26
Kim San memegang bibirnya yang
mengeluarkan darah.
Salah satu dokter mendatanginya dan
mengobati lukanya. Kim San sudah menceritakan semua kejadian yang terjadi
dengan versi-nya sendiri, “Ketika aku masuk ke sana dan membeli beberapa
hal yang kuperlukan. Tiba-tiba ada dua orang yang berpakaian serba hitam dan
mengenakan sarung tangan serta tutup kepala masuk. Mereka menyuruhku untuk
menempel ke dinding dan saat itu aku
berusaha melawan mereka. Kemudian, salah satu dari mereka saling menembak dan
aku tak yakin apa lagi yang terjadi. Entah, perampok yang pertama akan menembak
perampok yang kedua atau sebaliknya. Aku sama sekali tak tahu........” kata Kim
San. “Tahu-tahu mereka sudah pingsan satu sama lain. Luka di tubuh saya ini
karena tak sengaja terserempet peluru......”
“Perempuan itu langsung ketakutan
dan pingsan setelah mendengar tembakan.” kata Kim San dengan gemetar. “Tadi,
dia akan memberikan uang pada para perampok itu. Pasti saat itu dia ketakutan
setengah mati......”
Hanya itu yang Kim San ceritakan dan
sepertinya mereka percaya saja. Sebenarnya, justru sangat aneh jika mereka tak
percaya. Mereka juga tampaknya percaya jika So Hee memang pingsan karena
ketakutan dan para perampok itu yang
menghancurkan CCTV dan komputer.
Mungkin,
karena para perampok itu ternyata sudah lama menjadi buron. Setelah itu, Kim San
tidak memperpanjang lagi masalah dan berpamitan pada para polisi itu. Salah
satu polisi mendekatinya dan berkata dengan serius, “Apa kasir wanita itu tidak
apa-apa kami tinggalkan bersama Anda? Tadi, kami sudah menyuruh tim medis untuk
mengobatinya. Tapi, karena kami tidak menemukan kartu identitasnya –mungkin dia
lupa membawanya- kami jadi tidak bisa
mengantarkannya ke rumahnya.”
“Ah, tidak apa-apa. Saya pikir lebih
baik kami yang mengurusnya.....” kata Kim San. Polisi itu mengeangguk dan
percaya saja pada apa yang dikatakan Kim
San. Karena, sudah Kim San menyerahkan kartu namanya padanya.
Sebab,
untuk para pemegang kekusaan sepertinya. Untuk melakukan sebuah tindakan
kriminal harus berpikir beberapa kali, karena salah-salah hanya akan mencoreng
nama sendiri. Mungkin, itulah yang dipikirkan polisi itu tentang Kim San. Sehingga
dengan senang senang hati menyerahkan So Hee padanya
Petugas medis sudah pergi, begitupula dengan
para penjahat. Kim San mendekati mobilnya, sementara So Hee masih pingsan. Tapi,
untungnya tak ada luka serius padanya. Kim San hanya memukul perut dan
tengkuknya agar dia pingsan. Jung Woo berdiri memandangiku yang terluka, “Anda
baik-baik saja?”
“Ya. Aku baik-baik saja.” katanya.
Kim San memegang beberapa luka di
wajah yang sebenarnya dibuatnya sendiri.
“Kenapa tidak bilang kalau kau
menghajar mereka?”
“Tak ada gunanya membuang-buang
waktu. Yang penting mereka sudah tertangkap. Kalau aku tidak melukai diriku
sendiri, mungkin mereka akan memikirkan kemungkinan jika aku yang menghancurkan
rekaman CCTV dan mereka pasti akan mencari tahu kenapa aku melakukannya. Itu
akan sangat merepotkan. Lebih baik, aku melukai diriku sendiri. Jika, nanti
perampok itu sadar sekalipun dan mengatakan kalau mereka tidak menghancurkan
CCTV. Kemungkinan polisi untuk percaya sangat kecil, karena aku terluka cukup
parah saat polisi-polisi itu datang.” kata San.
Luka
di bahunya sudah diberi obat pereda rasa sakit seperlunya dan diperban. So Hee
kemudian bangun perlahan dan terlihat sedikit terkejut. Dia memalingkan
wajahnya kesana-kemari seolah mencari informasi dimana dia saat ini.
Matanya kembali menjadi seperti
biasa.
Setelah, sadar sepenuhnya. So Hee
melangkah keluar dari mobil dan hanya melihat Kim San sebentar. Lalu, berjalan
meninggalkannya. Badai salju sudah mulai turun lagi. Suhu juga sudah mulai
turun sangat drastis. Mungkin, hanya beberapa derajat celsius. So Hee yang
hanya mengenakan pakaian seadanya dan jaket berwarna hijau itu berjalan dengan
terseok-seok. Mungkin, masih terasa agak sakit karena pukulan San.
“Apa kau tidak berterima kasih
padaku?”
So Hee tidak mendengarkan, hanya
terus berjalan.
“Untuk sekedar menyelamatkan nyawamu?”
So Hee terus berjalan. Kim San sudah memutuskan memanfaatkannya. Apa
kalian pikir dia akan berhenti? Seperti, yang Jung Woo katakan. Saat dia
memutuskan untuk menghancurkan seseorang, dia bisa menunggunya selama
bertahun-tahun. Kim San akan melakukan apapun agar balas dendam ini tercapai
sempurna.
“Kau mau bekerja denganku?” kata San
lagi. So Hee tidak mau meski hanya sekedar menoleh. Kim San kembali berkata
dengan nada lebih kencang, saat itu mungkin sekitar pukul dua pagi. Semua orang
sudah tidak ada di sini. Mungkin, sudah tidur dengan nyenyak di rumah mereka
masing-masing. Kalapun ada yang lewat –baik dengan kendaraan atau jalan kaki-
pasti tak akan mendengar saat dia berkata, “Kalau kau begitu ingin mati.
Bagaimana kalau bekerja denganku saja?”
So Hee berhenti, dia menolehkan
kepalanya.
Mata
keduanya bertatapan. Ya, Kim San tidak
memperlihatkan senyumnya lagi. Raut wajahnya menjadi serius dan dia tidak
menyembunyikan kebenciannya lagi. Pada semua wanita. Kim San tidak
menyembunyikan sifat aslinya lagi. Topeng orang baik yang selama ini dia
kenakan. Sudah dia lepaskan.
“Bekerjalah denganku...” katanya
dengan nada dingin.
Angin
musim dingin mulai berhembus dengan kencang mengantarkan, suara Kim San pada So
Hee.
“Imbalannya adalah kematianmu.”
Kim San kembali mengulanginya
perlahan-lahan, Jung Woo hanya bisa memandangi Kim San tanpa tahu apa yang harus
dilakukan. Tapi, Kim San sudah tidak memperdulikannya. Dia sekali lagi berkata
dengan halus, tapi sangat tajam. “Bekerjalah padaku. Lakukan semua yang kusuruh
dan sebagai imbalannya........”
“Aku
akan membunuhmu....”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar