gyeongsangnam-do. Pegunungan yang sekaligus menjadi taman nasional ini, memiliki beberapa puncak yang melebihi 1000 meter diatas permukaan laut dengan Puncak Hangjeongbong (1.614 mdpl) sebagai pusatnya. pemandangan terbaik di pegunungan ini adalah  ketika seluruh permukaan pegunungan tertutupi oleh “karpet” salju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar