9
Seorang
pelayan membuka pintu tempat San dan Min Ho akan makan. Di dalamnya, tampaklah
Min Ho yang tak kalah tampan dan gagahnya dari San sendiri. Setelah menutup
pintu, para pelayan menyingkir dan pergi. Karena, memang itulah yang diinginkan
oleh Min Ho dan San.
“Tak
apa-apa kita pergi? Bagaimana, jika tamu wanitanya datang?” tanya salah seorang
pelayan. Pelayan yang lain menjawab dengan tidak perduli, “Sudah biarkan saja!
Kita cukup melakukan apa yang diminta pembeli. Toh, dia sendiri yang memintanya
dan lagipula, makanan sudah ada di sana. Kita pergi saja, jarang-jarang, kan
kita bisa bebas begini. Biasanya, kita harus melayani permintaa tamu sampai
malam...”
Pelayan-pelayan
yang lain menyetujui hal itu.
Di
dalam ruang makan yang mewah itu. San dan Min Ho sedang makan malam asyik. Aku
tak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi, mereka benar-benar tampak seperti
sepasang kekasih. Hanya saja, memang tidak ada wanita di sana.
“Kau
tidak memotong jenggotmu?” tanya Min Ho.
“Apa
perlu kupotong?” tanya Kim San. Dia memang membiarkan jenggot dan kumisnya agar
tetap tumbuh. Min Ho menggelengkan kepalanya, “Kau tampak keren.”
Kim
San tersenyum. Kemudian, dia menghentikan makanannya dan mengambil anggur merah
yang ada di dalam ember berisi es. Kemudian, membukanya dan menuangkannya ke
gelas besar. Dia memberikan satu gelas pada Min Ho dan San duduk di kursi yang
ada di dekat Min Ho.
“Mari
bersulang.” kata San.
San
dan Min Ho mengetuk ujung gelas mereka dan meneguk anggur merah itu
pelan-pelan. Mereka bercanda, mengobrol dan tertawa sampai anggur mereka habis.
Kemudian, saat San hendak mengambil botol anggur. Tangannya, ditahan oleh Min
Ho. Benar, dulu pun begitu, awalnya mereka hanya berpegangan tangan.
#####
Tae
Ho perlahan-lahan mulai mengerti apa yang dilakukan oleh ibu tirinya. Awalnya,
hanya pegangan tangan. Tapi, semakin lama, perbuatan mereka semakin berani.
Setiap kali ayah Tae Ho pergi, maka pria itu akan datang ke rumah Tae Ho dan
menghabiskan malam dengan ibu tirinya. Tae Ho ingin mengatakan pada ayahnya,
tapi Tae Ho terlalu takut. Tae Ho tak tahu, tapi dia selalu takut akan bahaya
yang seolah-olah mendekat ke arahnya, ke arah keluarganya.
Semua
pelayan yang dulu mengabdi pada keluarga Tae Ho dipecat. Digantikan dengan
pelayan-pelayan yang hanya mendengarkan apa perkataan ibu tiri Tae Ho. Pria
bertato itu, juga selalu berada di rumah. Dia berjalan kesana-kemari, seperti
binatang yang mencari mangsa.
Tae
Ho hanya bisa diam dalam ketakutan.
Sampai.
pada akhirnya bencana yang ditakuti Tae Ho benar-benar terjadi. Ayahnya, datang
lebih cepat dari yang diperkirakan oleh Tae Ho.
Dia baru pulang dari Jeju untuk keperluan bisnis. Ayahnya, membawa
begitu banyak oleh-oleh dari sana. Ketika dia pulang, wajahnya terlihat begitu
lelah.
“Mana
ibumu?” tanya ayahnya.
Tae
Ho tergagap, tak tahu apa yang mesti dikatakan.
“Apa
dia sakit?” tanya ayahnya mulai khawatir. Jelas, dia salah faham dengan
kegagapan Tae Ho. Tae Ho tahu, ayahnya mencintai wanita itu. Dengan mengatakan
yang sebenarnya, akan menghancurkan ayahnya. Tae Ho, takut.
“Aku....aku.....”
kata Tae Ho. Ayah Tae Ho mulai bertambah curiga, dia berjalan hendak ke
kamarnya, Tae Ho langsung menghalangi langkah ayahnya dan berteriak,
“Jangan!!!” Tapi, ayah Tae Ho justru bertambah khawatir, mungkin dalam
pikirannya, Jin Hee sakit dan melarang Tae Ho memberi tahunya.
Kemudian,
Jo Myung meninggalkan barang-barangnya dan berlari ke kamarnya. Saat, Jo Myung
membuka pintu, dia melihat mereka berdua. Melihat keduanya, tanpa pakaian. Di
atas tempat tidur miliknya. Melakukan,
sesuatu yang harusnya dilakukan bersama diri Jo Myung.
Kekhawatiran
Jo Myung berubah menjadi kemarahan.
Kim
Tae Ho, hanya bisa berdiri di belakang ayahnya, dengan badan menggigil
ketakutan.
“Kau
pulang lebih cepat, ya?” tanya ibu tiri Tae Ho terbangun. Dia berkata dengan
raut wajah santai sekali. Seolah-olah, yang dia lakukan hanyalah perbuatan
sepele. Park Jae Seong, juga memandangi ayah dengan senyuman meremehkan di
wajahnya, “Wah, kukira kita akan lebih cepat ketahuan. Padahal, kupikir anakmu
akan memberi tahumu lebih cepat. Dia lebih penakut dari yang kukira.”
Ayah
Tae Ho menarik pria itu dan menghajarnya sampai Jae Seong terbanting ke lantai.
Kemudian, dia bangkit kembali dan menghajar balik Jo Myung. Senyuman
tersungging di wajahnya, “Kenapa kau begitu terkejut?” Mereka berdua berkelahi,
sementara ibu tiri Tae Ho hanya memperhatikan mereka. Kemudian, dia melihat ke
arah belakang Tae Ho dan mengangguk.
Tae Ho membalikkan badannya dan
pria bertato itu bergerak dengan cepat. Dia membawa pemukul dan ketika Tae Ho
berteriak, “Ayah awas!”
Semua
sudah terlambat.
Pria
itu memukul kepala ayah Tae Ho sampai terjatuh tanpa daya. Pria bertato itu
terus memukul kepala dan leher Jo Myung sampai berkali-kali. Badan ayah
menghadapnya dan menatapnya, mulutnya berkata dengan lirih. Terlalu lambat
untuk bisa didengar, tapi Tae Ho bisa memahami maknanya.
“Selamatkan
So Hyun...”
Kim
Tae Ho berlari dan ketakutan.
Badannya gemetar.
“Apa yang harus kita lakukan
pada anak itu?” tanya pria bertato itu.
Iblis wanita itu hanya berkata,
“Kalau kau suka. Kau boleh melakukannya........”
10
Kim
San dan Min Ho sedang berjalan-jalan. Menikmati salju yang turun dengan
perlahan-lahan. Jung Woo sudah mereka minta pergi duluan, karena keduanya
sedang ingin berjalan-jalan saja. Seperti, pasangan-pasangan yang lain. Orang
lain pun, sepertinya melakukan hal yang sama. Ada yang duduk di warung tenda,
sambil menikmati berbotol-botol soju[1]. Ada
lagi yang berdiri di samping penjual hoppang[2].
Sementara, yang lain memilih berjalan cepat, mungkin pulang ke rumahnya setelah
penat bekerja seharian.
“Kau
mau beli apa?” tanya Min Ho di depan bibi penjual makanan. Kim San berdiri di
depan gerobak tepat disamping Min Ho, melihat-lihat apa saja yang dijual. Akhirnya, San memutuskan untuk membeli
beberapa buah gyeranppang[3],
sementara Min Ho lebih memilih membeli gun goguma[4].
“Terima
kasih, ahjumma[5].”
kata Min Ho.
Keduanya
kembali berjalan berduaan, Kim San berjalan sedikit lebih lambat. Dia menatap
Min Ho yang berjalan di hadapannya. Kemudian, tiba-tiba tanpa diduga, Min Ho
langsung berlari dengan kencang, “Kalau kau bisa, coba tangkap aku!” teriaknya.
San
tersenyum, kemudian berlari mengejar Min Ho.
Dulu,
San juga berlari.
Dalam
ketakutan.......
#####
Tae
Ho berlari dengan penuh rasa takut. Tangan dan kakinya bergetar hebat. Matanya
tak berhenti mengalirkan air mata. Tae
Ho, tak tahu apa yang akan dilakukannya nanti. Tapi, satu hal yang dia tahu.
Dia harus segera ke kamar So Hyun dan menyelamatkannya. Tae Ho berlari ke kamar
So Hyun dan membangunkannya. So Hyun yang waktu itu masih sangat kecil
mengeluh, “Aku masih mengantuk.” Tae Ho hanya bisa berkata, “Tak apa-apa.
Tidurlah dipelukanku!”
Tae Ho mengendongnya dan masuk
ke dalam lemari pakaian yang ada di dalam kamar So Hyun.
Mereka
bersembunyi di sana.
Tak lama kemudian pria bertato
itu masuk ke dalam kamar So Hyun. Tae Ho ketakutan dan menutup mulut So Hyun
dengan tangannya agar kami tidak ketahuan. Pria itu melihat ke sekeliling dan
saat Tae Ho lihat dia melangkahkan
kakinya pergi. Tae Ho membuka pintu lemari dengan perlahan. Tapi, bahkan, saat
mereka belum keluar dari lemari sepenuhnya.
Tiba-tiba pria bertato itu
muncul dan tersenyum girang.
Senyumannya, seperti senyuman
orang gila.
Sejak awal dia tahu Tae Ho ada
di dalam lemari. Tapi, dia bersembunyi dan membiarkan Tae Ho sendiri yang
keluar. Tae Ho sendiri yang menghampiri kehancurannya. Dia menarik tubuh kecil
Tae Ho keluar dari lemari. Tae Ho berusaha memeluk So Hyun agar tidak jatuh
dengan sekuat tenaga.
Tapi, pria bertato itu memukul
Tae Ho tanpa ampun sampai dia
terjengkang ke belakang. So Hyun yang terlepas dari pelukan Tae Ho
terjatuh ke lantai. Dia mulai menangis. Pria bertato itu menarik So Hyun dalam
satu tarikan dan membenturkannya ke dinding. Lalu, merobek gorden kamar dan
melilitkannya di kaki, tangan dan mulut So Hyun.
Tae Ho berusaha bangkit dan
memukuli pria itu.
“Lepaskan adikku! Lepaskan!”
teriaknya.
Menurut kalian, apa yang bisa
dilakukan bocah berusia sembilan tahun dengan tangan yang kecil?
Tak ada.
Pria bertato itu menghajarnya
dan membenturkan badannya ke dinding. Dia mengunci pintu kamar dan menatap Tae
Ho dengan mata penuh nafsu seks. Pria bertato itu, gay. Tidak, tidak hanya itu.
Dia juga maniak seks dan seorang pengidap pedofilia. Dia berkata, “Ibu tirimu
memerintahkanku agar tidak membunuhmu. Dia ingin agar kau tetap hidup dan bisa
melihat penderitaan yang akan terjadi pada ayahmu. Tapi, selebihnya dia
membolehkanku melakukan apapun padamu.”
Dia memakai sebuah cincin
berwarna emas dengan ujung yang tajam seperti cakar di jari tengahnya.
Kemudian, dia melepaskan pakaiannya perlahan-lahan. Kim Tae Ho ketakutan dan
memundurkan badannya dengan wajah penuh air mata. Dia tak tahu apa yang akan
terjadi, dia terlalu kecil untuk mengerti, tapi dia tahu itu pasti hal yang
buruk.
“Jangan mendekat..... jangan
mendekat.....” katanya.
Pria bertato itu mengeluarkan
lidahnya dan menjilat bibirnya, dia
menatap Tae Ho yang ketakutan dengan girang, “Kau sangat tampan sekali.
Sejak awal aku sudah menyukaimu.”
Setelah dia melepaskan semua pakaiannya. Dia
melakukan perbuatan kejinya pada Tae Ho. So Hyun yang saat itu menangis melihat
semua kejadian itu dengan mata kecilnya. Aku tak akan menceritakan detail
peristiwa itu pada kalian. Cukuplah detail peristiwa itu kusimpan baik-baik
dalam ingatanku. Tapi, satu hal yang pasti, pria bertato itu telah menimbulkan
kerusakan yang parah pada psikologis kedua anak itu. Tapi, tentu saja, Tae
Ho-lah yang kerusakannya paling parah.
Suatu
kekejian luar biasa yang merusaknya lahir dan batin.
11
Awal
Januari, musim dingin di Seoul.....
Kim
San berdiri memandangi kota Seoul lewat kaca. Dia tidak sedang berada di
apartemennya, melainkan berada di hotel mewah berbintang lima. Di tangannya,
ada segelas anggur merah yang tinggal tersisa sedikit. Dia tidak mengenakan
pakaian, hanya celana hitamnya saja yang masih dipakainya.
Di
punggungnya, banyak sekali bekas luka cakaran.
Kim
San memandangi bangunan-bangunan yang bercahaya di waktu malam. Sebagian sudah
tertutupi salju sehingga hanya terlihat putih saja. Bagiku, Seoul kota yang
cukup indah, apalagi ketika salju-salju mulai turun. Di beberapa jalanan, akan
dipasangi hiasan berbentuk kristal salju yang bercahaya. Seoul Plaza juga akan
berubah fungsi menjadi tempat ice skating[6].
Orang-orang akan bermain di sana dengan senang, sementara, sebagian orang lain
lebih memilih pergi bermain ski di Gangwon-do[7].
Meski,
begitu, Kim San selalu ingin pergi dari tempat ini. Ke tempat yang jauh sekali.
Ke tempat, dimana dia bisa merasakan ketenangan dan kenyamanan. Kim San, tak
pernah pergi dari negeri ini, karena ayahnya yang koma sudah tak mungkin lagi
dibawa pergi.
San
meneguk anggurnya perlahan-lahan...
Sejak
pemukulan itu, ayahnya tak pernah sadarkan diri lagi. Pria bertato itu sudah
merusak sistem syaraf Jo Myung. Otak dan sumsum tulang belakangnya mengalami
kerusakan permanen, tidak hanya membuatnya lumpuh seumur hidupnya. Tapi, juga
kehilangan kesadarannya.
Tiba-tiba
sebuah tangan memeluk tubuh San dari belakang.
“Kau
sedang memikirkan apa?” tanya Min Ho, dia meletakkan kepalanya di bahu San.
“Tidak memikirkan apa-apa. Hanya, ingin melihat betapa indahnya kota Seoul di
malam hari.”
“Kau mau jalan-jalan? Bagaimana,
kalau kita ke Deokgyusan[8]?” tanya
Min Ho. “Kita bisa mendaki ke sana dan melihat hamparan salju yang indah
sekali. Kau pasti suka.”
“Bulan
ini, aku tidak bisa pergi kemana-mana.” kata Kim San. “Pekerjaanku banyak
sekali dan aku juga tak yakin bisa mendaki.”
“Kau
masih belum mau menceritakan rahasiamu, ya?”
“Rahasia
apa?” tanya San.
“Tubuhmu
yang penuh dengan luka. Kau tidak pernah menceritakan alasannya.” kata Min Ho.
Dia menyentuh salah satu bekas cakaran itu dengan lembut, selama sembilan tahun
hubungan mereka. Tak pernah sekalipun, Kim San menceritakan apa yang membuatnya
terluka. Kim San juga tak pernah minum-minuman keras, kecuali hanya wine yang
tidak terlalu memabukkan.
San
menghabiskan minumannya. dan melepaskan pegangan Min Ho. Setelah, meletakkan
gelasnya di atas meja, dia berjalan kembali ke arah Min Ho.
“Kau
mau melakukannya?”
“Boleh
saja...” kata Min Ho.
Kim
San mencium Min Ho sebagai awal untuk memulai hubungan intim mereka.
Maukah
kalian tahu jawaban dari pertanyaan Min Ho? Bekas cakaran di punggung San,
adalah bekas cakaran dari cincin tajam yang dulu digunakan pria bertato itu.
Setiap kali, dia melakukannya pada San. Dia akan mencakar kulit San, beberapa
luka tampak lebih dalam dari yang lain. Karena, pria itu terkadang mencakar di
tempat yang sama.
Sementara,
alasan kenapa San tidak mau mabuk, adalah karena dia tak ingin lupa pada balas
dendam yang sudah menjadi tujuan hidupnya.
#####
Sejak
peristiwa itu, Grup DK diambil alih oleh Choi Jin Hee dan Park Jae Seong. Dia
dan selingkuhannya berpindah ke tempat lain yang lebih bagus dan juga lebih
mewah. Semua pelayan itu juga ikut ke rumah mereka berdua yang baru. Kecuali,
sepasang suami-istri tua yang mungkin sudah berumur tujuh puluhan. Mereka
berdua disuruh tinggal di rumah lama. Begitu juga, si pria bertato itu tetap
tinggal di sini untuk mengawasi ayah San yang sekarat.
Jin
Hee hanya pernah membawa ayah Tae Ho sekali ke dokter. Tapi, setelah itu dia
tidak pernah melakukannya.
Tae Ho tahu, satu-satunya alasan
membawanya ke dokter waktu itu. Hanya agar dia bisa mengambil alih Grup DK.
Karena, dengan keterangan dari dokter. Pihak perusahaan bisa percaya jika ayah
Tae Ho memang sakit parah dan sudah tidak mungkin lagi untuk memimpin
perusahaan. Setelah itu, tak pernah ada lagi dokter. Ayah Tae Ho hanya dirawat
oleh sepasang suami istri tua itu dan sebagai ‘makanan’ untuknya, hanya
infus yang diganti setiap berkala. Dokter hanya akan datang jika ayah Kim San
benar-benar mengalami kondisi kritis dan
setelah itu, semua kembali seperti sedia kala.
Mungkin,
kalian ada yang bertanya, bagaimana mungkin Tae Ho tahu?
Sementara,
dia dikurung di kamar bersama adiknya. Hanya diberi makanan hewan dan minum
dari kamar mandi? Jawabannya, sederhana, pria bertato itulah yang memberi
tahunya.
Karena,
setiap kali ‘keduanya’ melakukan hubungan intim. Dia sengaja memberi tahu Tae
Ho agar membuatnya tersiksa. Pria bertato itu adalah pria yang kasar, pemabuk,
hyperseks dan juga psikopat yang gila. Dia tak merasa bersalah sedikitpun atas
apa yang dia lakukan, semakin kesakitan Tae Ho dan semakin kencang tangisan So
Hyun. Maka, dia akan semakin senang dan kegirangan, bukankah hanya orang gila
yang seperti itu?
So Hyun hanya diam sementara
keduanya berhubungan di atas ranjang, kedua tangannya memegang lututnya.
Pandangannya diturunkan ke bawah. Saat itu, air matanya meleleh, menangis tanpa
henti. Setelah selesai, pria bertato itu
akan membalikkan tubuh Tae Ho dan mencakar salah satu bagian tubuhnya.
Terkadang, dia juga menjilat bekas lukanya dengan nafsu yang tidak ada
habisnya.
Setelah itu, dia akan keluar
dari kamar dan tertawa terbahak-bahak. Entah, apa yang dilakukan setan
sepertinya. Ketika, So Hyun sudah akan mengangkat kepalanya, Tae Ho langsung
berkata, “Bukankah sudah kubilang jangan melihat ke atas jika aku belum
menyuruhmu?”
So
Hyun kembali menundukkan kepalanya.
Ya,
Tae Ho tidak ingin membiarkan So Hyun
boleh melihat alat vitalnya atau bagian tubuh bagian bawah yang cedera parah. Tae Ho
mengambil celananya dan dengan cepat memakainya. Belum lagi dia memakai baju,
So Hyun sudah mengangkat kepalanya dan berdiri lalu memeluk Tae Ho serta
menangis tersedu-sedu.
Entah
berapa lama semua itu terjadi.
Entah
berapa bulan atau mungkin berapa tahun...
“Aku
belum memakai bajuku...” kata Tae Ho perlahan. Tapi, So Hyun terus menangis.
Tangannya menyentuh banyak sekali bekas cakaran di punggung Tae Ho. Tae Ho
membiarkannya menangis. Sedikit banyak Tae Ho bersyukur karena, pria bertato
itu sama sekali tidak menyentuh So Hyun.
“Tak
apa-apa So Hyun, ini tidak separah kemarin.” kata Tae Ho berbohong. Itu adalah
kalimat yang selalu diucapkannya setiap hari. Karena, sangat bohong jika dia
bilang keadaannya tidak separah kemarin, semakin lama tubuh segalanya menjadi
bertambah parah.
Tae Ho membiarkan adiknya menangis dan
menyuruhnya untuk itu. Aku tak tahu apa ini hal yang benar atau tidak jika menurut
ilmu psikologi. Tapi, So Hyun sudah melihat persetubuhan sesama jenis di
usianya yang masih kanak-kanak. Pasti, itu akan menimbulkan kerusakan psikis
yang luar biasa padanya. Karena itu, Tae Ho berusaha menterapi So Hyun
semampunya.
Tae Ho membiarkan So Hyun
berbicara apa saja. Tae Ho membiarkannya menangis dan –bahkan-
ketakutan. Karena, aku tahu Tae Ho khawatir jika dia menyuruhnya diam. So Hyun
akan merasa sangat tertekan atau lebih parahnya lagi, Tae Ho khawatir So Hyun
akan menjadi gila.
Tae
Ho berusaha bertahan hanya demi ayah dan adiknya. Kalau bukan, karena mereka
mungkin dia sendiri sudah menjadi gila. Tae Ho terus berusaha membuat dirinya
tetap sadar. Aku tak boleh membiarkan diriku sendiri stress, frustasi
apalagi sampai menjadi gila. Aku harus menjaga kepalaku agar tetap sehat dan waras. Itulah yang selalu
dikatakannya setiap waktu.
Hanya
dengan cara seperti itu, Tae Ho bisa mencari jalan agar bisa bebas dari sini.
Hanya dengan bertahan dan membiarkan kepalanya tetap waras, dia bisa melakukannya.
Meski, itu berarti dia harus menikmati
saat pria bertato itu menyetubuhinya.
[1]
Soju adalah minuman distilasi asal Korea. Sebagian besar merek soju diproduksi
di Korea Selatan. Walaupun bahan baku soju tradisional adalah beras, sebagian
besar produsen soju memakai bahan tambahan atau bahan pengganti beras seperti
kentang, gandum, jelai, ubi jalar, atau tapioka (dangmil). Minuman ini bening
tidak berwarna dengan kadar alkohol yang berbeda-beda, mulai dari 20% hingga
45% alkohol berdasarkan volume (ABV). Kadar alkohol yang paling umum untuk soju
adalah 20% ABV.
[2]
seperti bakpao, bisa dikukus dan bisa juga digoreng. Biasanya ada di musim
dingin dan diisi dengan kacang merah, sayuran dll.
[3]
mirip seperti egg muffin, makanan ini adalah roti gurih yang ditengahnya diisi
telur. Biasanya, disajikan dalam keadaan hangat. mudah ditemukan di sekitar
stasiun, pasar maupun sekolah.
[4]
alias ubi rebus atau ubi panggang
[5]
bibi.
[6]
biasanya mulai dibuka sekitar pukul 10.00 pagi dan setiap satu jam sekali,
permukaannya selalu dibersihkan dan dipoles agar tidak mengurangi kenyaman
bermain ice skating.
[7]
merupakan tempat yang paling banyak dihujani salju di Korsel , meski
jaraknya agak jauh dari seoul, tapi
tetap menjadi tempat favorit saat musim dingin tiba.
[8]
Taman Nasional Deokgyusan ini terletak menyeberangi Muju-gun dan
Jangsu-gun, Provinsi Jeollabuk-do
dan Geochang-gun, Provinsi
Gyeongsangnam-do. Pegunungan yang sekaligus menjadi taman nasional ini,
memiliki beberapa puncak yang melebihi 1000 meter diatas permukaan laut dengan
Puncak Hangjeongbong (1.614 mdpl) sebagai pusatnya. pemandangan terbaik di
pegunungan ini adalah ketika seluruh
permukaan pegunungan tertutupi oleh “karpet” salju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar