baru

Sabtu, 18 April 2015

wangja 6-8

6
                “Direktur....” suara Jung Woo masih terdengar di pintu. Min Ho yang membuka pintu. Jung Woo sedikit terkejut,  tapi akhirnya dia terlihat tenang kembali. Min Ho mengambil pakaian San dan membiarkan Jung Woo masuk ke dalam ruangan. Jung Woo tahu situasi, dia menutup pintu agar tak ada satu pun orang yang masuk ke dalam kantor.
                Min Ho membuka plastik yang melindungi pakaian San dan mengambil pakaian yang tadi terbungkus plastik. Kim San langsung berdiri dan membiarkan Min Ho memakaikan pakaian untuknya. Juga, memakaikan dasi dan terakhir, menutupinya kembali dengan jas hitam. Jung Woo memalingkan wajahnya agar tidak melihat hal itu, meski, Jung Woo sudah tahu sejak lama orientasi seksual San. Aku tahu, selalu ada perasaan jijik yang terpancar dari hatinya.
                Aku sangat memaklumi hal itu. Saat, Min Ho mengancingkan jas San, matanya menatap salah satu kancing San. Kesedihan terlihat begitu jelas terpancar dari matanya, “Oppa, aku mohon. Lain kali, jangan terluka lagi.....”
                Kepala Min Ho bergerak ke depan dan bersandar di dada San, air matanya berjatuhan saat berkata, “Dangsin eopsi motsaleoyo.[1]
#####
                Mobil melaju dengan tenang, Jung Woo yang melakukannya dengan sengaja agar San tidak terlalu merasa kesakitan. Meski, tidak memperlihatkannya, Jung Woo yakin kepala San pasti masih terasa sakit. Apalagi, ketika di dalam mobil, Jung Woo melihat San lebih memilih menyandarkan kepalanya ke kursi dan memejamkan matanya.
                Menurutku, Jung Woo adalah asisten yang baik. Dia tahu apa yang harus dikatakan dan apa yang tidak perlu dikatakan. Bukan berarti, dia tidak perduli, tapi dia tahu bahwa tak semua orang –saat berada dalam masalah- senang dinasehati atau dikuliahi macam-macam. Terkadang, ada sebagian orang yang lebih memilih diam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
                Kim San adalah pria yang seperti itu.
                Musim dingin sudah tiba, jalanan mulai ditutupi oleh salju dan tampak putih. Aku senang dengan salju, meski akibatnya suhu bisa turun dengan sangat drastis. Orang-orang mulai mengenakan pakaian hangat dan tak sedikit yang memasukkan tubuhnya pada berlapis-lapis pakaian.
                Mobil San melaju dengan  tenang, melewati toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan. Ada sebuah toko yang dikerubungi remaja-remaja wanita. Entah, apa yang mereka lihat, mungkin  pakaian baru atau mungkin juga sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah yang didiskon. Sementara, beberapa pria tampak berjalan melewati mereka. Pria-pria itu ditindik, badan tinggi, dan rambut yang dicat pirang, mungkin meniru idola-idola korea yang sedang mendunia saat ini
 Meski, kelihatan jantan, siapa tahu ada salah satu dari mereka yang seperti San dan Min Ho.
Seorang gay, siapa yang tahu....[2]
                Mobil berhenti di sebuah rumah sakit di pinggiran kota Seoul. Rumah sakit itu tidak terlalu besar, malah tergolong kecil untuk ukuran rumah sakit kota. Hanya terdiri, dari dua tingkat saja.  Tapi, dikelilingi dengan pepohonan yang tertutup salju.  
“Kita sudah sampai direktur.” kata Jung Woo. Kemudian, Kim San membuka pintu dan keluar dari mobil. Lalu, berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Begitu masuk ke dalamnya, bau khas rumah sakit langsung masuk ke dalam hidung. Tapi, Kim San sudah terbiasa dengan bau itu. Kim San tidak menuju ke resepsionis, melainkan langsung berjalan membelok  dan masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai dua. Setelah sampai di kamar yang ditujunya, Kim San membuka pintu dan masuk ke dalamnya.
Ada seorang wanita yang duduk di dekat ayah San yang sudah sangat kurus. Wanita itu cantik dan berambut panjang. Tapi, ada kesedihan mendalam di hatinya. Han Da Jung melihat ke arah San. Dia segera berdiri dan berjalan dengan cepat ke arahnya. Kemudian, dia berusaha menyentuh kening San, “Apa lukamu, tak apa-apa?”
                Kim San langsung mundur agar tangan Da Jung tidak menyentuh tubuhnya.
                “Aku tidak apa-apa. Tapi, lain kali jangan lakukan hal semacam tadi lagi.” kata San dingin.  Da Jung menggigit bibirnya, kebiasaan yang selalu dia lakukan saat menahan emosinya.  “Bagaimana aku bisa tidak perduli jika kau dipukul seperti itu?” katanya dengan emosi yang tertahan. Kim San hanya menatapnya tanpa ekspresi.
                Nama Han Da Jung, dulu adalah Kim So Hyun.
                Dia adalah adik San.
                Tapi, San telah menjualnya, demi uang.
7
                Kim San adalah pria yang menakutkan.
                Tidak, bahkan kata menakutkan masih terdengar kurang pas untuk menggambarkan dirinya. Saat, bersama dengan Min Ho. Dia akan berperan sebagai pria penuh kasih sayang. Tapi, di saat lain, dia akan menjadi sangat jahat. Benar yang dikatakan sebagian orang, penjahat yang benar-benar jahat, tidak akan terlihat seperti penjahat.
                  Kim San sudah menjual So Hyun demi uang, dia membuangnya. Tapi, bertahun-tahun setelah itu, So Hyun malah mencari-cari San dan berkata jika So Hyun ingin membantu San. Sesuatu yang dianggap hal bodoh bagi San. Ayah San hanya diam di atas kasur. Dia koma. San mendekat ke kasur ayahnya dan memandanginya. Jika, kalian melihat ayah San. Kalian tak akan pernah menyangka jika dia ayahnya.
Bahkan, kalau dia sadar dan dalam keadaan sehat sekalipun. Kalian tetap tak akan menyangkanya. Ayah San yang dulu begitu ceria dan baik. Sekarang, terbaring tanpa daya di atas ranjang selama lebih dari dua puluh satu tahun. Dia koma dan kemungkinannya untuk sadar sudah tidak ada. Kulitnya sudah keriput menutupi tulangnya. Ayahnya yang dulu begitu gagah dimata San. Sekarang, hanya seperti tengkorak yang dibalut kulit. Matanya selalu terpejam dengan alat bantu pernafasan menempel begitu lama dihidungnya. Jika, alat itu dilepas sekali saja, ayah San akan langsung mati.
Tapi, Kim San hanya memandanginya.
“Aku....”
“Pergilah.” kata San pendek.
“Tapi....”
“Aku bilang, pergilah!” kata San dengan sedikit kesal. Tapi, cukup untuk membuat So Hyun langsung menutup kembali mulutnya dan memilih keluar dari ruangan ayah mereka dirawat. Ayah angkat So Hyun adalah seorang pemilik toko buku, sementara, ibu angkatnya adalah seorang guru. Keduanya, adalah orang baik. Mereka merawat So Hyun dengan sepenuh hati dan menganggapnya seperti anak kandung mereka sendiri.
Kim San tahu, harusnya dia berterima kasih pada So Hyun karena membantunya memalsukan laporan harga saham perusahaan Grup DK. Benar, jika harga saham Grup DK memang sedang turun. Bukan, karena kebetulan, tapi memang San yang membuatnya seperti itu.
Agar dia bisa menghancurkan Grup DK dengan lebih mudah.
Kim San sudah mengatur agar semua orang yang berhubungan dengan Park Jae Seong dan istrinya adalah orang-orang yang bekerja padanya. Mulai dari pengacara sampai supir pribadi mereka adalah orang-orang Kim San. Sehingga, tanpa mereka tahu, Kim San-lah yang mengatur kehidupan mereka. Bukan, sebaliknya.
Kim San duduk di kursi yang dtinggalkan So Hyun. Kemudian, memegang tangan ayahnya, “Ayah, di musim dingin ini. Semua akan selesai. Dendamku akan terbalaskan. Begitu, aku mendapatkan Grup DK. Aku akan menghancurkan mereka. Mereka yang sudah menghancurkan kehidupan kita. Mereka yang sudah membuat ayah jadi seperti ini. Aku akan menghancurkan mereka sampai mereka tersiksa. Sampai mereka mati.”
“Seandainya, aku harus menyerahkan diriku pada setan. Aku akan melakukannya, ayah.” kata Kim San lagi. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Jung Woo masuk ke dalam kamar, “Sekarang, sudah jam enam petang. Nanti, malam Anda punya janji dengan Tuan Park Min Ho untuk makan di restoran. Apa Anda mau bersiap-siap sekarang, atau mau kubatalkan?”
“Tidak. Jangan dibatalkan. Min Ho pasti akan mencari-cariku jika aku tak datang. Itu akan merepotkan.” kata San dengan cepat. “Aku akan bersiap-siap sekarang. Pergilah duluan dan siapkan mobil, sebentar lagi aku akan menyusulmu.”
Jung Woo mengangguk sambil berkata, “Ye. Aku akan menunggumu diluar. [3]lalu, keluar dari kamar.
Sementara Kim San hanya diam di dalam kamar.
Dia melepas pegangan tangan ayahnya dengan lembut dan kemudian berdiri, lalu berjalan keluar dari kamar. Tak sedikitpun, air mata keluar dari pelupuk matanya. Tak ada sedikitpun emosi yang tampak dari balik wajahnya.
Entah apa yang tersimpan di balik wajah malaikatnya.
Hanya dia, yang tahu apa yang dia pikirkan.
8
                Aku tak tahu bagaimana menceritakannya. Karena, ini bukanlah hal yang mudah untuk diceritakan. Tapi, Kim San berubah menjadi jahat. Tidaklah, karena keinginannya sendiri. Melainkan, karena banyak hal yang membuatnya berubah. Jika, iblis yang dulunya merupakan makhluk berpangkat tinggi, jatuh menjadi mahluk paling hina sepanjang masa karena kesombongannya.
                Maka, Kim San berubah menjadi iblis karena dia sudah menyerahkan jiwanya pada kematian. Dia sendiri yang memutuskan untuk berhenti percaya akan harapan dan kebahagiaan. Karena, baginya harapan hanyalah kepalsuan. Hidup bukanlah dongeng yang akan selalu memberikan happy ending bagi tokoh utamanya.
                Kim Jo Myung dulunya  adalah pemilik Grup DK.
                Dia adalah perintis Grup DK. Sebuah perusahaan yang mengedepankan dalam pengolahan baja. Aku tak tahu apa dalam dunia usaha, ada pria sebaik dirinya. Dia selalu mengedepankan keluarganya di atas segalanya. Seperti, yang kukatakan sebelumnya, Jo Myung selalu pulang tepat jam lima sore, karena, dia tahu jika anak-anaknya membutuhkan dirinya.
                Hanya saja, ketika Grup DK berubah menjadi raksasa dan membuatnya nyaris selalu berada di kantor hampir setiap waktu. Jo Myung tahu, dia membutuhkan orang lain untuk mengurus anak-anaknya yang masih kecil. Bukan, hanya sebatas baby sitter yang akan datang dan pergi. Bukan, juga pelayan harus dibayar setiap bulan. Tapi, seseorang yang bisa dianggap ibu oleh anak-anaknya. Seseorang yang bisa ada untuk anak-anaknya ketika dia tak ada. Seseorang yang bisa menemaninya dalam suka dan duka. Seseorang yang tak akan pernah meninggalkan anak-anaknya. Kemudian, lagi-lagi seperti dalam dongeng klasik, Jo Myung menemukan wanita itu. Wanita yang dia anggap cocok untuk kedua anaknya, Kim Tae Ho dan juga Kim So Hyun.
Nama Kim San dulu adalah Kim Tae Ho.
                Kupikir, aku tak perlu menceritakan bagaimana wanita itu bertemu dengan Jo Myung dan masuk ke dalam kehidupannya. Karena, pada akhirnya mereka berdua menikah. Kim Jo Myung dengan wanita itu.
                Namanya, Choi Jin Hee.
                Wanita itu, ibu kandung Min Ho, adalah wanita yang menghancurkan kehidupan San beserta keluarganya. Tentu awalnya, kehidupan mereka baik-baik saja. Ketika awal mula kehidupan pernikahan mereka. Tae Ho merasa hidupnya lebih dekat dengan kebahagiaan, karena sudah ada seseorang yang bisa dipanggilnya dengan sebutan ibu.
                Sampai, usia adiknya, menginjak dua tahun....   
#####
                Kim San memejamkan matanya, masa lalu yang tak ingin diingatnya. Kembali terulang dalam benaknya. Seperti, film yang akan berputar kembali di TV meski sebenarnya kau tak ingin menontonnya kembali. Selesai mandi, Kim San mengenakan tuxedo mewah yang harganya sangat mahal.
                Kim San, tak lupa mengenakan mantel dan sarung tangan hitam. Sehingga, badannya terlindungi dari hawa dingin.
                “Anda sudah siap?” tanya Jung Woo.
                Kim  San  mengangguk, “Aku siap.”
                Malam ini Kim San dan Min Ho akan makan malam di restoran. Sebelum sampai, dia restoran, Kim San berhenti di sebuah toko perhiasan. Seorang perempuan yang mengenakan pakaian putih dan rok pendek berwarna hitam langsung menyambut Kim San. Wajah wanita itu lumayan cantik dengan rambut yang diikat ke belakang.
                “Anda mencari apa?”
                “Saya mencari cincin.”
                “Oh... pasti untuk kekasih Anda, ya?”
                Kim San mengangguk, “Benar. Hari ini saya ada kencan. Saya ingin memberikan hadiah istimewa untuknya.”  Hal yang paling buruk, akibat dari penderitaan yang dia dapatkan adalah San, kehilangan perasaannya pada mahluk bernama wanita. Kim San, sama sekali tidak bisa mencintai wanita lagi.
                Dan, itu semua, akibat ibu tirinya.
#####
                Ayah mereka memang jarang sekali pulang sejak menikah dengan Jin Hee. Mungkin, dalam pikiran Jo Myung, ibu tiri mereka merawat keduanya dengan baik.
                Sayangnya, tidak.
Saat itu, Tae Ho baru saja selesai bermain dengan adiknya di kamarnya. Kemudian, ketika melewati kamar ibu tirinya. Dia tak sengaja mendengar percakapan mereka. Diam-diam Tae Ho membuka pintu dan mengintip apa yang mereka lakukan di dalam kamar. Mereka menghadap ke arah yang berlawanan dengan pintu dan tampaknya tak sadar jika Tae Ho melihat mereka.
Mereka adalah ibu Tae Ho  dengan seorang pria yang tidak dikenal Tae Ho.
                “Kita akan segera memiliki semua ini.” kata ibu Tae Ho.
                Tiba-tiba tangan teman pria itu memegang tangan ibu Tae Ho. Ibu Tae Ho bukannya melepasnya, malah memegangnya dengan sangat kuat. Di  sisi lain, ada seorang pria yang berdiri di samping  mereka. Pria itu berbadan besar dengan wajah menakutkan dan penuh dengan tato. Matanya berwarna hitam dan penuh berewok. Dia hanya diam memandangi mereka berdua.
                Tiba-tiba –seolah tahu- pria itu menengok ke arah pintu dimana Tae Ho mengintip. Tae Ho segera bersembunyi dan berjalan dengan cepat kembali ke kamarnya. Itu bukan kali pertama, tapi Tae Ho terlalu kecil untuk memahami jika ibu tirinya telah berselingkuh. Perlu, beberapa waktu lebih lama sampai Tae Ho benar-benar mengerti hal itu
                Hanya saja, nanti semuanya sudah terlambat.



[1] Aku tak bisa hidup tanpamu.
[2] Hal yang masih menjadi kesalah fahaman sebagian besar dari kita adalah pemikiran jika pria gay hanya pria-pria yang berperilaku dan berdandan seperti wanita (banci). Padahal, faktanya tidak sedikit pria jantan yang ‘benar-benar pria’ ternyata adalah gay juga.
[3] ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar