Bab 4
Christian
Severe IV
Aku terbangun. Seperti biasa, hal pertama yang aku
lihat adalah langit-langit kamarku yang berwarna putih. Aku tidak lantas
terbangun. Kepalaku dipenuhi dengan berbagai rasa pusing karena semalam terlalu
banyak minum alkohol. Aku memejamkan mataku sekali lagi agar rasa pusingnya
sedikit berkurang. Kemudian, setelah beberapa saat aku kembali membuka mata dan
dengan agak berat membangunkan diriku sendiri.
Aku terduduk di atas kasur.
Aku melihat ke arah samping kananku dan di sana. Ada
seorang wanita yang agak cantik dengan rambut pirang panjang. Wajahnya cantik
dan sepertinya dia seorang model. Sebagian tubuhnya tertutup selimut dan dia
masih tertidur dengan pulas. Di samping
kiriku, ada seorang wanita lain. Wajahnya oriental dan sepertinya dia orang
Cina atau minimal keturunan negara tirai bambu itu. Sama seperti wanita tadi, dia juga berambut
panjang dan sangat cantik. Aku memegang selimbut dan menutupkan sebagian
tubuhnya dengan selimbut karena jika dia bergerak sedikit saja, pasti tubuhnya
akan segera kelihatan.
Kemudian, aku berdiri di atas kasur dan berjalan
perlahan lalu meloncat agar kedua wanita itu tidak terbangun. Yah, meski mereka
hanya teman semalam yang baru kukenal. Tapi, tetap saja tak baik, jika aku
membangunkan mereka. Aku mengambil sebuah mantel dan memakainya di tubuhku.
Hari ini, hari itu ya......
Di atas meja kecil di dekat jendela, ada satu gelas
penuh jus jeruk dan dua buah roti hangat dengan telus di atasnya. Sementara
itu, sebuah koran pagi yang masih terlipat berada di sampingnya. Di sampingnya,
semua gorden sudah terbuka dan sinar matahari masuk ke dalam kamarku.
"Pasti pekerjaan Honda....." kataku menyebut nama seorang laki-laki
tua yang sudah merawatku sejak kecil.
Honda orang jepang, tapi, sudah mengabdi pada
keluargaku selama bertahun-tahun. Selama ini, dialah yang selalu membantu dalam
perusahaan –malah kadang aku berpikir bahwa dialah yang bekerja keras dan aku
yang menikmati hasilnya. Tapi, kupikir dia tidak marah sedikitpun. laki-laki
itu justru beragama kristiani yang sangat taat. Honda selalu berdoa sebelum
pergi bekerja.
Aku masuk ke dalam kamar mandi dan membiarkan air
dingin menyentuh kulitku yang putih bersih. Tinggiku seratus delapan puluh
senti meter dan wajahku sangat tampan bak malaikat. Setelah selesai mandi, aku
memakai pakaian sederhana –menurut standarku. Kemudian, melangkah ke
meja tadi dan mulai memakannya perlahan-lahan. Setelah itu aku pergi dan
sebelum meninggalkan kamar. Aku meletakan uang sebanyak beberapa ribu dollar di
samping beberapa wanita yang tadi malam tidur di sampingku.
“Terima
kasih, ini untuk tadi malam.” kataku sambil pergi meninggalkan mereka yang
masih tertidur pulas. Pelayan-pelayan rumahku tampak kaget melihat aku bangun
lebih awal dari biasanya. Karena pada waktu normal aku baru akan bangun sekitar
pukul dua belas siang. Tapi, kali ini
aku punya urusan sendiri. Aku mempunyai
sekitar seratus mobil dengan harga yang sangat fantastis. Karena hampir
setiap bulan aku mengganti mobil yang lama dengan mobil yang baru. Jadi, jangan
heran jika aku memiliki mobil yang sangat banyak dan mewah-mewah. Jika sudah
bosan, terkadang aku membuangnya,
Aku menjalankan mobilku dengan kecepatan maksimum.
Melewati jalan-jalan kota yang besar. Aku sama sekali tak peduli ada yang marah
atau tidak ketika aku menyalip mobilnya. Aku hanya ingin pergi ke sebuah tempat
yang sedang aku butuhkan. Jalan-jalan ketempat itu di penuhi oleh berbagai
macam toko, mobil, polisi juga berbagai macam penghalang lainnya. Setelah
melewati semua itu, aku telah sampai di tempat yang aku tuju. Tempat itu
berlantai tiga dan memang sangat mewah. Di kacanya tertempel berbagai macam
manik-manik yang berwarna-warni.
Tanpa banyak bicara aku masuk.
“Tuan Muda Severe, selamat datang ditoko kami!” kata
seorang wanita gemuk centil yang kutahu namanya Jean Lynn. Selain, gemuk dan centil, dia juga tidak pernah sadar
akan dirinya sendiri dan berperilaku seolah-olah dia adalah wanita muda dengan
bentuk tubuh ideal dan kecantikan bak miss universe. Wajahnya ditutupi make
up tebal dan lipstick merah menyala yang membuatnya lebih terlihat
menakutkan daripada disebut cantik.
Lebih dari itu, dia memaksakan diri mengenakan pakaian mini pada
tubuhnya yang gendut dan malah membuatnya tampak seperti badut. Secara singkat,
bisa kukatakan dia sama sekali tidak menarik.
“Anda mau melakukan apa hari ini?” tanyanya, tetap
dengan nada yang membuat aku sama sekali tidak tertarik. Sepertinya dia sudah
tahu bahwa aku akan datang ke sini dan membeli beberapa pakaian baru.
“Aku mau beli beberapa tuxedo, sepatu dan juga
beberapa melati putih.” kataku tanpa tedeng aling-aling. Wanita menyedihkan itu
tetap berusaha membuat aku terkesan.
“Baiklah……” katanya sambil mengedipkan matanya
padaku. Lagi-lagi aku ingin muntah. Sambil menunggu barang yang kutunggu
datang. Aku ‘merapikan penampilanku’ di salon yang sama dengan toko itu. Leslie
Cauley adalah salah satu peƱata rambut favoritku. Bukan karena dia cantik.
Tapi, karena dia orang yang tidak berusaha ‘sok mencuri perhatianku.
“Seperti
biasa?” tanyanya sambil tersenyum ramah. Aku membalas senyumannya dan
mengangguk. Kemudian, duduk dan membiarkan dia merapikan rambutku yang agak
berantakan. Setelah, selesai aku segera mengganti bajuku dan melangkahkan
kakiku pergi ke bandara dimana pesawat pribadiku sedang menungguku, untuk
membawaku pergi ke tempat yang jauh.......
#####
Tempat itu adalah sebuah lapangan terbuka. Sebuah
padang rumput yang sangat luas dan megah. Beberapa rusa tampak berlarian
kesana-kemari dan beberapa yang lain tampaknya sedang asyik mencari makanan.
Tak ada siapapun di sini karena ini adalah makam pribadi keluargaku. Aku
berjalan dengan tenang kemudian duduk menghampiri makam yang selalu terawat
rapi dan bersih itu. Ada dua makam di sana. Yang satu, besar dan kokoh milik
ayahku. Satu lagi yang lebih kecil milik ibuku.
Seperti juga hari-hari sebelumnya ketika aku datang
ke sini. Aku hanya akan diam dan tak berbicara apapun. Hanya diam dan meletakan
dua buah bunga ke makam mereka. Setelah itu aku akan pergi dengan tenang dan kembali melakukan kegiatanku yang
biasanya. Tapi, entah kenapa seperti ada menahanku ketika aku akan pergi.
Seperti ada sebuah kenangan yang menahanku untuk menaiki mobil.
“Chris….”
Suara itu….
Ibu.
Suara
itu benar-benar menghipnotisku. Setelah itu, aku berjalan dengan kenangan itu
membanyangi-bayangi kepalaku. Keluar dari pemakaman ayah dan ibuku. Berjalan
tak tentu arah melewati berbagai macam orang dan bangunan kota yang mewah, tapi
sama sekali tidak memperlihatkan keindahan yang menenangan hati.
Aku terdiam. Suara itu seperti memanggilku sekarang.
“Kita naik kereta yuk! Kamu belum pernah naik kereta
kan?”
Aku terus berjalan dengan langkah lambat sampai aku
menemukan apa yang kucari.
“Stasiun
kereta bawah tanah….”
Aku
berjalan dan turun kebawah. Tempat itu terasa gelap walaupun hari masih siang.
Cahaya lampu menerangi tempat itu. Aku membeli sebuah karcis dengan asal.
Kemudian masuk ke kereta dengan asal pula. Aku duduk dengan canggung karena
inilah hari pertamaku naik kereta. Tak ada penumpang lain, kecuali dua orang
pria. Kemudian seperti tersihir. Tiba-tiba mataku mengantuk dengan cepat. Tak
lama setelah itu aku tertidur dengan
pulas.
“Kamu
ngantuk ya? Sini tidur di pelukan mama!”
Itulah hal terakhir yang kudengar sebelum
akhirnya mataku tertutup. Aku sama sekali tidak menyadari jika saat aku telah masuk
ke dalam kereta itu. Aku telah melengkapi sebuah takdir yang akan mulai
bergerak dan mengikatku sampai kapanpun. Saat itu, Tuhan mulai menggerakkanku
ke dalam takdir yang tak disangka-sangka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar