baru

Kamis, 30 April 2015

wangja 19-21

19
                Kim San berada di apartemen pribadi miliknya. Bukan, apartemennya bersama Min Ho. Melainkan, apartemen yang benar-benar miliknya. Kim San duduk di sebuah sofa berwarna putih. Dia mengenakan sweter hangat berwarna abu-abu dan celana hitam panjang. Ada sebotol anggur yang tidak terlalu keras di atas meja di hadapannya. Seperti, yang kukatakan, Kim San sama sekali tidak suka minum-minuman keras yang membuatnya mabuk.
                Dia meletakan gelas  di atas meja, meski anggurnya masih tersisa banyak. San berjalan ke sebuah lemari kaca dan mengambil sebuah kotak kayu yang kecil. Kemudian, dia duduk kembali di sofa. San membuka kotak itu, di dalamnya ada cincin berbentuk cakar yang dulu digunakan pria bertato itu. San mengambil benda itu dan memakainnya di jari tengahnya.
                Kim San tersenyum.
                “Dulu, aku tak bisa menggunakannya karena terlalu besar. Sekarang, benda ini sepertinya sangat cocok untukku.” kata San pada dirinya sendiri.
                Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
                “Apa kau akan pulang? Aku sudah menyiapkan makanan enak untumu.” kata Min Ho di ujung telepon. Kim San berkata dengan terkejut, “Benarkah? Ah... kau harusnya bilang lebih awal. Jadi, aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat. Tapi, sekarang, pekerjaanku di kantor masih sangat banyak. Aku tak yakin bisa pulang malam ini...”
                Terdengar suara kecewa Min Ho.
                “Maaf. Kukira kau tak ada pekerjaan. Tadinya, aku ingin memberimu kejutan.” kata Min Ho. Kim San tidak memperdulikannya, dia mengetuk-ngetukkan cakar yang ada jari tengahnya ke meja.
                “Apa aku harus datang?” tanya San.
                “Tidak. Tidak usah, nanti saja kita makan malamnya. Selesaikanlah dulu pekerjaanmu.” kata Min Ho. “Tapi, suara apa itu?”
                “Ah, bukan apa-apa.” kata Kim San dengan santai. Setelah itu, dia menutup teleponnya.
                Kim San mengangkat kakinya dan meletakannya di atas meja. Dia menyandarkan kepalanya di sofa dan memejamkan matanya. Senyum tak berhenti tersungging dari mulutnya. Sebentar lagi, aku akan menguasai Grup DK. Hanya tinggal sebentar lagi......
20
                London, musim dingin masih di bulan Januari........
                Harga dari sebuah kehidupan adalah perjuangan.
                Aku sudah lama meyakininya. Aku sekarang sedang berjuang sekuat tenaga agar bisa menyelesaikan sesuatu yang telah aku mulai. Sebentar lagi, aku mungkin akan bisa menyelesaikan akhirnya, meski aku sendiri tak tahu apa aku akan mendapatkan hasil yang maksimal atau tidak dari kerja kerasku ini.
Kim San menatap salju yang turun semakin lama semakin banyak. Setelah, pembicaraan mereka waktu itu, sekarang Jung Woo sudah benar-benar kembali seperti biasa....
                Orang-orang berlalu-lalang di jalanan. Para wanita-wanita berambut pirang berjalan dengan cepat. Di tangan mereka, Kim San bisa melihat banyaknya belanjaan yang mungkin akan mereka persiapkan untuk keluarga mereka. Sementara, para pria berjalan dengan lebih cepat lagi. Pasti, mereka ingin cepat pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing. Asap muncul saat mereka bernafas, menandakan suhu musim dingin di London pasti sangat rendah.
                Kim San akan menemui salah seorang pemegang saham yang cukup besar di Grup DK. Kim San sendiri agak terkejut karena, dialah yang menghubunginya lebih dulu. Padahal, bahkan saat ada rapat pemegang saham, biasanya dia hanya akan diwakilkan. Pasti, ada sesuatu yang sedang terjadi padanya.
 Nama pria itu, Christian Severe IV.
Dia adalah pewaris tunggal Severe Enterprise. Salah satu, perusahaan paling terkemuka di dunia. Wajahnya sangat tampan, lajang dan menjadi pria paling diincar di seluruh dunia. Banyak yang bilang, jika ada seribu malaikat yang memahat wajahnya. Matanya berwarna biru dan tubuh sempurna. Dia kaya, tampan dan mengagumkan.  Kim San pun mengakui untuk ukuran manusia –seperti juga yang selalu dikatakan banyak orang- dia sangat sempurna.
Jung Woo menghentikan mobilnya dan seorang pria dengan sigap membukakan pintu untuknya. Kim San keluar dari dalam mobil. Kemudian, berjalan masuk ke dalam hotel.
#####
                Seperti yang diduga, San. Tempat menginap Christian Severe IV bukanlah tempat sembarangan. Kamarnya sangat megah dan semuanya berwarna putih. Kamarnya terdiri dari tiga ruangan besar dengan barang-barang kualitas nomor satu. Satu tempat tidur, ruang santai dan juga ruang makan yang tak kalah luasnya. Mungkin, tempat ini lebih pantas disebut rumah daripada kamar.
                Christian Severe IV duduk dengan santai di salah kursi. Seperti yang kuduga, dia lebih tampan jika dilihat aslinya. Matanya yang berwarna biru cemerlang memperlihatkan kecerdasan alaminya yang tak terbantahkan. Dia mengenakan baju hangat dan celana panjang yang cukup tebal. Tangannya yang satu lagi memegang segelas wine yang hampir habis. Kim San tak tahu kenapa dia minum di saat seperti ini.
                “Silahkan duduk.” katanya dengan bahasa Inggris dengan aksen amerika. Kim San duduk di sebuah kursi di hadapannya. Ada dua hal yang tak bisa San abaikan saat melihat Christian Severe IV secara langsung. Pertama, anting salibnya yang legendaris. Anting yang menjadi simbol penguasaan Severe Enterprise secara mutlak, sama seperti mahkota bagi raja. Anting itu ternyata lebih besar dari dugaan Kim San, meski ukiran pada anting itu memang sangat indah.
                Banyak yang bilang anting itu terbuat dari emas murni dua puluh empat karat –entah benar atau tidak-  yang tak akan hancur meski di simpan selama ratusan tahun atau meski tenggelam di dasar lautan sekalipun. Jika, diuangkan, mungkin, cukup untuk membeli sebuah negara.
                Hal kedua, yang menjadi bahan perhatiannya adalah sebuah luka kecil di keningnya. Tidak hanya itu, tangannya pun sedikit terluka.
                Di sampingnya, ada seorang pria yang berkulit sawo matang. Menurut, perkiraan San, pria itu pasti berasal dari Asia Tenggara. Mungkin, Indonesia. Tapi, bisa juga Malaysia. Karena, jelas sekali jika dia adalah  seorang melayu. Wajahnya lumayan manis, matanya hitam dan tubuh yang kurus. Sama seperti, Christian Severe, pada dirinya juga terdapat beberapa luka.
                “Anda terlihat lebih santai dari yang aku duga.” kata San. Tentu, memang ini bukan pertemuan resmi. Tapi, San tak menyangka jika dia benar-benar akan kelihatan begitu santai. Bahkan, sempat minum wine pula. Dia menatap San, dan berkata dengan halus, “Apa Anda mau minum?”
                Kim San menggelengkan kepalanya,  “Saya tidak minum.”
                Christian Severe IV adalah pria yang sudah terkenal plaboy. Tapi, saat melihatnya sekarang, Kim San sedikit meragukan hal itu. Jika, melihatnya yang sering membuang-buang uang demi berhura-hura dan gosipnya dengan banyak wanita. Pasti, akan timbul sedikit penilaian jika dia adalah pria yang bodoh atau malah mungkin menjadi meremehkannya. Hanya saja, di mata Kim San yang dilihatnya sekarang adalah pria yang santai namun jelas sangat serius dan tak bisa dipandang sebelah mata.
                “Anda terluka?” tanya San memulai pembicaraan.
                “Ah.. ini? Hanya sedikit luka kecil.” katanya. Dia menatap balik San, “Apa Anda sudah menyiapkannya?”
                “Ya.” kata Kim San. Jung Woo mengerti dan segera menyerahkan surat perjanjiannya  pembelian saham pada Christian. Dia mengambilnya dan menatapnya sebentar. Kemudian, dia menandatanginya tanpa ragu. Setelah itu, seorang pria yang dari tadi sudah berdiri di sampingnya juga menyerahkan surat perjanjian miliknya. Kim San juga dengan segera menandatanganinya.
                Setelah itu, semua selesai dan Kim San berpamitan untuk pulang.
                Aku tahu ada yang aneh pada mereka.
                Tapi, baik aku atau pun San memilih untuk tidak memikirkannya.
21
                Dua hari kemudian di sebuah rumah kecil di pulau Jeju[1]...
                Nama wanita itu adalah Ma Ae Ri. Seorang wanita tua berusia enam puluh tujuh tahun. Rambutnya pendek dan hanya sedikit yang beruban. Badannya kecil, tapi sehat. Juga, masih begitu semangat untuk bekerja di perusahaan. Dia hanya tinggal seorang diri, karena suaminya sudah meninggal dan kedua anaknya sudah menikah, lalu memutuskan untuk tinggal di luar negeri.
                Meski, tergolong kaya, tapi Ae Ri hanya tinggal di sebuah rumah sederhana di dekat tebing di pulau Jeju. Saat, Kim San datang, Ae Ri sedang kesulitan mengangkat beberapa buah kayu bakar untuk mengisi pemanas di rumahnya. Meski, sebenarnya dia mampu untuk membeli pemanas sentral. Kim San segera mengambil kayu-kayu yang dipikul Ae Ri dan wanita tua itu pun membiarkan San melakukannya.
                “Ah...untung kau datang anak muda...” katanya.
                “Lagipula, aku tidak mengerti. Kenapa kau selalu mengerjakan semua ini sendiri. Kau kan mampu membeli pemanas sentral.” kata Kim San.
                Bukk!
                Ae Ri memukul lengan Kim San. Kim San meringis, Ae Ri mengomel seperti layaknya nenek-nenek, “Kau berani tidak sopan padaku! Anak muda zaman sekarang sangat memalukan!”
                “Maaf...maaf...” kata San mengalah. Kim San memang pergi sendirian. Jung Woo hanya mengantarnya sampai ke sini. Tapi, setelah sampai San memintanya agar pergi dan menjemputnya lagi besok. Kim San membawa kayu-kayu ke dalam rumah.
                “Masukkan saja kayu itu ke dalam! Aku kedinginan.” katanya sambil membuka sarung tangannya. Kim San melakukan seperti yang diminta oleh Ae Ri dan api yang muncul di perapian semakin besar. Kehangatan mulai menyebar ke seluruh ruangan. Ae Ri masuk ke dapurnya, membuka oven dan mengeluarkan makanan.
                “Sini makanlah!”
                 Ae Ri dengan sigap meletakkan pai apel di piring besar dan memotongnya. Lalu, memberikan potongan yang besar untuk San. Kim San sudah akan memprotes, tapi wanita itu malah melotot dan berkata dengan tajam, “Sudah makan saja! Apa kau tidak tahu orang-orang di negara miskin sana dengan senang hati akan memakan makananmu itu!”
                Kim San tidak jadi berbicara dan lebih memilih menutup mulut rapat-rapat.
                Ae Ri mengambil sebuah gelas besar dan memasukkan jus jeruk hangat ke dalamnya. Kim San meminumnya dengan perlahan-lahan dan juga menikmati kehangatan yang muncul dalam tenggorokannya. Ae Ri hanya mengambil sedikit potongan pai dan memakannya. Setelah itu, dia menuangkan jus jeruk hangat ke dalam gelas dan meminumnya sambil memandangi Kim San.
                Sesaat, keduanya makan dalam diam.
                Sampai, akhirnya Ae Ri berbicara lebih dulu.
                “Sudah lama sekali sejak kau kabur dari rumahmu, ya?”
                “Begitulah...” kata San.
                Dia menghela nafas panjang, “Gara-gara kau Sung Ran yang menjauhkan dirinya dari keluargaku. Akhirnya, meneleponku lagi dan memohon agar melindungimu.” katanya. Kalian ingat kakek-nenek yang membantu Kim San dan So Hyun kabur? Nama nenek itu adalah Joo Sung Ran, sedangkan nama sang kakek adalah Do Suk Chul. Sung Ran adalah satu-satunya kakak  yang dimiliki Ae Ri.
                Sung Ran yang berasal dari keluarga kaya tadinya akan diwarisi kekayaan yang berlimpah dengan syarat agar mau menikah dengan  pria pilihan keluarganya. Tapi, Sung Ran tidak mau dan lebih memilih menikah dengan seorang pria miskin bernama Do Suk Chul.  Karena itu, dia diusir dan hidup miskin.
 Sekarang, kedua kakek dan nenek itu sudah meninggal tanpa meninggalkan seorang anak pun.
                “Aku sering iri padanya yang berani menerima berbagai cobaan hidup demi cinta. Seandainya, aku bisa seperti dia.” katanya dengan perlahan, “Karena itu, saat dia meneleponku untuk pertama kalinya sejak sekian lama. Aku langsung membantumu seperti yang dia minta. Aku menjagamu dan keluargamu agar jangan sampai diketahui oleh ibu tirimu. Tapi, semuanya menjadi sia-sia saat mereka akhirnya meninggal.”
                “Tak ada yang sia-sia.” kataku sambil memakan pai milikku.  “Aku akan membalas perbuatan mereka pada keluargaku.”
                Ae  Ri menghela nafas panjang, “Kau  tahu aku tidak suka caramu, Nak. Kau mau membalas dendam lewat orang tak bersalah. Tapi, sekarang sudah tidak mungkin lagi menghentikanmu.” Ae Ri berjalan ke salah satu sudut dapur dan mengeluarkan sebuah map. Lalu, menjatuhkannya di dekatku. “Ini saham yang kau minta. Meski, selama beberapa tahun ini terakhir ini aku berusaha menghentikanmu untuk balas dendam. Kau tetap tidak mau menurut.” katanya. “Saat aku akan membayar semua tagihan rumah sakit. Kau menolaknya dengan keras dan tetap membayarnya dengan hasil pekerjaanmu. Kau hanya mau jika aku membantumu menyembunyikan keberadaan ayahmu.”
                Kim San berkata dengan nada datar, “Itu karena aku tidak percaya padamu. Aku tidak percaya pada wanita manapun.”
                Ae Ri tahu Kim San gay.
                “Lalu, siapa yang kau percaya?”
                Kim San menghabiskan semua pai dan jusnya dengan cepat. Lalu, menatapnya sambil berkata, “Uang.”
Kim San kembali berkata, “Hanya uang yang kupercaya. Uang tidak pernah menghinatiku. Bukan polisi atau hakim yang menghakimi. Tapi, uanglah yang menjadi hakim di dunia ini. Uanglah yang menjadikan manusia itu baik atau buruk. Hanya uang. Uanglah yang menentukan derajat manusia menjadi baik atau buruk. Uanglah yang bisa menentukan nasib seseorang.”
Ae Ri mendekatiku dan memeluknya.
                “Setelah, sekian lama, kau masih tetap tak percaya padaku. Meski, aku menyerahkan semua yang aku miliki. Kau masih tetap tak percaya padaku. Kau berubah menjadi pria yang jahat dan kejam demi balas dendam.” katanya dengan nada perlahan.
Air mata mengalir dari matanya.  Tapi, hati San tetap saja dingin dan tidak memberikan respon apapun. Hatinya sudah mati. Kim San tak percaya pada siapapun, atas dasar apapun. “Berat sekali semua cobaan yang kau terima. Sampai, membuatmu menjadi manusia yang seperti ini. Manusia yang berdarah dingin dan tak segan melakukan apapun demi mendapatkan apa yang kau inginkan. .....”
                Kim San tidak memegang balik lengannya.
                Dia hanya berkata, “Ya. Kehidupan telah merenggut segalanya milikku. Menyebabkan, aku menjadi manusia berdarah dingin. Dendamku pada ibu tiriku, berubah menjadi nafsu yang merubahku menjadi iblis. Nafsu itulah yang mendorongku untuk melakukan semua kejahatan, membuatku tak segan melakukan apapun demi mendapatkan yang kuinginkan. Termasuk membunuhmu jika kau berani menghalangiku...”



[1] Pulau Jeju adalah pulau wisata paling terkenal di Korea, bahkan orang Korea menyebut dengan istilah “Pulau Bali“-nya Korea. Di Pulau tersebut terdapat Gunung Halla, yaitu gunung tertinggi di Korea Selatan. Pulau Jeju merupakan wilayah yang paling hangat dan pada musim dingin sangat jarang turun salju, sehingga tanaman-tanaman yang biasanya tumbuh di daerah subtropis bisa bertahan hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar