22
Sebenarnya, aku tak ingin
menceritakan bagian ini. Tapi, akhirnya, kutulis juga meski dengan perasaan tak
menentu. Seperti yang kalian tahu. Kim San telah memalsukan identitasnya ketika
kuliah. Mengganti namanya dari Kim Tae Ho menjadi Kim San.
Karena, San tahu tak mungkin
menjadi kaya hanya dengan modal kejujuran. Karena itu, dia memutuskan untuk
melakukannya. Membayar dengan harga yang tinggi menjadi bayaran untuk masuk ke
salah satu universitas. Dalam waktu beberapa tahun, kecerdasan, ketampanan dan
prestasi-prestasinya terkenal ke segala
penjuru kampus. Kim San menjadi idola dan juga menjadi magnet bagi setiap orang
yang mengenalnya.
Kim
San tidak tinggal di asrama, tapi tinggal di sebuah apartemen di dekat
universitas. Kim San memutuskan untuk
melakukannya, karena akan lebih mudah bekerja sambil kuliah jika bisa tinggal
diluar asrama. Merepotkan memang, tapi bagi San itu tak apa-apa. Dia anggap itu
menjadi bayaran untuknya.
Kim
San, sejak sudah memilah-milah siapa yang akan menjadi sasarannya. Dia sudah memikirkan akan menghamili seorang
mahasiswi perempuan dan menikah dengannya. Kim San berpikir untuk memilih
siapa. Apakah Go Bong Hee yang merupakan anak dari salah satu pengusaha
terkemuka di Korea? Ataukah Choi Yoon Hee
yang merupakan salah satu anak dari pejabat tinggi di Korea? Atau Sun
Young yang anak pemilik agensi besar Apolo Entertainment? Seperti yang kalian
tahu, meski, Kim San membenci wanita. Tidak berarti, dia akan menolak mereka.
Kim San justru akan memanfaatkan
mereka.
Tapi,
saat Kim San berusaha mendekati salah satu dari mereka. Ada seorang siswa
berkaca mata dan kelihatannya sama sekali tidak menarik. Dia pria pendiam dan
juga penyendiri. Penyendiri dalam artian dia adalah sasaran dari kekerasan yang
sering dilakukan oleh anak-anak berkuasa lain. Rambutnya yang hitam sering
dibiarkan kusut dan tidak terurus. Giginya dipagari kawat dengan mata yang
selalu bengkak karena dua hal. Jika, tidak menangis, ya karena dipukuli.
Badannya kurus dan tampak lemah.
Nama
pria itu Park Min Ho
Anak
dari Park Jae Seong dan Choi Jin Hee dari Grup DK.
Saat,
Kim San melihatnya, dia memutuskan untuk menghancurkan hidupnya. Mungkin, tak
jauh bedanya dengan setan yang berjanji pada Tuhan akan membawa manusia ke
dalam neraka bersama dirinya. Kim San juga memutuskan untuk menjadikannya
bejat, seperti diriku. Menjadikannya homoseksual dan mengajaknya masuk ke dalam neraka bersamanya.
#####
Park
Min Ho berjalan dalam gelap. Dia disuruh oleh Hyun Chul –seorang mahasiswa yang
berbadan besar- untuk mengambil air.
Mereka kehabisan air di kamar. Min Ho berjalan dengan hati-hati agar air yang
dibawanya tidak jatuh. Dia membawa terlalu banyak air.
Min Ho memang tinggal di asrama.
Dia sudah sering mengatakan pada kedua
orang tuanya agar pindah ke rumah saja. Tapi, kedua orang tuanya tidak pernah
mengindahkannya.
Dari
kejauhan, dia melihat sepasang muda mudi yang saling berciuman di tempat gelap.
Satu-satunya yang menakutkan bagi Min Ho adalah jika mereka merasa terganggu
dan menghajarnya. Min Ho berusaha berjalan sepelan dan secepat mungkin. Tapi,
tiba-tiba dari arah lain tampak ada yang berjalan ke arahnya dan menabraknya.
Air dan teko yang dipegangnya berjatuhan di lantai.
Min
Ho terkejut.
“Apa
yang kau lakukan?” teriak mahasiswa yang ditabrak.
Mahasiswa
yang tadi berciuman merasa terganggu dan kenyataannya mereka langsung mendekat
dan marah. Apalagi saat mereka tahu jika Min Ho yang membawanya. Tanpa ragu Min
Ho dihajar sampai babak belur. Mereka menginjak-nginjak kakinya tanpa ragu.
Min Ho berusaha melindungi
kepalanya dengan tangannya sendiri. Min Hi tak pernah berharap ada yang
menolongnya. Tak pernah satu kalipun. Dia menyadari apa yang menjadi posisinya
di tempat ini. Min Ho terus diinjak-injak tanpa ragu. Sampai barulah mereka
berhenti saat ada seorang pria yang mendekat ke arahnya. Pria itu tampak marah
dan murka.
“Apa
yang kalian lakukan?”
Mereka
berhenti dan melakukannya. Melihat pada pria itu dan tertawa mengejeknya.
“Untuk
apa kau membelanya?”
“Tidak.
Aku tak tertarik membelanya. Aku hanya berpikir ini keterlaluan.”
Mereka
tampaknya enggan untuk berurusan dengan pria itu dan mulai pergi. Ya, Kim San
datang membantunya. Mulai memainkan perannya sebagai pria baik hati dan
hangat. Aku tahu jika saat itu, ada
secercah perasaan senang dalam hati Min Ho karena seseorang datang menolongnya.
Cahaya
yang datangnya dari iblis.
23
Aku ingin sekali menceritakan
pada kalian bagaimana sepak terjang Kim San dalam mengubah Min Ho agar menjadi
seorang gay. Tapi, tiba-tiba aku jadi berubah pikiran. Kupikir akan lebih
bijaksana jika aku menjelaskannya dengan sederhana. Sebab, hal semacam ini
mungkin bukan sesuatu yang pantas untuk diceritakan dengan panjang lebar.
Sejak
saat itu, San selalu melindungi Min Ho Jika ada yang mengganggunya Kim San akan
datang untuk segera menolongnya. Jika, ada yang menjahilinya Kim San akan
berusaha membantunya. Kim San selalu melakukan itu semampunya. Kim San juga berusaha
agar sekuat mungkin bisa menahan rasa sakit yang dia alami.
Kenyataan jika kedua orang tua
Min Ho sama sekali tidak mencintai dan menyayanginya. Membuat segalanya lebih
mudah bagi Kim San. Homoseksual bisa terjadi karena berbagai macam hal. Salah satunya,
jika pria itu sendiri sudah tidak ingin mencintai wanita lagi.
Min Ho sedang menuju
kehancurannya sendiri.
Tapi, Kim San tidak akan
berhenti. Seperti, yan dikatakan Jung Woo. Hal yang paling menakutkan dari San
adalah saat dia memutuskan untuk menghancurkan hidup seseorang. Kim San tidak
akan menggunakan pedang tajam, melainkan pedang berkarat yang sangat
menyakitkan.
Lalu, dia menggesekannya ke
leher lawannya.
Terus dengan sabar....
Sampai lawannya mati.
#####
Semuanya berawal dari
pertemanan.
Awalnya, Min Ho heran karena ada
yang mau menolongnya. Baginya ini sangat aneh karena awalnya tak ada satupun
yang mau menolongnya. Keduanya berteman dengan baik dan bisa dibilang menjadi
sahabat. Kim San dan Min Ho sering bercerita tentang masing-masing diri mereka.
Dia juga tanpa ragu menceritakan bagaimana perlakuan kedua orang tuanya
padanya.
“Mereka hanya menganggapku
sebagai alat! Apa kau mengerti San?”
Aku menggeleng, pura-pura tidak
mengerti.
“Mereka hanya ingin agar aku
menjadi pion yang bisa dengan sesuka hati mereka gerakan. Aku yakin jika nanti
mereka akan memintaku menikah dengan seorang anak orang kaya sebagai alat untuk
menyatukan dua perusahaan!”
Mereka berteman seperti itu
selama beberapa tahun.
Sampai tahun ketiga mereka
kuliah.
Waktu itu, aku masih ingat
dengan jelas Kim San dan Min Ho sedang duduk berdua di atas loteng. Sebuah
tempat yang hanya mereka berdua yang tahu. Mereka sering sekali mengobrol dan
saling bercanda bersama. Tiba-tiba saat keduanya mengobrol, Min Ho bertanya, “Untuk apa sebenarnya kau mendekatiku?” kata
Min Ho sambil menundukkan kepalanya.
Kim San tahu dia agak ragu untuk
bertanya. “Jika, kau mendekatiku hanya untuk uang. Kau tahu bukan jika ayah dan
ibuku bahkan mungkin tidak akan pernah memberikan uang padaku jika memang tidak
ada untungnya bagi mereka?”
Kim San pura-pura marah.
“Apa maksudmu? Apa kau pikir aku
hanya berteman denganmu demi uang?” kata Kim San. Kim San akan berdiri, tapi
tangan Min Ho langsung memegang tangannya dan berkata, “Maaf! Aku tahu ini
kurang sopan. Aku hanya merasa takut jika kau mengharapkan lebih darimu. Kau satu-satunya
teman bagiku.”
Kim San menghela napas panjang.
“Aku tak yakin akan
menceritakannya padamu.” kata San. Kim San memperlihatkan kegugupanku dengan
sangat baik.
“Tak apa-apa. Ceritakan saja!
Bukankah kita ini teman?”
Dia tersenyum tulus.
Kim San juga tersenyum
membalasnya.
Kim San memegang tangan Min Ho
dengan hangat dan berkata dengan perlahan, “Aku menyukaimu.”
Min Ho tampaknya agak terkejut,
tapi berusaha menymbunyikannya. Dia berkata, “Aku juga menyukaimu.” Kim San
menggeleng dengan tegas. Dia berkata,
“Bukan seperti itu. Aku menyukaimu. Seperti seorang wanita mencintai seorang
pria atau sebaliknya.”
Min Ho terkejut.
Dia kelihatan jijik pada San.
Dengan segera dia melepas tangannya dan berlari menjauh dari San. Sama sekali
tidak menoleh atau sekedar melirik pada San. Dengan cepat tubuhnya sudah
menghilang dari pandanganku.
Kim San hanya tersenyum saat
melihatnya.
#####
Kim San berlari dengan tergesa-gesa. Keringat
bercucuran dari tubuhnya. Min Ho sedang disiksa! Dia harus menolongnya! Benar saja, di salah satu
sudut universitas yang jarang digunakan.
Min Ho dipukuli habis-habisan oleh beberapa mahasiswa.
Dengan berani Kim San menerobos mereka dan
berteriak dengan kencang, “Apa yang kalian lakukan?”
Mereka hanya terkekeh.
“Apa kalian tidak punya hati?”
“Kau ini banyak bicara!” kata
salah satu dari mereka. Mereka gantian menghajar San dan menyiksanya. “Tadinya,
kami tak mau menyiksamu. Tapi, kau mau berteman dengan orang sepertinya. Kau
pantas menjadi sampah yang pantas diinjak sama sepertinya.”
“Memang kenapa?” kata San dengan
tangan menutupi kepalanya. Sementara, kaki-kaki mereka menendangi perutku.
“Memang kenapa jika kami berteman? Memang kenapa jika aku menyukainya? Apa itu
menjadi masalah?”
Mereka terus menghajar Kim San
sampai dia tak bisa bergerak. Baru sekitar dua jam kemudian, mereka pergi
karena bosan. Min Ho bangkit dan mendekatiku. Badannya tak kalah babak belurnya
dengan San. Sejak kejadian itu Min Ho memang tidak mau bertemu denganku lagi.
Karema itu, Kim San berusaha menjauh.
“Jangan dekat-dekat! Bukankah
bagimu aku ini mahluk hina?”
Min Ho tampak merasa bersalah.
Dia memegang tanganku dengan
kuat. Kim San berusaha melepasnya, tapi Min Ho malah memegangnya dengan kuat.
“Apa maumu?” teriaknya.
Min Ho menatap Kim San
dalma-dalam. Tangannya mulai melemas dan melepasnya. Darah mengucur dari bibir
Min Ho saat dia berkata, “Aku tak pernah merasa dicintai. Hanya kau
satu-satunya yang mencintaiku. Aku tak tahu bagaimana nanti kedepannya.
Tapi, apa kau mau mengajariku agar bisa mencintaimu? Apa kau mau tetap
mencintaiku dan kita menghadapi ini bersama?”
Kim
San bangkit.
Air matanya turun
perlahan-lahan. Kim San memeluk Min Ho dan berkata dengan haru, “Aku
mencintaimu Min Ho! Aku sangat mencintaimu!”
Tangan Min Ho perlahan-lahan
mulai memeluk tubuh Kim San.
Seperti,
yang kukatakan, ada banyak alasan kenapa seorang pria menjadi gay. Salah
satunya, saat pria itu sendiri tidak ingin lagi mencintai wanita.
24
Kim
San hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuhnya. Tubuhnya yang berotot
dibiarkanya terbuka. Matanya terpejam dan membiarkan nafas panjang. Keringat
bermuncul dari tubuhnya. Dia sedang menikmati sauna bersama Min Ho. Dia memang
menyewa tempat sauna itu untuk dia dan Min Ho. Berdua saja. Aku tak terlalu
ingat berapa uang yang harus dia bayar. Tapi, yang jelas itu bukan hal yang
sulit baginya.
Min
Ho berbaring dengan menjadikan paha San
sebagai bantalan.
Sama
seperti San, Min Ho juga hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya. Nafas
keduanya terdengar beraturan, seperti irama yang diciptakan oleh tubuh secara
otomatis. Bagi orang yang religius, Tuhanlah yang memberikan nafas itu sebagai
anugerah. Tapi, bagi yang mengingkari adanya Tuhan, itu hanya sebuah kebetulan.
Kim
San dan Min Ho sebenarnya tidak terlalu berbeda usia. Mereka juga tak pernah
memikirkan, siapakah yang menjadi pemeran pria dan pemeran wanita
dalam hubungan mereka. Bagi mereka, mereka adalah pria dan mereka saling
mencintai. Meski, bahkan bagi masyarakat Korea sekalipun, gay adalah masih
sesuatu yang janggal. Keduanya tidak mempercayai Tuhan, menjadi seorang ateis[1] membuat
keduanya bisa hidup tanpa aturan. Bagi keduanya, sangat merepotkan harus
memilki keyakinan dan berusaha membenarkan tindakan mereka dengan
mencari-cari dalil atau alasan yang jelas-jelas sebenarnya tidak ada[2].
Kemudian,
perlahan-lahan Kim San mengusap rambut Min Ho.
“Apa
kau bahagia bersamaku?” tanya San.
“Apa
maksudmu?” tanya Min Ho.
“Tidak.
Hanya, aku ingin tahu. Apa kau bahagia dengan kondisimu sekarang?” tanya San.
“Hubungan kita ini, tidak akan membuat dunia mau mengakui keberadaan kita.
Eksistensi kita. Kita tidak akan pernah memiliki anak. Meski, kita menikah
sekalipun. Tapi, bagi negeri ini, kita tetap saja seorang lajang.”
“Aku
tidak masalah dengan itu. Aku juga tidak menginginkan keberadaan anak. Aku
bahagia dengan kondisiku sekarang.” kata Min Ho.
Kim
San mencium pipi Min Ho dengan lembut.
Setelah itu, keduanya kembali diam. Hanya
suara nafas mereka yang terdengar. Menikmati suhu panas di tengah cuaca dingin
diluar sana. Aku tak tahu apakah diluar sana ada orang yang tak sengaja melihat
atau mendengar percakapan Kim San dan Park Min Ho. Kalaupun ada, aku juga tak
tahu apakah mereka akan menerima hal-hal semacam itu.
Aku sama sekali tidak tahu....
Ketika
di luar salju dengan lumayan lebat, Min Ho menceritakan banyak hal pada Kim
San. Meski, Kim San sendiri hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Sesekali,
dia akan tersenyum atau berkata, ‘begitukah?’ atau ‘benarkah?’ Lagi-lagi aku
tak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan San saat itu. Mungkin, lebih tepat jika
kukatakan aku tidak ingat.
Tiba-tiba,
setelah bercerita dengan begitu semangatnya. Min Ho diam. Kemudian, dia menatap
Kim San dengan lembut. Tangannya memegang tangan Kim San dan berkata, “Terima
kasih. Karena, kau telah mencintaiku.”
Min
Ho terdiam sebentar, setelah beberapa saat, barulah dia kembali bicara, “Aku
senang karena kau mencintaiku. Aku senang karena kau mau hadir dalam
kehidupanku. Aku bersyukur karena kita bertemu. Aku tak tahu apa yang akan
terjadi pada hidupku jika kita tidak bertemu. Apa yang kukhawatirkan dalam
kehidupanku, jika aku tidak akan bahagia. Tak pernah menjadi kenyataan karena
ada kau.”
Benarkah?
pikir San. Ada sebuah senyuman yang terbit di dalam hatinya. Sebuah
senyuman kepuasan atas apa yang telah dia lakukan pada Min Ho.
“Orang
tuaku tak pernah mencintaiku. Aku tak tahu apa yang sebenarnya mereka ingin
dari seorang anak. Tapi, bagi mereka aku hanyalah alat. Alat yang akan mereka
gunakan untuk kepentingan mereka. Bagi mereka, aku hanyalah sesuatu yang akan
menjadi pengikat dengan wanita yang nanti akan dijodohkan denganku.”
“Maaf.
Karena, aku hanya bisa memberikan cinta yang membeku padamu.” kata Kim San.
“Maaf, karena mungkin cinta yang kuberikan adalah racun bagi tubuhmu yang bisa
saja membunuhmu.”
Min
Ho menggelengkan kepalanya, “Meski, cintamu beracun dan akan membunuhku
sekalipun. Aku akan tetap meminum racun itu sampai aku sendiri mati.”
“Begitukah?”
kata Kim San dengan sambil membuka matanya.
“Ya.
Aku akan mati, jika itu yang kau inginkan....”
Kim
San tersenyum. Senyuman yang lembut dan mungkin siapapun tidak akan percaya.
Jika, sebentar lagi, hanya sebentar lagi, Kim San akan menjilat darah Min Ho.
Karena, dengan ucapannya yang barusan, Kim San tahu dia telah membuat Min Ho
sekarat dengan pedangnya yang berkarat.
Dalam setiap perang, pasti akan
ada korban tak bersalah yang menjadi korban. Korban dalam kisah ini, adalah
Park Min Ho. Hanya satu kali, dia pernah bertindak sebagai Hanya satu kali. Kemudian, darah
pun mengalir.......
[1]
masyarakat korea sebagian besar adalah ateis (tidak mempunyai agama). mayoritas
kedua adalah penganut budha, kemudian Kristen. sementara, islam termasuk agama
yang sangat minoritas di sana. Meski, masyarakat Korea sendiri cukup memahami
kebiasaan islam secara ‘umum’. Seperti, orang islam, tidak minum-minuman keras,
sholat (berdoa) lima kali sehari, tidak memakan babi dll.
[2]
penulis seorang muslim dan penulis sendiri tidak membenarkan tindakan dan
pemikiran seperti itu. Hanya saja, pada akhirnya, kita harus mengakui, jika di
dunia ini. Ada orang-orang dengan pemikiran seperti itu. Setiap manusia,
terlahir dengan kehidupan yang berbeda-beda.
Bagi, kita yang terlahir dengan keyakinan (entah itu muslim, Kristen
dll) akan terbiasa dengan aturan dan menjadikan keyakinan kita sebagai panutan.
Tapi, bagi mereka yang terlahir di negeri dengan mayoritas ateis/tidak memiliki
keyakinan. Pemikiran seperti ini, bisa
jadi malah tidak aneh sama sekali.
novel ini tidak ditulis untuk membenarkan tindakan
homoseksual. Apakah itu gay ataupun lesbian. Melainkan, hanya untuk membuka
mata kita jika hal semacam ini (homoseksual) bisa terjadi dimanapun pada
siapapun dengan berbagai alasan. Dalam islam sendiri, homoseksual termasuk hal
yang paling terlarang. Tapi, yang mengkhawatirkan adalah fakta jika penjelasan
tentang homoseksual itu sendiri tidak terlalu sering disinggung. Berbeda dengan
zina, padahal, homoseksual tak kalah berbahayanya dari zina. Bahkan, hukuman
bagi pelaku liwath juga bisa lebih berat dari pelaku zina. tugas kita adalah
mencegah dan mengobati hal-hal seperti ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar