6
“Direktur....”
suara Jung Woo masih terdengar di pintu. Min Ho yang membuka pintu. Jung Woo
sedikit terkejut, tapi akhirnya dia
terlihat tenang kembali. Min Ho mengambil pakaian San dan membiarkan Jung Woo
masuk ke dalam ruangan. Jung Woo tahu situasi, dia menutup pintu agar tak ada
satu pun orang yang masuk ke dalam kantor.
Min
Ho membuka plastik yang melindungi pakaian San dan mengambil pakaian yang tadi
terbungkus plastik. Kim San langsung berdiri dan membiarkan Min Ho memakaikan
pakaian untuknya. Juga, memakaikan dasi dan terakhir, menutupinya kembali
dengan jas hitam. Jung Woo memalingkan wajahnya agar tidak melihat hal itu,
meski, Jung Woo sudah tahu sejak lama orientasi seksual San. Aku tahu, selalu
ada perasaan jijik yang terpancar dari hatinya.
Aku
sangat memaklumi hal itu. Saat, Min Ho mengancingkan jas San, matanya menatap
salah satu kancing San. Kesedihan terlihat begitu jelas terpancar dari matanya,
“Oppa, aku mohon. Lain kali, jangan terluka lagi.....”
Kepala
Min Ho bergerak ke depan dan bersandar di dada San, air matanya berjatuhan saat
berkata, “Dangsin eopsi motsaleoyo.[1]”
#####
Mobil
melaju dengan tenang, Jung Woo yang melakukannya dengan sengaja agar San tidak
terlalu merasa kesakitan. Meski, tidak memperlihatkannya, Jung Woo yakin kepala
San pasti masih terasa sakit. Apalagi, ketika di dalam mobil, Jung Woo melihat
San lebih memilih menyandarkan kepalanya ke kursi dan memejamkan matanya.
Menurutku,
Jung Woo adalah asisten yang baik. Dia tahu apa yang harus dikatakan dan apa
yang tidak perlu dikatakan. Bukan berarti, dia tidak perduli, tapi dia tahu
bahwa tak semua orang –saat berada dalam masalah- senang dinasehati atau
dikuliahi macam-macam. Terkadang, ada sebagian orang yang lebih memilih diam
dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Kim
San adalah pria yang seperti itu.
Musim
dingin sudah tiba, jalanan mulai ditutupi oleh salju dan tampak putih. Aku
senang dengan salju, meski akibatnya suhu bisa turun dengan sangat drastis.
Orang-orang mulai mengenakan pakaian hangat dan tak sedikit yang memasukkan
tubuhnya pada berlapis-lapis pakaian.
Mobil
San melaju dengan tenang, melewati
toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan. Ada sebuah toko yang dikerubungi
remaja-remaja wanita. Entah, apa yang mereka lihat, mungkin pakaian baru atau mungkin juga sepasang
sepatu hak tinggi berwarna merah yang didiskon. Sementara, beberapa pria tampak
berjalan melewati mereka. Pria-pria itu ditindik, badan tinggi, dan rambut yang
dicat pirang, mungkin meniru idola-idola korea yang sedang mendunia saat ini
Meski, kelihatan jantan, siapa tahu ada salah
satu dari mereka yang seperti San dan Min Ho.
Seorang gay, siapa yang tahu....[2]
Mobil
berhenti di sebuah rumah sakit di pinggiran kota Seoul. Rumah sakit itu tidak
terlalu besar, malah tergolong kecil untuk ukuran rumah sakit kota. Hanya
terdiri, dari dua tingkat saja. Tapi,
dikelilingi dengan pepohonan yang tertutup salju.
“Kita sudah sampai direktur.”
kata Jung Woo. Kemudian, Kim San membuka pintu dan keluar dari mobil. Lalu, berjalan
masuk ke dalam rumah sakit. Begitu masuk ke dalamnya, bau khas rumah sakit
langsung masuk ke dalam hidung. Tapi, Kim San sudah terbiasa dengan bau itu.
Kim San tidak menuju ke resepsionis, melainkan langsung berjalan membelok dan masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai
dua. Setelah sampai di kamar yang ditujunya, Kim San membuka pintu dan masuk ke
dalamnya.
Ada seorang wanita yang duduk di
dekat ayah San yang sudah sangat kurus. Wanita itu cantik dan berambut panjang.
Tapi, ada kesedihan mendalam di hatinya. Han Da Jung melihat ke arah San. Dia
segera berdiri dan berjalan dengan cepat ke arahnya. Kemudian, dia berusaha
menyentuh kening San, “Apa lukamu, tak apa-apa?”
Kim
San langsung mundur agar tangan Da Jung tidak menyentuh tubuhnya.
“Aku
tidak apa-apa. Tapi, lain kali jangan lakukan hal semacam tadi lagi.” kata San
dingin. Da Jung menggigit bibirnya,
kebiasaan yang selalu dia lakukan saat menahan emosinya. “Bagaimana aku bisa tidak perduli jika kau
dipukul seperti itu?” katanya dengan emosi yang tertahan. Kim San hanya
menatapnya tanpa ekspresi.
Nama
Han Da Jung, dulu adalah Kim So Hyun.
Dia
adalah adik San.
Tapi,
San telah menjualnya, demi uang.
7
Kim
San adalah pria yang menakutkan.
Tidak,
bahkan kata menakutkan masih terdengar kurang pas untuk menggambarkan
dirinya. Saat, bersama dengan Min Ho. Dia akan berperan sebagai pria penuh
kasih sayang. Tapi, di saat lain, dia akan menjadi sangat jahat. Benar yang
dikatakan sebagian orang, penjahat yang benar-benar jahat, tidak akan
terlihat seperti penjahat.
Kim
San sudah menjual So Hyun demi uang, dia membuangnya. Tapi, bertahun-tahun
setelah itu, So Hyun malah mencari-cari San dan berkata jika So Hyun ingin
membantu San. Sesuatu yang dianggap hal bodoh bagi San. Ayah San hanya
diam di atas kasur. Dia koma. San mendekat ke kasur ayahnya dan memandanginya.
Jika, kalian melihat ayah San. Kalian tak akan pernah menyangka jika dia
ayahnya.
Bahkan, kalau dia sadar dan
dalam keadaan sehat sekalipun. Kalian tetap tak akan menyangkanya. Ayah San yang
dulu begitu ceria dan baik. Sekarang, terbaring tanpa daya di atas ranjang
selama lebih dari dua puluh satu tahun. Dia koma dan kemungkinannya untuk sadar
sudah tidak ada. Kulitnya sudah keriput menutupi tulangnya. Ayahnya yang dulu
begitu gagah dimata San. Sekarang, hanya seperti tengkorak yang dibalut kulit.
Matanya selalu terpejam dengan alat bantu pernafasan menempel begitu lama
dihidungnya. Jika, alat itu dilepas sekali saja, ayah San akan langsung mati.
Tapi, Kim San hanya
memandanginya.
“Aku....”
“Pergilah.” kata San pendek.
“Tapi....”
“Aku bilang, pergilah!” kata
San dengan sedikit kesal. Tapi, cukup untuk membuat So Hyun langsung menutup
kembali mulutnya dan memilih keluar dari ruangan ayah mereka dirawat. Ayah
angkat So Hyun adalah seorang pemilik toko buku, sementara, ibu angkatnya
adalah seorang guru. Keduanya, adalah orang baik. Mereka merawat So Hyun dengan
sepenuh hati dan menganggapnya seperti anak kandung mereka sendiri.
Kim San tahu, harusnya dia
berterima kasih pada So Hyun karena membantunya memalsukan laporan harga saham
perusahaan Grup DK. Benar, jika harga saham Grup DK memang sedang turun. Bukan,
karena kebetulan, tapi memang San yang membuatnya seperti itu.
Agar dia bisa menghancurkan Grup
DK dengan lebih mudah.
Kim San sudah mengatur agar
semua orang yang berhubungan dengan Park Jae Seong dan istrinya adalah
orang-orang yang bekerja padanya. Mulai dari pengacara sampai supir pribadi
mereka adalah orang-orang Kim San. Sehingga, tanpa mereka tahu, Kim San-lah
yang mengatur kehidupan mereka. Bukan, sebaliknya.
Kim San duduk di kursi yang
dtinggalkan So Hyun. Kemudian, memegang tangan ayahnya, “Ayah, di musim dingin
ini. Semua akan selesai. Dendamku akan terbalaskan. Begitu, aku mendapatkan
Grup DK. Aku akan menghancurkan mereka. Mereka yang sudah menghancurkan
kehidupan kita. Mereka yang sudah membuat ayah jadi seperti ini. Aku akan
menghancurkan mereka sampai mereka tersiksa. Sampai mereka mati.”
“Seandainya, aku harus
menyerahkan diriku pada setan. Aku akan melakukannya, ayah.” kata Kim San lagi.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Jung Woo masuk ke dalam kamar, “Sekarang, sudah
jam enam petang. Nanti, malam Anda punya janji dengan Tuan Park Min Ho untuk
makan di restoran. Apa Anda mau bersiap-siap sekarang, atau mau kubatalkan?”
“Tidak. Jangan dibatalkan. Min
Ho pasti akan mencari-cariku jika aku tak datang. Itu akan merepotkan.” kata
San dengan cepat. “Aku akan bersiap-siap sekarang. Pergilah duluan dan siapkan
mobil, sebentar lagi aku akan menyusulmu.”
Jung Woo mengangguk sambil
berkata, “Ye. Aku akan menunggumu diluar.” [3]lalu,
keluar dari kamar.
Sementara Kim San hanya diam di
dalam kamar.
Dia melepas pegangan tangan
ayahnya dengan lembut dan kemudian berdiri, lalu berjalan keluar dari kamar.
Tak sedikitpun, air mata keluar dari pelupuk matanya. Tak ada sedikitpun emosi
yang tampak dari balik wajahnya.
Entah apa yang tersimpan di
balik wajah malaikatnya.
Hanya dia, yang tahu apa yang
dia pikirkan.
8
Aku
tak tahu bagaimana menceritakannya. Karena, ini bukanlah hal yang mudah untuk
diceritakan. Tapi, Kim San berubah menjadi jahat. Tidaklah, karena keinginannya
sendiri. Melainkan, karena banyak hal yang membuatnya berubah. Jika, iblis yang
dulunya merupakan makhluk berpangkat tinggi, jatuh menjadi mahluk paling hina
sepanjang masa karena kesombongannya.
Maka,
Kim San berubah menjadi iblis karena dia sudah menyerahkan jiwanya pada
kematian. Dia sendiri yang memutuskan untuk berhenti percaya akan harapan dan
kebahagiaan. Karena, baginya harapan hanyalah kepalsuan. Hidup bukanlah dongeng
yang akan selalu memberikan happy ending bagi tokoh utamanya.
Kim
Jo Myung dulunya adalah pemilik Grup DK.
Dia
adalah perintis Grup DK. Sebuah perusahaan yang mengedepankan dalam pengolahan
baja. Aku tak tahu apa dalam dunia usaha, ada pria sebaik dirinya. Dia selalu
mengedepankan keluarganya di atas segalanya. Seperti, yang kukatakan
sebelumnya, Jo Myung selalu pulang tepat jam lima sore, karena, dia tahu jika
anak-anaknya membutuhkan dirinya.
Hanya
saja, ketika Grup DK berubah menjadi raksasa dan membuatnya nyaris selalu
berada di kantor hampir setiap waktu. Jo Myung tahu, dia membutuhkan orang lain
untuk mengurus anak-anaknya yang masih kecil. Bukan, hanya sebatas baby
sitter yang akan datang dan pergi. Bukan, juga pelayan harus dibayar setiap
bulan. Tapi, seseorang yang bisa dianggap ibu oleh anak-anaknya.
Seseorang yang bisa ada untuk anak-anaknya ketika dia tak ada. Seseorang yang
bisa menemaninya dalam suka dan duka. Seseorang yang tak akan pernah
meninggalkan anak-anaknya. Kemudian, lagi-lagi seperti dalam dongeng klasik, Jo
Myung menemukan wanita itu. Wanita yang dia anggap cocok untuk kedua anaknya,
Kim Tae Ho dan juga Kim So Hyun.
Nama Kim San dulu adalah Kim Tae
Ho.
Kupikir,
aku tak perlu menceritakan bagaimana wanita itu bertemu dengan Jo Myung dan masuk
ke dalam kehidupannya. Karena, pada akhirnya mereka berdua menikah. Kim Jo
Myung dengan wanita itu.
Namanya,
Choi Jin Hee.
Wanita
itu, ibu kandung Min Ho, adalah wanita yang menghancurkan kehidupan San beserta
keluarganya. Tentu awalnya, kehidupan mereka baik-baik saja. Ketika awal mula
kehidupan pernikahan mereka. Tae Ho merasa hidupnya lebih dekat dengan
kebahagiaan, karena sudah ada seseorang yang bisa dipanggilnya dengan sebutan
ibu.
Sampai,
usia adiknya, menginjak dua tahun....
#####
Kim
San memejamkan matanya, masa lalu yang tak ingin diingatnya. Kembali terulang
dalam benaknya. Seperti, film yang akan berputar kembali di TV meski sebenarnya
kau tak ingin menontonnya kembali. Selesai mandi, Kim San mengenakan tuxedo
mewah yang harganya sangat mahal.
Kim
San, tak lupa mengenakan mantel dan sarung tangan hitam. Sehingga, badannya
terlindungi dari hawa dingin.
“Anda
sudah siap?” tanya Jung Woo.
Kim San
mengangguk, “Aku siap.”
Malam
ini Kim San dan Min Ho akan makan malam di restoran. Sebelum sampai, dia
restoran, Kim San berhenti di sebuah toko perhiasan. Seorang perempuan yang
mengenakan pakaian putih dan rok pendek berwarna hitam langsung menyambut Kim
San. Wajah wanita itu lumayan cantik dengan rambut yang diikat ke belakang.
“Anda
mencari apa?”
“Saya
mencari cincin.”
“Oh...
pasti untuk kekasih Anda, ya?”
Kim
San mengangguk, “Benar. Hari ini saya ada kencan. Saya ingin memberikan hadiah
istimewa untuknya.” Hal yang
paling buruk, akibat dari penderitaan yang dia dapatkan adalah San, kehilangan
perasaannya pada mahluk bernama wanita. Kim San, sama sekali tidak bisa
mencintai wanita lagi.
Dan,
itu semua, akibat ibu tirinya.
#####
Ayah
mereka memang jarang sekali pulang sejak menikah dengan Jin Hee. Mungkin, dalam
pikiran Jo Myung, ibu tiri mereka merawat keduanya dengan baik.
Sayangnya,
tidak.
Saat itu, Tae Ho baru saja
selesai bermain dengan adiknya di kamarnya. Kemudian, ketika melewati kamar ibu
tirinya. Dia tak sengaja mendengar percakapan mereka. Diam-diam Tae Ho membuka
pintu dan mengintip apa yang mereka lakukan di dalam kamar. Mereka menghadap ke
arah yang berlawanan dengan pintu dan tampaknya tak sadar jika Tae Ho melihat
mereka.
Mereka adalah ibu Tae Ho dengan seorang pria yang tidak dikenal Tae
Ho.
“Kita
akan segera memiliki semua ini.” kata ibu Tae Ho.
Tiba-tiba
tangan teman pria itu memegang tangan ibu Tae Ho. Ibu Tae Ho bukannya
melepasnya, malah memegangnya dengan sangat kuat. Di sisi lain, ada seorang pria yang berdiri di
samping mereka. Pria itu berbadan besar
dengan wajah menakutkan dan penuh dengan tato. Matanya berwarna hitam dan penuh
berewok. Dia hanya diam memandangi mereka berdua.
Tiba-tiba
–seolah tahu- pria itu menengok ke arah pintu dimana Tae Ho mengintip. Tae Ho
segera bersembunyi dan berjalan dengan cepat kembali ke kamarnya. Itu bukan
kali pertama, tapi Tae Ho terlalu kecil untuk memahami jika ibu tirinya telah
berselingkuh. Perlu, beberapa waktu lebih lama sampai Tae Ho benar-benar
mengerti hal itu
Hanya
saja, nanti semuanya sudah terlambat.
[1]
Aku tak bisa hidup tanpamu.
[2]
Hal yang masih menjadi kesalah fahaman sebagian besar dari kita adalah
pemikiran jika pria gay hanya pria-pria yang berperilaku dan berdandan seperti
wanita (banci). Padahal, faktanya tidak sedikit pria jantan yang ‘benar-benar pria’
ternyata adalah gay juga.
[3]
ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar