baru

Kamis, 07 Mei 2015

wangja 22-24

22
Sebenarnya, aku tak ingin menceritakan bagian ini. Tapi, akhirnya, kutulis juga meski dengan perasaan tak menentu. Seperti yang kalian tahu. Kim San telah memalsukan identitasnya ketika kuliah. Mengganti namanya dari Kim Tae Ho menjadi Kim San.
Karena, San tahu tak mungkin menjadi kaya hanya dengan modal kejujuran. Karena itu, dia memutuskan untuk melakukannya. Membayar dengan harga yang tinggi menjadi bayaran untuk masuk ke salah satu universitas. Dalam waktu beberapa tahun, kecerdasan, ketampanan dan prestasi-prestasinya  terkenal ke segala penjuru kampus. Kim San menjadi idola dan juga menjadi magnet bagi setiap orang yang mengenalnya.
                Kim San tidak tinggal di asrama, tapi tinggal di sebuah apartemen di dekat universitas.  Kim San memutuskan untuk melakukannya, karena akan lebih mudah bekerja sambil kuliah jika bisa tinggal diluar asrama. Merepotkan memang, tapi bagi San itu tak apa-apa. Dia anggap itu menjadi bayaran untuknya.
                Kim San, sejak sudah memilah-milah siapa yang akan menjadi sasarannya.  Dia sudah memikirkan akan menghamili seorang mahasiswi perempuan dan menikah dengannya. Kim San berpikir untuk memilih siapa. Apakah Go Bong Hee yang merupakan anak dari salah satu pengusaha terkemuka di Korea? Ataukah Choi Yoon Hee  yang merupakan salah satu anak dari pejabat tinggi di Korea? Atau Sun Young yang anak pemilik agensi besar Apolo Entertainment? Seperti yang kalian tahu, meski, Kim San membenci wanita. Tidak berarti, dia akan menolak mereka.
Kim San justru akan memanfaatkan mereka.
                Tapi, saat Kim San berusaha mendekati salah satu dari mereka. Ada seorang siswa berkaca mata dan kelihatannya sama sekali tidak menarik. Dia pria pendiam dan juga penyendiri. Penyendiri dalam artian dia adalah sasaran dari kekerasan yang sering dilakukan oleh anak-anak berkuasa lain. Rambutnya yang hitam sering dibiarkan kusut dan tidak terurus. Giginya dipagari kawat dengan mata yang selalu bengkak karena dua hal. Jika, tidak menangis, ya karena dipukuli. Badannya kurus dan tampak lemah.
                Nama pria itu Park Min Ho
                Anak dari Park Jae Seong dan Choi Jin Hee dari Grup DK.
                Saat, Kim San melihatnya, dia memutuskan untuk menghancurkan hidupnya. Mungkin, tak jauh bedanya dengan setan yang berjanji pada Tuhan akan membawa manusia ke dalam neraka bersama dirinya. Kim San juga memutuskan untuk menjadikannya bejat, seperti diriku. Menjadikannya homoseksual dan mengajaknya  masuk ke dalam neraka bersamanya.
#####
                Park Min Ho berjalan dalam gelap. Dia disuruh oleh Hyun Chul –seorang mahasiswa yang berbadan besar-  untuk mengambil air. Mereka kehabisan air di kamar. Min Ho berjalan dengan hati-hati agar air yang dibawanya tidak jatuh. Dia membawa terlalu banyak air.
Min Ho memang tinggal di asrama. Dia sudah sering  mengatakan pada kedua orang tuanya agar pindah ke rumah saja. Tapi, kedua orang tuanya tidak pernah mengindahkannya.
                Dari kejauhan, dia melihat sepasang muda mudi yang saling berciuman di tempat gelap. Satu-satunya yang menakutkan bagi Min Ho adalah jika mereka merasa terganggu dan menghajarnya. Min Ho berusaha berjalan sepelan dan secepat mungkin. Tapi, tiba-tiba dari arah lain tampak ada yang berjalan ke arahnya dan menabraknya. Air dan teko yang dipegangnya berjatuhan di lantai.
                Min Ho terkejut.
                “Apa yang kau lakukan?” teriak mahasiswa yang ditabrak.
                Mahasiswa yang tadi berciuman merasa terganggu dan kenyataannya mereka langsung mendekat dan marah. Apalagi saat mereka tahu jika Min Ho yang membawanya. Tanpa ragu Min Ho dihajar sampai babak belur. Mereka menginjak-nginjak kakinya tanpa ragu.
Min Ho berusaha melindungi kepalanya dengan tangannya sendiri. Min Hi tak pernah berharap ada yang menolongnya. Tak pernah satu kalipun. Dia menyadari apa yang menjadi posisinya di tempat ini. Min Ho terus diinjak-injak tanpa ragu. Sampai barulah mereka berhenti saat ada seorang pria yang mendekat ke arahnya. Pria itu tampak marah dan murka.
                “Apa yang kalian lakukan?”
                Mereka berhenti dan melakukannya. Melihat pada pria itu dan tertawa mengejeknya.
                “Untuk apa kau membelanya?”
                “Tidak. Aku tak tertarik membelanya. Aku hanya berpikir ini keterlaluan.”
                Mereka tampaknya enggan untuk berurusan dengan pria itu dan mulai pergi. Ya, Kim San datang membantunya. Mulai memainkan perannya sebagai pria baik hati dan hangat.  Aku tahu jika saat itu, ada secercah perasaan senang dalam hati Min Ho karena seseorang datang menolongnya.
                Cahaya yang datangnya dari iblis.
23          
Aku ingin sekali menceritakan pada kalian bagaimana sepak terjang Kim San dalam mengubah Min Ho agar menjadi seorang gay. Tapi, tiba-tiba aku jadi berubah pikiran. Kupikir akan lebih bijaksana jika aku menjelaskannya dengan sederhana. Sebab, hal semacam ini mungkin bukan sesuatu yang pantas untuk diceritakan dengan panjang lebar.
                Sejak saat itu, San selalu melindungi Min Ho Jika ada yang mengganggunya Kim San akan datang untuk segera menolongnya. Jika, ada yang menjahilinya Kim San akan berusaha membantunya. Kim San selalu melakukan itu semampunya. Kim San juga berusaha agar sekuat mungkin bisa menahan rasa sakit yang dia alami.
Kenyataan jika kedua orang tua Min Ho sama sekali tidak mencintai dan menyayanginya. Membuat segalanya lebih mudah bagi Kim San. Homoseksual bisa terjadi karena berbagai macam hal. Salah satunya, jika pria itu sendiri sudah tidak ingin mencintai wanita lagi.
Min Ho sedang menuju kehancurannya sendiri.
Tapi, Kim San tidak akan berhenti. Seperti, yan dikatakan Jung Woo. Hal yang paling menakutkan dari San adalah saat dia memutuskan untuk menghancurkan hidup seseorang. Kim San tidak akan menggunakan pedang tajam, melainkan pedang berkarat yang sangat menyakitkan.
Lalu, dia menggesekannya ke leher lawannya.
Terus dengan sabar....
Sampai lawannya mati.
#####
Semuanya berawal dari pertemanan.
Awalnya, Min Ho heran karena ada yang mau menolongnya. Baginya ini sangat aneh karena awalnya tak ada satupun yang mau menolongnya. Keduanya berteman dengan baik dan bisa dibilang menjadi sahabat. Kim San dan Min Ho sering bercerita tentang masing-masing diri mereka. Dia juga tanpa ragu menceritakan bagaimana perlakuan kedua orang tuanya padanya.
“Mereka hanya menganggapku sebagai alat! Apa kau  mengerti San?”
Aku menggeleng, pura-pura tidak mengerti.
“Mereka hanya ingin agar aku menjadi pion yang bisa dengan sesuka hati mereka gerakan. Aku yakin jika nanti mereka akan memintaku menikah dengan seorang anak orang kaya sebagai alat untuk menyatukan dua perusahaan!”
Mereka berteman seperti itu selama beberapa tahun.
Sampai tahun ketiga mereka kuliah.
Waktu itu, aku masih ingat dengan jelas Kim San dan Min Ho sedang duduk berdua di atas loteng. Sebuah tempat yang hanya mereka berdua yang tahu. Mereka sering sekali mengobrol dan saling bercanda bersama. Tiba-tiba saat keduanya mengobrol, Min Ho bertanya,  “Untuk apa sebenarnya kau mendekatiku?” kata Min Ho sambil menundukkan kepalanya.
Kim San tahu dia agak ragu untuk bertanya. “Jika, kau mendekatiku hanya untuk uang. Kau tahu bukan jika ayah dan ibuku bahkan mungkin tidak akan pernah memberikan uang padaku jika memang tidak ada untungnya bagi mereka?”
Kim San pura-pura marah.
“Apa maksudmu? Apa kau pikir aku hanya berteman denganmu demi uang?” kata Kim San. Kim San akan berdiri, tapi tangan Min Ho langsung memegang tangannya dan berkata, “Maaf! Aku tahu ini kurang sopan. Aku hanya merasa takut jika kau mengharapkan lebih darimu. Kau satu-satunya teman bagiku.”
Kim San menghela napas panjang.
“Aku tak yakin akan menceritakannya padamu.” kata San. Kim San memperlihatkan kegugupanku dengan sangat baik.
“Tak apa-apa. Ceritakan saja! Bukankah kita ini teman?”
Dia tersenyum tulus.
Kim San juga tersenyum membalasnya.
Kim San memegang tangan Min Ho dengan hangat dan berkata dengan perlahan, “Aku menyukaimu.”
Min Ho tampaknya agak terkejut, tapi berusaha menymbunyikannya. Dia berkata, “Aku juga menyukaimu.” Kim San menggeleng dengan tegas. Dia  berkata, “Bukan seperti itu. Aku menyukaimu. Seperti seorang wanita mencintai seorang pria atau sebaliknya.”
Min Ho terkejut.
Dia kelihatan jijik pada San. Dengan segera dia melepas tangannya dan berlari menjauh dari San. Sama sekali tidak menoleh atau sekedar melirik pada San. Dengan cepat tubuhnya sudah menghilang dari pandanganku.
Kim San hanya tersenyum saat melihatnya.
#####
 Kim San berlari dengan tergesa-gesa. Keringat bercucuran dari tubuhnya. Min Ho sedang disiksa! Dia  harus menolongnya! Benar saja, di salah satu sudut universitas yang jarang  digunakan. Min Ho dipukuli habis-habisan oleh beberapa mahasiswa.
 Dengan berani Kim San menerobos mereka dan berteriak dengan kencang, “Apa yang kalian lakukan?”
Mereka hanya terkekeh.
“Apa kalian tidak punya hati?”
“Kau ini banyak bicara!” kata salah satu dari mereka. Mereka gantian menghajar San dan menyiksanya. “Tadinya, kami tak mau menyiksamu. Tapi, kau mau berteman dengan orang sepertinya. Kau pantas menjadi sampah yang pantas diinjak sama sepertinya.”
“Memang kenapa?” kata San dengan tangan menutupi kepalanya. Sementara, kaki-kaki mereka menendangi perutku. “Memang kenapa jika kami berteman? Memang kenapa jika aku menyukainya? Apa itu menjadi masalah?”
Mereka terus menghajar Kim San sampai dia tak bisa bergerak. Baru sekitar dua jam kemudian, mereka pergi karena bosan. Min Ho bangkit dan mendekatiku. Badannya tak kalah babak belurnya dengan San. Sejak kejadian itu Min Ho memang tidak mau bertemu denganku lagi. Karema itu, Kim San berusaha menjauh.
“Jangan dekat-dekat! Bukankah bagimu aku ini mahluk hina?”
Min Ho tampak merasa bersalah.
Dia memegang tanganku dengan kuat. Kim San berusaha melepasnya, tapi Min Ho malah memegangnya dengan kuat.
“Apa maumu?” teriaknya.
Min Ho menatap Kim San dalma-dalam. Tangannya mulai melemas dan melepasnya. Darah mengucur dari bibir Min Ho saat dia berkata, “Aku tak pernah merasa dicintai. Hanya kau satu-satunya yang mencintaiku. Aku tak tahu bagaimana nanti kedepannya. Tapi, apa kau mau mengajariku agar bisa mencintaimu? Apa kau mau tetap mencintaiku dan kita menghadapi ini bersama?”
                Kim San bangkit.
Air matanya turun perlahan-lahan. Kim San memeluk Min Ho dan berkata dengan haru, “Aku mencintaimu Min Ho! Aku sangat mencintaimu!”
Tangan Min Ho perlahan-lahan mulai  memeluk tubuh Kim San.
                Seperti, yang kukatakan, ada banyak alasan kenapa seorang pria menjadi gay. Salah satunya, saat pria itu sendiri tidak ingin lagi mencintai wanita.
24
                Kim San hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuhnya. Tubuhnya yang berotot dibiarkanya terbuka. Matanya terpejam dan membiarkan nafas panjang. Keringat bermuncul dari tubuhnya. Dia sedang menikmati sauna bersama Min Ho. Dia memang menyewa tempat sauna itu untuk dia dan Min Ho. Berdua saja. Aku tak terlalu ingat berapa uang yang harus dia bayar. Tapi, yang jelas itu bukan hal yang sulit baginya.
                Min Ho  berbaring dengan menjadikan paha San sebagai bantalan.
                Sama seperti San, Min Ho juga hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya. Nafas keduanya terdengar beraturan, seperti irama yang diciptakan oleh tubuh secara otomatis. Bagi orang yang religius, Tuhanlah yang memberikan nafas itu sebagai anugerah. Tapi, bagi yang mengingkari adanya Tuhan, itu hanya sebuah kebetulan.
                Kim San dan Min Ho sebenarnya tidak terlalu berbeda usia. Mereka juga tak pernah memikirkan, siapakah yang menjadi pemeran pria dan pemeran wanita dalam hubungan mereka. Bagi mereka, mereka adalah pria dan mereka saling mencintai. Meski, bahkan bagi masyarakat Korea sekalipun, gay adalah masih sesuatu yang janggal. Keduanya tidak mempercayai Tuhan, menjadi seorang ateis[1] membuat keduanya bisa hidup tanpa aturan. Bagi keduanya, sangat merepotkan harus memilki keyakinan dan berusaha membenarkan tindakan mereka dengan mencari-cari dalil atau alasan yang jelas-jelas sebenarnya tidak ada[2].
                Kemudian, perlahan-lahan Kim San mengusap rambut Min Ho.
                “Apa kau bahagia bersamaku?” tanya San.
                “Apa maksudmu?” tanya Min Ho.
                “Tidak. Hanya, aku ingin tahu. Apa kau bahagia dengan kondisimu sekarang?” tanya San. “Hubungan kita ini, tidak akan membuat dunia mau mengakui keberadaan kita. Eksistensi kita. Kita tidak akan pernah memiliki anak. Meski, kita menikah sekalipun. Tapi, bagi negeri ini, kita tetap saja seorang lajang.”
                “Aku tidak masalah dengan itu. Aku juga tidak menginginkan keberadaan anak. Aku bahagia dengan kondisiku sekarang.” kata Min Ho.
                Kim San mencium pipi Min Ho dengan lembut.
                 Setelah itu, keduanya kembali diam. Hanya suara nafas mereka yang terdengar. Menikmati suhu panas di tengah cuaca dingin diluar sana. Aku tak tahu apakah diluar sana ada orang yang tak sengaja melihat atau mendengar percakapan Kim San dan Park Min Ho. Kalaupun ada, aku juga tak tahu apakah mereka akan menerima hal-hal semacam itu.
Aku sama sekali tidak tahu....
                Ketika di luar salju dengan lumayan lebat, Min Ho menceritakan banyak hal pada Kim San. Meski, Kim San sendiri hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Sesekali, dia akan tersenyum atau berkata, ‘begitukah?’ atau ‘benarkah?’ Lagi-lagi aku tak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan San saat itu. Mungkin, lebih tepat jika kukatakan aku tidak ingat.
                Tiba-tiba, setelah bercerita dengan begitu semangatnya. Min Ho diam. Kemudian, dia menatap Kim San dengan lembut. Tangannya memegang tangan Kim San dan berkata, “Terima kasih. Karena, kau telah mencintaiku.”
                Min Ho terdiam sebentar, setelah beberapa saat, barulah dia kembali bicara, “Aku senang karena kau mencintaiku. Aku senang karena kau mau hadir dalam kehidupanku. Aku bersyukur karena kita bertemu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada hidupku jika kita tidak bertemu. Apa yang kukhawatirkan dalam kehidupanku, jika aku tidak akan bahagia. Tak pernah menjadi kenyataan karena ada kau.”
                Benarkah? pikir San. Ada sebuah senyuman yang terbit di dalam hatinya. Sebuah senyuman kepuasan atas apa yang telah dia lakukan pada Min Ho.
                “Orang tuaku tak pernah mencintaiku. Aku tak tahu apa yang sebenarnya mereka ingin dari seorang anak. Tapi, bagi mereka aku hanyalah alat. Alat yang akan mereka gunakan untuk kepentingan mereka. Bagi mereka, aku hanyalah sesuatu yang akan menjadi pengikat dengan wanita yang nanti akan dijodohkan denganku.”
                “Maaf. Karena, aku hanya bisa memberikan cinta yang membeku padamu.” kata Kim San. “Maaf, karena mungkin cinta yang kuberikan adalah racun bagi tubuhmu yang bisa saja membunuhmu.”
                Min Ho menggelengkan kepalanya, “Meski, cintamu beracun dan akan membunuhku sekalipun. Aku akan tetap meminum racun itu sampai aku sendiri mati.”
                “Begitukah?” kata Kim San dengan sambil membuka matanya.
                “Ya. Aku akan mati, jika itu yang kau inginkan....”
                Kim San tersenyum. Senyuman yang lembut dan mungkin siapapun tidak akan percaya. Jika, sebentar lagi, hanya sebentar lagi, Kim San akan menjilat darah Min Ho. Karena, dengan ucapannya yang barusan, Kim San tahu dia telah membuat Min Ho sekarat dengan pedangnya yang berkarat.
                Dalam setiap perang, pasti akan ada korban tak bersalah yang menjadi korban. Korban dalam kisah ini, adalah Park Min Ho. Hanya satu kali, dia pernah bertindak sebagai Hanya satu kali. Kemudian, darah pun mengalir.......       



[1] masyarakat korea sebagian besar adalah ateis (tidak mempunyai agama). mayoritas kedua adalah penganut budha, kemudian Kristen. sementara, islam termasuk agama yang sangat minoritas di sana. Meski, masyarakat Korea sendiri cukup memahami kebiasaan islam secara ‘umum’. Seperti, orang islam, tidak minum-minuman keras, sholat (berdoa) lima kali sehari, tidak memakan babi dll.
[2] penulis seorang muslim dan penulis sendiri tidak membenarkan tindakan dan pemikiran seperti itu. Hanya saja, pada akhirnya, kita harus mengakui, jika di dunia ini. Ada orang-orang dengan pemikiran seperti itu. Setiap manusia, terlahir dengan kehidupan yang berbeda-beda.  Bagi, kita yang terlahir dengan keyakinan (entah itu muslim, Kristen dll) akan terbiasa dengan aturan dan menjadikan keyakinan kita sebagai panutan. Tapi, bagi mereka yang terlahir di negeri dengan mayoritas ateis/tidak memiliki keyakinan.  Pemikiran seperti ini, bisa jadi malah tidak aneh sama sekali.
novel ini tidak ditulis untuk membenarkan tindakan homoseksual. Apakah itu gay ataupun lesbian. Melainkan, hanya untuk membuka mata kita jika hal semacam ini (homoseksual) bisa terjadi dimanapun pada siapapun dengan berbagai alasan. Dalam islam sendiri, homoseksual termasuk hal yang paling terlarang. Tapi, yang mengkhawatirkan adalah fakta jika penjelasan tentang homoseksual itu sendiri tidak terlalu sering disinggung. Berbeda dengan zina, padahal, homoseksual tak kalah berbahayanya dari zina. Bahkan, hukuman bagi pelaku liwath juga bisa lebih berat dari pelaku zina. tugas kita adalah mencegah dan mengobati hal-hal seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar