baru

Senin, 11 Mei 2015

Persahabatan Segitiga 4

Bab 4
Christian Severe IV
Aku terbangun. Seperti biasa, hal pertama yang aku lihat adalah langit-langit kamarku yang berwarna putih. Aku tidak lantas terbangun. Kepalaku dipenuhi dengan berbagai rasa pusing karena semalam terlalu banyak minum alkohol. Aku memejamkan mataku sekali lagi agar rasa pusingnya sedikit berkurang. Kemudian, setelah beberapa saat aku kembali membuka mata dan dengan agak berat membangunkan diriku sendiri.
Aku terduduk di atas kasur.
Aku melihat ke arah samping kananku dan di sana. Ada seorang wanita yang agak cantik dengan rambut pirang panjang. Wajahnya cantik dan sepertinya dia seorang model. Sebagian tubuhnya tertutup selimut dan dia masih tertidur dengan pulas.  Di samping kiriku, ada seorang wanita lain. Wajahnya oriental dan sepertinya dia orang Cina atau minimal keturunan negara tirai bambu itu.  Sama seperti wanita tadi, dia juga berambut panjang dan sangat cantik. Aku memegang selimbut dan menutupkan sebagian tubuhnya dengan selimbut karena jika dia bergerak sedikit saja, pasti tubuhnya akan segera kelihatan.
Kemudian, aku berdiri di atas kasur dan berjalan perlahan lalu meloncat agar kedua wanita itu tidak terbangun. Yah, meski mereka hanya teman semalam yang baru kukenal. Tapi, tetap saja tak baik, jika aku membangunkan mereka. Aku mengambil sebuah mantel dan memakainya di tubuhku.
Hari ini, hari itu ya......
Di atas meja kecil di dekat jendela, ada satu gelas penuh jus jeruk dan dua buah roti hangat dengan telus di atasnya. Sementara itu, sebuah koran pagi yang masih terlipat berada di sampingnya. Di sampingnya, semua gorden sudah terbuka dan sinar matahari masuk ke dalam kamarku. "Pasti pekerjaan Honda....." kataku menyebut nama seorang laki-laki tua yang sudah merawatku sejak kecil.
Honda orang jepang, tapi, sudah mengabdi pada keluargaku selama bertahun-tahun. Selama ini, dialah yang selalu membantu dalam perusahaan –malah kadang aku berpikir bahwa dialah yang bekerja keras dan aku yang menikmati hasilnya. Tapi, kupikir dia tidak marah sedikitpun. laki-laki itu justru beragama kristiani yang sangat taat. Honda selalu berdoa sebelum pergi bekerja.
Aku masuk ke dalam kamar mandi dan membiarkan air dingin menyentuh kulitku yang putih bersih. Tinggiku seratus delapan puluh senti meter dan wajahku sangat tampan bak malaikat. Setelah selesai mandi, aku memakai pakaian sederhana –menurut standarku. Kemudian, melangkah ke meja tadi dan mulai memakannya perlahan-lahan. Setelah itu aku pergi dan sebelum meninggalkan kamar. Aku meletakan uang sebanyak beberapa ribu dollar di samping beberapa wanita yang tadi malam tidur di sampingku.
            “Terima kasih, ini untuk tadi malam.” kataku sambil pergi meninggalkan mereka yang masih tertidur pulas. Pelayan-pelayan rumahku tampak kaget melihat aku bangun lebih awal dari biasanya. Karena pada waktu normal aku baru akan bangun sekitar pukul dua  belas siang. Tapi, kali ini aku punya urusan sendiri. Aku mempunyai  sekitar seratus mobil dengan harga yang sangat fantastis. Karena hampir setiap bulan aku mengganti mobil yang lama dengan mobil yang baru. Jadi, jangan heran jika aku memiliki mobil yang sangat banyak dan mewah-mewah. Jika sudah bosan, terkadang aku membuangnya,
Aku menjalankan mobilku dengan kecepatan maksimum. Melewati jalan-jalan kota yang besar. Aku sama sekali tak peduli ada yang marah atau tidak ketika aku menyalip mobilnya. Aku hanya ingin pergi ke sebuah tempat yang sedang aku butuhkan. Jalan-jalan ketempat itu di penuhi oleh berbagai macam toko, mobil, polisi juga berbagai macam penghalang lainnya. Setelah melewati semua itu, aku telah sampai di tempat yang aku tuju. Tempat itu berlantai tiga dan memang sangat mewah. Di kacanya tertempel berbagai macam manik-manik yang berwarna-warni.
Tanpa banyak bicara aku masuk.
“Tuan Muda Severe, selamat datang ditoko kami!” kata seorang wanita gemuk centil yang kutahu namanya Jean Lynn. Selain,  gemuk dan centil, dia juga tidak pernah sadar akan dirinya sendiri dan berperilaku seolah-olah dia adalah wanita muda dengan bentuk tubuh ideal dan kecantikan bak miss universe. Wajahnya ditutupi make up tebal dan lipstick merah menyala yang membuatnya lebih terlihat menakutkan daripada disebut cantik.  Lebih dari itu, dia memaksakan diri mengenakan pakaian mini pada tubuhnya yang gendut dan malah membuatnya tampak seperti badut. Secara singkat, bisa kukatakan dia sama sekali tidak menarik.
“Anda mau melakukan apa hari ini?” tanyanya, tetap dengan nada yang membuat aku sama sekali tidak tertarik. Sepertinya dia sudah tahu bahwa aku akan datang ke sini dan membeli beberapa pakaian baru.
“Aku mau beli beberapa tuxedo, sepatu dan juga beberapa melati putih.” kataku tanpa tedeng aling-aling. Wanita menyedihkan itu tetap berusaha membuat aku terkesan.
“Baiklah……” katanya sambil mengedipkan matanya padaku. Lagi-lagi aku ingin muntah. Sambil menunggu barang yang kutunggu datang. Aku ‘merapikan penampilanku’ di salon yang sama dengan toko itu. Leslie Cauley adalah salah satu peƱata rambut favoritku. Bukan karena dia cantik. Tapi, karena dia orang yang tidak berusaha ‘sok mencuri perhatianku.
            “Seperti biasa?” tanyanya sambil tersenyum ramah. Aku membalas senyumannya dan mengangguk. Kemudian, duduk dan membiarkan dia merapikan rambutku yang agak berantakan. Setelah, selesai aku segera mengganti bajuku dan melangkahkan kakiku pergi ke bandara dimana pesawat pribadiku sedang menungguku, untuk membawaku pergi ke tempat yang jauh.......
#####
Tempat itu adalah sebuah lapangan terbuka. Sebuah padang rumput yang sangat luas dan megah. Beberapa rusa tampak berlarian kesana-kemari dan beberapa yang lain tampaknya sedang asyik mencari makanan. Tak ada siapapun di sini karena ini adalah makam pribadi keluargaku. Aku berjalan dengan tenang kemudian duduk menghampiri makam yang selalu terawat rapi dan bersih itu. Ada dua makam di sana. Yang satu, besar dan kokoh milik ayahku. Satu lagi yang lebih kecil milik ibuku.
Seperti juga hari-hari sebelumnya ketika aku datang ke sini. Aku hanya akan diam dan tak berbicara apapun. Hanya diam dan meletakan dua buah bunga ke makam mereka. Setelah itu aku akan pergi dengan  tenang dan kembali melakukan kegiatanku yang biasanya. Tapi, entah kenapa seperti ada menahanku ketika aku akan pergi. Seperti ada sebuah kenangan yang menahanku untuk menaiki mobil.
“Chris….”
Suara itu….
Ibu.
            Suara itu benar-benar menghipnotisku. Setelah itu, aku berjalan dengan kenangan itu membanyangi-bayangi kepalaku. Keluar dari pemakaman ayah dan ibuku. Berjalan tak tentu arah melewati berbagai macam orang dan bangunan kota yang mewah, tapi sama sekali tidak memperlihatkan keindahan yang menenangan hati.
Aku terdiam. Suara itu seperti memanggilku sekarang.
“Kita naik kereta yuk! Kamu belum pernah naik kereta kan?”
Aku terus berjalan dengan langkah lambat sampai aku menemukan apa yang kucari.
            “Stasiun kereta bawah tanah….”
            Aku berjalan dan turun kebawah. Tempat itu terasa gelap walaupun hari masih siang. Cahaya lampu menerangi tempat itu. Aku membeli sebuah karcis dengan asal. Kemudian masuk ke kereta dengan asal pula. Aku duduk dengan canggung karena inilah hari pertamaku naik kereta. Tak ada penumpang lain, kecuali dua orang pria. Kemudian seperti tersihir. Tiba-tiba mataku mengantuk dengan cepat. Tak lama setelah itu aku  tertidur dengan pulas.
            “Kamu ngantuk ya? Sini tidur di pelukan mama!”

Itulah hal terakhir yang kudengar sebelum akhirnya mataku tertutup. Aku sama sekali tidak menyadari jika saat aku telah masuk ke dalam kereta itu. Aku telah melengkapi sebuah takdir yang akan mulai bergerak dan mengikatku sampai kapanpun. Saat itu, Tuhan mulai menggerakkanku ke dalam takdir yang tak disangka-sangka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar