5
Alan
Payne terus mengamati apakah stasiun kereta sudah tiba atau belum. Mata tuanya
sekarang membutuhkan sebuah kaca mata. Alan berbadan gemuk dan berpipi tembem
dan berkulit sawo matang. Sambil meminum kopi dan roti yang menjadi
kegemarannya. Alan terus memperhatikan apakah waktu untuk berhenti telah tiba
atau tidak. Tiba-tiba dia menjatuhkan kopinya sendiri sehingga cairan itu
mengenai baju kerjanya.
“Sial!” umpatnya perlahan.
Setelah itu, dia segera membersihkannya dengan lap
yang ada di sana. Sambil mengumpat, masinis itu terus berusaha membersihkan
bekas kopi yang semakin lama didiamkan, akan semakin susah pula untuk
membersihkannya. Tanpa di ketahuinya kereta berbelok ke arah yang tidak
seharusnya. Kereta itu melaju memasuki
rel bekas yang sudah tidak dipakai sebagai jalur kereta api lagi. Tapi,
Alan terlalu asyik untuk tahu. Dia terus membersihkan bekas kopi dengan keras.
Saat itu, takdir bergerak dengan gerakannya sendiri.
Bergerak sesuai dengan apa yang sudah ditentukan oleh pemiliknya. Takdir
membuat kereta pergi ke tempat yang salah. Ke tempat yang tidak benar,
tapi seolah-olah begitulah yang seharusnya. Semua orang di kereta, sama
sekali tidak menyadari tentang gerakan takdir yang begitu lembut ini. Bahkan,
tiga orang yang ditakdirkan untuk menerima takdir tersebut.
Ketika Alan telah selesai dengan pekerjaannya.
Dilihatnya stasiun kereta api telah tiba.
“Ah, akhirnya tiba juga..” katanya dengan lega.
Dia menekan salah satu tombol kereta dan pintu-pintu
kereta terbuka.
#####
Sebelum kereta tadi berhenti dan Alan membuka pintu
kereta. Muhammad Hakim Rasyid terduduk di pojok gerbong kereta. Dia tidak
sedang berada di kereta jika dihitung dari pikirannya. Pikirannya sedang
melayang-layang pergi entah kemana. Hakim hanya diam dan tidak melakukan
apa-apa. Di dalam gerbong, hanya ada tiga orang pria dengan dirinya. Hakim
jarang sekali memperl ihatkan ekspresi sedih di wajahnya. Selama ini, dia
selalu berusaha agar semuanya baik-baik saja. Bukan, karena Hakim sok
tegar. Tapi, memang begitulah adanya. Kehidupan yang tidak mudah membuatnya
bisa lebih tegar dari kebanyakan orang. Tapi, bahkan, dia juga manusia. Dia
juga terkadang ingin bersedih dan mengeluarkan isi hatinya. Karena, itu dia
senang sekali karena hanya ada beberapa orang di kereta. Jadi, dia bisa
bersedih sesuka hatinya.
Tanpa dia sadari, mulutnya mulai mengucapkan
perlahan-lahan penggalan-penggalan dari surat Yusuf:
“Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat kitab (Al Qur'an) yang
nyata (dari Allah).[1]”
Hakim membacanya perlahan dengan rileks dan khusyu.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa
Arab, agar kamu memahaminya.[2]”
Beberapa
jauh dekat dengan Hakim. Christian Severe duduk sambil memejamkan mata. Kedua
tangannya saling memegang satu sama lain. Dia bisa mendengar dengan jelas
perkataan yang diucapkan oleh orang disampingnya. Sama jelasnya, dengan suara
angin yang perlahan-lahan masuk lewat lubang kecil di kaca yang pecah. Juga,
suara gesekan dua besi yang saling bergesekan di ujung gerbong kereta yang
mereka naiki. Christian bisa mendengar semuanya dengan jelas. Sebenarnya, dia
ingin sekali berada pada tempat yang sunyi dan senyap. Ketajaman pendengaran membuatnya
bisa membuatnya mendengar apapun. Terkadang, kemampuan itu sangat
menyebalkan. Tapi, pada akhirnya dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya diam
dan membiarkan semuanya terjadi begitu saja.
Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan
mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami
mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.[3]
Alfa Century
hanya diam. Dia sedang tidak ingin marah, memaki, atau memukul siapapun. Sama,
seperti pria yang kedua. Dia bisa mendengar ucapan-ucapan pria kurus itu meski
tidak sejelas Christian mendengarnya. Alfa tidak mengerti apa ucapan-ucapan
pria itu dan bersyukur karena tidak mengerti, setidaknya, dia tidak
mendengar nasihat-nasihat dari siapapun.
Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai
daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari
padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan
mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh."[4]
Tiba-tiba Rasa ngantuk itu menguasai mereka.
Sehingga mereka segera tertidur kembali di bangku stasiun. Karena alasan yang
sama mereka tertidur. Alasan lelah
dengan masa lalu. Masa lalu yang sama
berat. Ini adalah awal dari pertemuan mereka dan ini juga adalah awal dari
ikatan takdir mereka yang tidak bisa dilepaskan, kecuali oleh pemiliknya
sendiri.
Saat itu, mereka berpindah ke tempat lain. Bukan,
lagi kota New York yang terkenal dan glamor itu. Mereka berpindah ke tempat
lain, ke tempat yang sangat berbeda. Mungkin terdengar tak masuk akal
dan mustahil. Mungkin terdengar seperti cerita-cerita dimana orang-orang
berpindah ke dimensi lain. Tapi, jika Tuhan sudah menghendaki, hal-hal yang
ajaib dan mustahil sekalipun, sangat mungkin terjadi.
Hakim masih sempat mengucapkan sebuah ayat dari
surat Yusuf sebelum ketiganya tertidur dengan pulas.
“Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan
Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.[5]”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar