25
Kim San melangkahkan kakinya ke
dalam mobil. Setelah mengantarkan Min Ho pulang ke apartemen mereka. Kim San
memutuskan untuk tidak tidur di sana malam ini. Kim San sedang tidak ingin
melakukannya. Kim San sendiri tak tahu kenapa. Dia hanya sedang tidak ingin
melakukannya.
Kim
San masuk ke dalam mobil. Salju sudah mulai tinggi. Orang-orang yang lalu
lalang menjadi lebih sedikit jika
dibandingkan hari-hari yang biasa. Suhu juga mulai bertambah dingin.
“Kemana?”
tanya Jung Woo
“Ke
tempat So Hee.” kataku. Jung Woo mengerti dan tidak banyak bicara lagi. Dengan
cepat dia melajukan mobilnya. Kim San memandangi salju yang semakin lama semakin banyak. Menutupi pohon-pohon, atap
mobil, atap rumah, beberapa danau kecil menjadi beku dan terkadang menjadi
tempat ice skating di waktu siang. Setelah, beberapa lama, keduanya
sampai ke tempat yang dituju.
Kim
San turun dari mobil dan berjalan perlahan masuk ke dalam mini market dimana So
Hee bekerja. Kim San melihat So Hee bekerja semestinya. Seperti biasa, dia
tidak mengatakan apapun dan hanya diam.
Kim
San memperhatikan So Hee diam-diam sambil memilih barang-barang yang akan dia
beli. Untung dia mengenakan sarung tangan hitam, sehingga tangannya tidak
terlalu terasa dingin. Akhirnya, Kim San memutuskan membeli beberapa coke
dan jus kalengan yang hangat.
Saat,
dia akan membayar, tiba-tiba dua orang pria masuk ke dalam mini market. Wajah
mereka ditutupi oleh topeng berwarna hitam dan Kim San sadar jika mini market
akan dirampok. Perampok pertama berbadan
besar dan perampok yang masuk kedua berbadan lebih kecil. Tak ada siapa-siapa
di mini market ini kecuali mereka berdua. Mana mungkin ada orang yang mau
datang ke mini market saat malam sudah larut dan badai salju juga akan segera
datang.
Salah satu perampok langsung berteriak,
“Angkat tanganmu!”
Kim San mengangkat tangannya. Salah
satu dari mereka mendekati San dan menyuruhnya membalikkan badannya, lalu
memeriksa tubuhnya. Kim San menolehkan wajahnya dan saat itulah dia melihat So
Hee.
Setelah tiga tahun memperhatikannya, baru
sekarang tatapan matanya sedikit berubah menjadi lebih bergairah...
So
Hee tidak mengangkat tangan. Dia hanya diam. Matanya sama sekali tidak terlihat
takut. Dia hanya diam di sana. Mungkin, kurang tepat jika kukatakan dia sedang
melindungi uang majikannya. Lebih, tepat jika kukatakan, sedang membiarkan
dirinya agar bisa dibunuh oleh perampok itu.
“Tembak
aku.” katanya dengan manatap salah satu perampok itu.
“Kau mau uang?” katanya. “Kau hanya
bisa mengambilnya setelah membunuhku. Aku tak akan membiarkanmu mengambilnya.”
Perampok pertama kelihatan ragu.
Saat perhatian perampok kedua teralihkan Kim San mendorong tubuhnya dengan
punggungnya sampai dia terbentur tembok. Kemudian, Kim San berbalik dan saat
perampok itu akan mengacungkan pistolnya. Kim San memukul lehernya dan
membanting tubuhnya ke tanah. Kemudian, dia mengambil pistol itu dengan segera
dan mengarahkan pada perampok yang pertama dan...
DORR!!!
Perampok pertama terbunuh. Kim San
menembak tubuhnya, timah panas itu sekarang pasti sudah bersarang di
jantungnya. Saat perampok yang kedua bangkit. Kim San langsung menembakkan
timah panas di kedua kakinya. Dia tersungkur dan berteriak kesakitan. Kim San
memukul wajahnya dengan sangat keras dan aku yakin cukup untuk membuat perampok
itu pingsan. Kim San segera berlari ke tempat kasir dan menekan alarm tanda
bahaya.
Suaranya terdengar kemana-mana.
Saat, aku pikir ini sudah berakhir,
So Hee malah mendekati Kim San dan memohon dengan sangat, “Tembak aku! Aku
ingin mati! Aku mohon....”
Tanpa banyak berpikir, Kim San
langsung memukul perutnya.
Brukk!!
So Hee terjengkang kebelakang, Kim San tahu dia belum pingsan. Kim San segera menarik badannya dan membalikkan tubuhnya dan memukul tengkuknya dengan bagian bawah pistol. Tanpa waktu lama, dia terjatuh dan pingsan.
So Hee terjengkang kebelakang, Kim San tahu dia belum pingsan. Kim San segera menarik badannya dan membalikkan tubuhnya dan memukul tengkuknya dengan bagian bawah pistol. Tanpa waktu lama, dia terjatuh dan pingsan.
“Mungkin, kau ingin mati. Tapi, aku
ingin hidup.....” kata Kim San.
Jung
Woo masuk ke dalam mini market dengan wajah terkejut. “Bawa dia ke dalam mobil!” kata San.
Kim
San lalu menembak kamera CCTV yang tersedia di mini market itu sampai hancur.
Lalu, berlari sebuah pintu di ujung mini market dan masuk ke dalamnya. Seperti
yang Kim San duga, ada komputer di sana.
Kim San segera membantingnya dan menembaknya sampai hancur.
Tak
ada yang boleh tahu apa yang telah aku lakukan.
Itulah yang sedang dia coba lakukan.
Karena, jika, mereka melihat CCTV ini, mereka akan tahu jika Kim San-lah
yang membunuh salah satu perampok itu. Kim San juga tak ingin membiarkan So Hee
dibawa ke penjara. Tidak boleh, meski hanya untuk satu menit sekalipun. Tidak
boleh meski hanya untuk menginterogasi sekalipun.
Dia milikku.
Kim San segera kembali ke mini
market. Kim San tahu, untung dia memakai sarung tangan sehingga sidik jarinya
tidak akan kelihatan. Dia mengarahkan pistol itu ke bahu kirinya. Lalu, timah
itu menyerempet kulitnya.
DORR!!!
Darah
mulai mengucur dari sana.
Setelah
itu, Kim San melemparkan pistol itu ke
dekat salah satu perampok. Lalu,
dia memukul dirinya sendiri dan merobek pakaiannya. Lalu, melepas sarung
tangannya dan menyembunyikannya di dalam jaketnya. Sekitar, lima belas menit
kemudian, dua unit mobil polisi datang ke mini market itu.
“Apa
yang telah terjadi?” tanya salah satu dari mereka dengan tekejut. Polisi yang
bertanya itu adalah seorang pria dengan badan kecil dan rambut yang sudah
botak. Sementara, polisi lain berwajah lebih muda. Tapi, mereka semua sama
terkejutnya.
Karena,
di hadapan mereka ada dua orang pria dengan penutup wajah yang terkapar di
lantai. Sementara, seorang pria dengan pakaian sobek dan badan yang terluka
berdiri di tengah mini market. Tangan dan wajahnya terluka. Bahu kirinya
mengeluarkan darah.
“Tuan..
apa yang telah terjadi?” tanya polisi botak itu. Dia mendekat ke arah Kim San
yang gemetar dan ketakutan.
“Aku...sedang
berbelanja....” kata Kim San dengan nada takut dan terkejut yang nyaris
sempurna. “Tapi.... kemudian... tiba-tiba ada perampok datang.... aku tak tahu
apa yang terjadi karena tiba-tiba mereka saling tembak.....”
“Aku
ketakutan......”
Di
dalam pria yang ketakutan itu, sebenarnya tengah berdiri iblis yang tengah
tersenyum. Tidak, mungkin lebih tepatnya iblis yang tengah kegirangan karena
menemukan tokoh lain yang pas untuk melengkapi rencananya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar