baru

Senin, 11 Mei 2015

wangja 25

25
            Kim San melangkahkan kakinya ke dalam mobil. Setelah mengantarkan Min Ho pulang ke apartemen mereka. Kim San memutuskan untuk tidak tidur di sana malam ini. Kim San sedang tidak ingin melakukannya. Kim San sendiri tak tahu kenapa. Dia hanya sedang tidak ingin melakukannya.
Kim San masuk ke dalam mobil. Salju sudah mulai tinggi. Orang-orang yang lalu lalang   menjadi lebih sedikit jika dibandingkan hari-hari yang biasa. Suhu juga mulai bertambah dingin.
“Kemana?” tanya Jung Woo
“Ke tempat So Hee.” kataku. Jung Woo mengerti dan tidak banyak bicara lagi. Dengan cepat dia melajukan mobilnya. Kim San memandangi salju yang semakin lama  semakin banyak. Menutupi pohon-pohon, atap mobil, atap rumah, beberapa danau kecil menjadi beku dan terkadang menjadi tempat ice skating di waktu siang. Setelah, beberapa lama, keduanya sampai ke tempat yang dituju.
Kim San turun dari mobil dan berjalan perlahan masuk ke dalam mini market dimana So Hee bekerja. Kim San melihat So Hee bekerja semestinya. Seperti biasa, dia tidak mengatakan apapun dan hanya diam.
Kim San memperhatikan So Hee diam-diam sambil memilih barang-barang yang akan dia beli. Untung dia mengenakan sarung tangan hitam, sehingga tangannya tidak terlalu terasa dingin. Akhirnya, Kim San memutuskan membeli beberapa coke dan jus kalengan yang hangat.
Saat, dia akan membayar, tiba-tiba dua orang pria masuk ke dalam mini market. Wajah mereka ditutupi oleh topeng berwarna hitam dan Kim San sadar jika mini market akan dirampok.  Perampok pertama berbadan besar dan perampok yang masuk kedua berbadan lebih kecil. Tak ada siapa-siapa di mini market ini kecuali mereka berdua. Mana mungkin ada orang yang mau datang ke mini market saat malam sudah larut dan badai salju juga akan segera datang.
 Salah satu perampok langsung berteriak, “Angkat tanganmu!”
            Kim San mengangkat tangannya. Salah satu dari mereka mendekati San dan menyuruhnya membalikkan badannya, lalu memeriksa tubuhnya. Kim San menolehkan wajahnya dan saat itulah dia melihat So Hee.
 Setelah tiga tahun memperhatikannya, baru sekarang tatapan matanya sedikit berubah menjadi lebih bergairah...
So Hee tidak mengangkat tangan. Dia hanya diam. Matanya sama sekali tidak terlihat takut. Dia hanya diam di sana. Mungkin, kurang tepat jika kukatakan dia sedang melindungi uang majikannya. Lebih, tepat jika kukatakan, sedang membiarkan dirinya agar bisa dibunuh oleh perampok itu.
“Tembak aku.” katanya dengan manatap salah satu perampok itu. 
            “Kau mau uang?” katanya. “Kau hanya bisa mengambilnya setelah membunuhku. Aku tak akan membiarkanmu mengambilnya.”
            Perampok pertama kelihatan ragu. Saat perhatian perampok kedua teralihkan Kim San mendorong tubuhnya dengan punggungnya sampai dia terbentur tembok. Kemudian, Kim San berbalik dan saat perampok itu akan mengacungkan pistolnya. Kim San memukul lehernya dan membanting tubuhnya ke tanah. Kemudian, dia mengambil pistol itu dengan segera dan mengarahkan pada perampok yang pertama dan...
            DORR!!!
            Perampok pertama terbunuh. Kim San menembak tubuhnya, timah panas itu sekarang pasti sudah bersarang di jantungnya. Saat perampok yang kedua bangkit. Kim San langsung menembakkan timah panas di kedua kakinya. Dia tersungkur dan berteriak kesakitan. Kim San memukul wajahnya dengan sangat keras dan aku yakin cukup untuk membuat perampok itu pingsan. Kim San segera berlari ke tempat kasir dan menekan alarm tanda bahaya.
            Suaranya terdengar kemana-mana.
            Saat, aku pikir ini sudah berakhir, So Hee malah mendekati Kim San dan memohon dengan sangat, “Tembak aku! Aku ingin mati! Aku mohon....”
            Tanpa banyak berpikir, Kim San langsung memukul perutnya.
Brukk!!
            So Hee terjengkang kebelakang, Kim San tahu dia belum pingsan. Kim San segera menarik badannya dan membalikkan tubuhnya dan memukul tengkuknya dengan bagian bawah pistol. Tanpa waktu lama, dia terjatuh dan pingsan.
            “Mungkin, kau ingin mati. Tapi, aku ingin hidup.....” kata Kim San.
Jung Woo masuk ke dalam mini market dengan wajah terkejut.  “Bawa dia ke dalam mobil!” kata San.
Kim San lalu menembak kamera CCTV yang tersedia di mini market itu sampai hancur. Lalu, berlari sebuah pintu di ujung mini market dan masuk ke dalamnya. Seperti yang  Kim San duga, ada komputer di sana. Kim San segera membantingnya dan menembaknya sampai hancur. 
Tak ada yang boleh tahu apa yang telah aku lakukan. Itulah yang sedang dia coba lakukan.  Karena, jika, mereka melihat CCTV ini, mereka akan tahu jika Kim San-lah yang membunuh salah satu perampok itu. Kim San juga tak ingin membiarkan So Hee dibawa ke penjara. Tidak boleh, meski hanya untuk satu menit sekalipun. Tidak boleh meski hanya untuk menginterogasi sekalipun.
            Dia milikku.
            Kim San segera kembali ke mini market. Kim San tahu, untung dia memakai sarung tangan sehingga sidik jarinya tidak akan kelihatan. Dia mengarahkan pistol itu ke bahu kirinya. Lalu, timah itu menyerempet kulitnya.
DORR!!!
Darah mulai mengucur dari sana.
Setelah itu, Kim San melemparkan pistol itu ke  dekat salah satu perampok. Lalu,  dia memukul dirinya sendiri dan merobek pakaiannya. Lalu, melepas sarung tangannya dan menyembunyikannya di dalam jaketnya. Sekitar, lima belas menit kemudian, dua unit mobil polisi datang ke mini market itu.
“Apa yang telah terjadi?” tanya salah satu dari mereka dengan tekejut. Polisi yang bertanya itu adalah seorang pria dengan badan kecil dan rambut yang sudah botak. Sementara, polisi lain berwajah lebih muda. Tapi, mereka semua sama terkejutnya.
Karena, di hadapan mereka ada dua orang pria dengan penutup wajah yang terkapar di lantai. Sementara, seorang pria dengan pakaian sobek dan badan yang terluka berdiri di tengah mini market. Tangan dan wajahnya terluka. Bahu kirinya mengeluarkan darah.
“Tuan.. apa yang telah terjadi?” tanya polisi botak itu. Dia mendekat ke arah Kim San yang gemetar dan ketakutan.
“Aku...sedang berbelanja....” kata Kim San dengan nada takut dan terkejut yang nyaris sempurna. “Tapi.... kemudian... tiba-tiba ada perampok datang.... aku tak tahu apa yang terjadi karena tiba-tiba mereka saling tembak.....”
“Aku ketakutan......”

Di dalam pria yang ketakutan itu, sebenarnya tengah berdiri iblis yang tengah tersenyum. Tidak, mungkin lebih tepatnya iblis yang tengah kegirangan karena menemukan tokoh lain yang pas untuk melengkapi rencananya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar