baru

Jumat, 22 Mei 2015

wangja 26

26
            Kim San memegang bibirnya yang mengeluarkan darah.
            Salah satu dokter mendatanginya dan mengobati lukanya. Kim San sudah menceritakan semua kejadian yang terjadi dengan versi-nya sendiri, “Ketika aku masuk ke sana dan membeli beberapa hal yang kuperlukan. Tiba-tiba ada dua orang yang berpakaian serba hitam dan mengenakan sarung tangan serta tutup kepala masuk. Mereka menyuruhku untuk menempel ke dinding dan  saat itu aku berusaha melawan mereka. Kemudian, salah satu dari mereka saling menembak dan aku tak yakin apa lagi yang terjadi. Entah, perampok yang pertama akan menembak perampok yang kedua atau sebaliknya. Aku sama sekali tak tahu........” kata Kim San. “Tahu-tahu mereka sudah pingsan satu sama lain. Luka di tubuh saya ini karena tak sengaja terserempet peluru......”
            “Perempuan itu langsung ketakutan dan pingsan setelah mendengar tembakan.” kata Kim San dengan gemetar. “Tadi, dia akan memberikan uang pada para perampok itu. Pasti saat itu dia ketakutan setengah mati......”
            Hanya itu yang Kim San ceritakan dan sepertinya mereka percaya saja. Sebenarnya, justru sangat aneh jika mereka tak percaya. Mereka juga tampaknya percaya jika So Hee memang pingsan karena ketakutan dan  para perampok itu yang menghancurkan CCTV dan komputer.
Mungkin, karena para perampok itu ternyata sudah lama menjadi buron. Setelah itu, Kim San tidak memperpanjang lagi masalah dan berpamitan pada para polisi itu. Salah satu polisi mendekatinya dan berkata dengan serius, “Apa kasir wanita itu tidak apa-apa kami tinggalkan bersama Anda? Tadi, kami sudah menyuruh tim medis untuk mengobatinya. Tapi, karena kami tidak menemukan kartu identitasnya –mungkin dia lupa membawanya-  kami jadi tidak bisa mengantarkannya ke rumahnya.”
            “Ah, tidak apa-apa. Saya pikir lebih baik kami yang mengurusnya.....” kata Kim San. Polisi itu mengeangguk dan percaya saja  pada apa yang dikatakan Kim San. Karena, sudah Kim San menyerahkan kartu namanya padanya.
            Sebab, untuk para pemegang kekusaan sepertinya. Untuk melakukan sebuah tindakan kriminal harus berpikir beberapa kali, karena salah-salah hanya akan mencoreng nama sendiri. Mungkin, itulah yang dipikirkan polisi itu tentang Kim San. Sehingga dengan senang senang hati menyerahkan So Hee padanya
 Petugas medis sudah pergi, begitupula dengan para penjahat. Kim San mendekati mobilnya, sementara So Hee masih pingsan. Tapi, untungnya tak ada luka serius padanya. Kim San hanya memukul perut dan tengkuknya agar dia pingsan. Jung Woo berdiri memandangiku yang terluka, “Anda baik-baik saja?”
            “Ya. Aku baik-baik saja.” katanya.
            Kim San memegang beberapa luka di wajah yang sebenarnya dibuatnya sendiri.
            “Kenapa tidak bilang kalau kau menghajar mereka?”
            “Tak ada gunanya membuang-buang waktu. Yang penting mereka sudah tertangkap. Kalau aku tidak melukai diriku sendiri, mungkin mereka akan memikirkan kemungkinan jika aku yang menghancurkan rekaman CCTV dan mereka pasti akan mencari tahu kenapa aku melakukannya. Itu akan sangat merepotkan. Lebih baik, aku melukai diriku sendiri. Jika, nanti perampok itu sadar sekalipun dan mengatakan kalau mereka tidak menghancurkan CCTV. Kemungkinan polisi untuk percaya sangat kecil, karena aku terluka cukup parah saat polisi-polisi itu datang.” kata San.
Luka di bahunya sudah diberi obat pereda rasa sakit seperlunya dan diperban. So Hee kemudian bangun perlahan dan terlihat sedikit terkejut. Dia memalingkan wajahnya kesana-kemari seolah mencari informasi dimana dia saat ini.
            Matanya kembali menjadi seperti biasa.
            Setelah, sadar sepenuhnya. So Hee melangkah keluar dari mobil dan hanya melihat Kim San sebentar. Lalu, berjalan meninggalkannya. Badai salju sudah mulai turun lagi. Suhu juga sudah mulai turun sangat drastis. Mungkin, hanya beberapa derajat celsius. So Hee yang hanya mengenakan pakaian seadanya dan jaket berwarna hijau itu berjalan dengan terseok-seok. Mungkin, masih terasa agak sakit karena pukulan San.
            “Apa kau tidak berterima kasih padaku?”
            So Hee tidak mendengarkan, hanya terus berjalan.
            “Untuk sekedar  menyelamatkan nyawamu?”
            So Hee terus berjalan.  Kim San sudah memutuskan memanfaatkannya. Apa kalian pikir dia akan berhenti? Seperti, yang Jung Woo katakan. Saat dia memutuskan untuk menghancurkan seseorang, dia bisa menunggunya selama bertahun-tahun. Kim San akan melakukan apapun agar balas dendam ini tercapai sempurna.
            “Kau mau bekerja denganku?” kata San lagi. So Hee tidak mau meski hanya sekedar menoleh. Kim San kembali berkata dengan nada lebih kencang, saat itu mungkin sekitar pukul dua pagi. Semua orang sudah tidak ada di sini. Mungkin, sudah tidur dengan nyenyak di rumah mereka masing-masing. Kalapun ada yang lewat –baik dengan kendaraan atau jalan kaki- pasti tak akan mendengar saat dia berkata, “Kalau kau begitu ingin mati. Bagaimana kalau bekerja denganku saja?”
            So Hee berhenti, dia menolehkan kepalanya.
Mata keduanya bertatapan. Ya, Kim San  tidak memperlihatkan senyumnya lagi. Raut wajahnya menjadi serius dan dia tidak menyembunyikan kebenciannya lagi. Pada semua wanita. Kim San tidak menyembunyikan sifat aslinya lagi. Topeng orang baik yang selama ini dia kenakan. Sudah dia lepaskan.
            “Bekerjalah denganku...” katanya dengan nada dingin.
Angin musim dingin mulai berhembus dengan kencang mengantarkan, suara Kim San pada So Hee.
            “Imbalannya adalah kematianmu.”
            Kim San kembali mengulanginya perlahan-lahan, Jung Woo hanya bisa memandangi Kim San tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Tapi, Kim San sudah tidak memperdulikannya. Dia sekali lagi berkata dengan halus, tapi sangat tajam. “Bekerjalah padaku. Lakukan semua yang kusuruh dan sebagai imbalannya........”
“Aku akan membunuhmu....”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar