baru

Jumat, 22 Mei 2015

persabatan segitiga 5

 5
            Alan Payne terus mengamati apakah stasiun kereta sudah tiba atau belum. Mata tuanya sekarang membutuhkan sebuah kaca mata. Alan berbadan gemuk dan berpipi tembem dan berkulit sawo matang. Sambil meminum kopi dan roti yang menjadi kegemarannya. Alan terus memperhatikan apakah waktu untuk berhenti telah tiba atau tidak. Tiba-tiba dia menjatuhkan kopinya sendiri sehingga cairan itu mengenai baju kerjanya.
“Sial!” umpatnya perlahan.
Setelah itu, dia segera membersihkannya dengan lap yang ada di sana. Sambil mengumpat, masinis itu terus berusaha membersihkan bekas kopi yang semakin lama didiamkan, akan semakin susah pula untuk membersihkannya. Tanpa di ketahuinya kereta berbelok ke arah yang tidak seharusnya. Kereta itu melaju memasuki  rel bekas yang sudah tidak dipakai sebagai jalur kereta api lagi. Tapi, Alan terlalu asyik untuk tahu. Dia terus membersihkan bekas kopi dengan keras.
Saat itu, takdir bergerak dengan gerakannya sendiri. Bergerak sesuai dengan apa yang sudah ditentukan oleh pemiliknya. Takdir membuat kereta pergi ke tempat yang salah. Ke tempat yang tidak benar, tapi seolah-olah begitulah yang seharusnya. Semua orang di kereta, sama sekali tidak menyadari tentang gerakan takdir yang begitu lembut ini. Bahkan, tiga orang yang ditakdirkan untuk menerima takdir tersebut.
Ketika Alan telah selesai dengan pekerjaannya.
Dilihatnya stasiun kereta api telah tiba.
“Ah, akhirnya tiba juga..” katanya dengan lega.
Dia menekan salah satu tombol kereta dan pintu-pintu kereta terbuka.
#####
Sebelum kereta tadi berhenti dan Alan membuka pintu kereta. Muhammad Hakim Rasyid terduduk di pojok gerbong kereta. Dia tidak sedang berada di kereta jika dihitung dari pikirannya. Pikirannya sedang melayang-layang pergi entah kemana. Hakim hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Di dalam gerbong, hanya ada tiga orang pria dengan dirinya. Hakim jarang sekali memperl ihatkan ekspresi sedih di wajahnya. Selama ini, dia selalu berusaha agar semuanya baik-baik saja. Bukan, karena Hakim sok tegar. Tapi, memang begitulah adanya. Kehidupan yang tidak mudah membuatnya bisa lebih tegar dari kebanyakan orang. Tapi, bahkan, dia juga manusia. Dia juga terkadang ingin bersedih dan mengeluarkan isi hatinya. Karena, itu dia senang sekali karena hanya ada beberapa orang di kereta. Jadi, dia bisa bersedih sesuka hatinya.
Tanpa dia sadari, mulutnya mulai mengucapkan perlahan-lahan penggalan-penggalan dari surat Yusuf:
“Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat kitab (Al Qur'an) yang nyata (dari Allah).[1]
Hakim membacanya perlahan dengan rileks dan khusyu.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.[2]
            Beberapa jauh dekat dengan Hakim. Christian Severe duduk sambil memejamkan mata. Kedua tangannya saling memegang satu sama lain. Dia bisa mendengar dengan jelas perkataan yang diucapkan oleh orang disampingnya. Sama jelasnya, dengan suara angin yang perlahan-lahan masuk lewat lubang kecil di kaca yang pecah. Juga, suara gesekan dua besi yang saling bergesekan di ujung gerbong kereta yang mereka naiki. Christian bisa mendengar semuanya dengan jelas. Sebenarnya, dia ingin sekali berada pada tempat yang sunyi dan senyap. Ketajaman pendengaran membuatnya bisa membuatnya mendengar apapun. Terkadang, kemampuan itu sangat menyebalkan. Tapi, pada akhirnya dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya diam dan membiarkan semuanya terjadi begitu saja.
            Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.[3]
            Alfa Century hanya diam. Dia sedang tidak ingin marah, memaki, atau memukul siapapun. Sama, seperti pria yang kedua. Dia bisa mendengar ucapan-ucapan pria kurus itu meski tidak sejelas Christian mendengarnya. Alfa tidak mengerti apa ucapan-ucapan pria itu dan bersyukur karena tidak mengerti, setidaknya, dia tidak mendengar  nasihat-nasihat dari siapapun.
Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh."[4]  
Tiba-tiba Rasa ngantuk itu menguasai mereka. Sehingga mereka segera tertidur kembali di bangku stasiun. Karena alasan yang sama  mereka tertidur. Alasan lelah dengan masa lalu.  Masa lalu yang sama berat. Ini adalah awal dari pertemuan mereka dan ini juga adalah awal dari ikatan takdir mereka yang tidak bisa dilepaskan, kecuali oleh pemiliknya sendiri. 
Saat itu, mereka berpindah ke tempat lain. Bukan, lagi kota New York yang terkenal dan glamor itu. Mereka berpindah ke tempat lain, ke tempat yang sangat berbeda. Mungkin terdengar tak masuk akal dan mustahil. Mungkin terdengar seperti cerita-cerita dimana orang-orang berpindah ke dimensi lain. Tapi, jika Tuhan sudah menghendaki, hal-hal yang ajaib dan mustahil sekalipun, sangat mungkin terjadi.
Hakim masih sempat mengucapkan sebuah ayat dari surat Yusuf sebelum ketiganya tertidur dengan pulas.
“Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.[5]



[1] Yusuf ayat 1
[2] Yusuf ayat 2
[3] Yusuf ayat 3
[4] Yusuf ayat 33
[5] Surat Yusuf ayat 34

Tidak ada komentar:

Posting Komentar