baru

Senin, 11 Mei 2015

Persahabatan Segitiga 4

Bab 4
Christian Severe IV
Aku terbangun. Seperti biasa, hal pertama yang aku lihat adalah langit-langit kamarku yang berwarna putih. Aku tidak lantas terbangun. Kepalaku dipenuhi dengan berbagai rasa pusing karena semalam terlalu banyak minum alkohol. Aku memejamkan mataku sekali lagi agar rasa pusingnya sedikit berkurang. Kemudian, setelah beberapa saat aku kembali membuka mata dan dengan agak berat membangunkan diriku sendiri.
Aku terduduk di atas kasur.
Aku melihat ke arah samping kananku dan di sana. Ada seorang wanita yang agak cantik dengan rambut pirang panjang. Wajahnya cantik dan sepertinya dia seorang model. Sebagian tubuhnya tertutup selimut dan dia masih tertidur dengan pulas.  Di samping kiriku, ada seorang wanita lain. Wajahnya oriental dan sepertinya dia orang Cina atau minimal keturunan negara tirai bambu itu.  Sama seperti wanita tadi, dia juga berambut panjang dan sangat cantik. Aku memegang selimbut dan menutupkan sebagian tubuhnya dengan selimbut karena jika dia bergerak sedikit saja, pasti tubuhnya akan segera kelihatan.
Kemudian, aku berdiri di atas kasur dan berjalan perlahan lalu meloncat agar kedua wanita itu tidak terbangun. Yah, meski mereka hanya teman semalam yang baru kukenal. Tapi, tetap saja tak baik, jika aku membangunkan mereka. Aku mengambil sebuah mantel dan memakainya di tubuhku.
Hari ini, hari itu ya......
Di atas meja kecil di dekat jendela, ada satu gelas penuh jus jeruk dan dua buah roti hangat dengan telus di atasnya. Sementara itu, sebuah koran pagi yang masih terlipat berada di sampingnya. Di sampingnya, semua gorden sudah terbuka dan sinar matahari masuk ke dalam kamarku. "Pasti pekerjaan Honda....." kataku menyebut nama seorang laki-laki tua yang sudah merawatku sejak kecil.
Honda orang jepang, tapi, sudah mengabdi pada keluargaku selama bertahun-tahun. Selama ini, dialah yang selalu membantu dalam perusahaan –malah kadang aku berpikir bahwa dialah yang bekerja keras dan aku yang menikmati hasilnya. Tapi, kupikir dia tidak marah sedikitpun. laki-laki itu justru beragama kristiani yang sangat taat. Honda selalu berdoa sebelum pergi bekerja.
Aku masuk ke dalam kamar mandi dan membiarkan air dingin menyentuh kulitku yang putih bersih. Tinggiku seratus delapan puluh senti meter dan wajahku sangat tampan bak malaikat. Setelah selesai mandi, aku memakai pakaian sederhana –menurut standarku. Kemudian, melangkah ke meja tadi dan mulai memakannya perlahan-lahan. Setelah itu aku pergi dan sebelum meninggalkan kamar. Aku meletakan uang sebanyak beberapa ribu dollar di samping beberapa wanita yang tadi malam tidur di sampingku.
            “Terima kasih, ini untuk tadi malam.” kataku sambil pergi meninggalkan mereka yang masih tertidur pulas. Pelayan-pelayan rumahku tampak kaget melihat aku bangun lebih awal dari biasanya. Karena pada waktu normal aku baru akan bangun sekitar pukul dua  belas siang. Tapi, kali ini aku punya urusan sendiri. Aku mempunyai  sekitar seratus mobil dengan harga yang sangat fantastis. Karena hampir setiap bulan aku mengganti mobil yang lama dengan mobil yang baru. Jadi, jangan heran jika aku memiliki mobil yang sangat banyak dan mewah-mewah. Jika sudah bosan, terkadang aku membuangnya,
Aku menjalankan mobilku dengan kecepatan maksimum. Melewati jalan-jalan kota yang besar. Aku sama sekali tak peduli ada yang marah atau tidak ketika aku menyalip mobilnya. Aku hanya ingin pergi ke sebuah tempat yang sedang aku butuhkan. Jalan-jalan ketempat itu di penuhi oleh berbagai macam toko, mobil, polisi juga berbagai macam penghalang lainnya. Setelah melewati semua itu, aku telah sampai di tempat yang aku tuju. Tempat itu berlantai tiga dan memang sangat mewah. Di kacanya tertempel berbagai macam manik-manik yang berwarna-warni.
Tanpa banyak bicara aku masuk.
“Tuan Muda Severe, selamat datang ditoko kami!” kata seorang wanita gemuk centil yang kutahu namanya Jean Lynn. Selain,  gemuk dan centil, dia juga tidak pernah sadar akan dirinya sendiri dan berperilaku seolah-olah dia adalah wanita muda dengan bentuk tubuh ideal dan kecantikan bak miss universe. Wajahnya ditutupi make up tebal dan lipstick merah menyala yang membuatnya lebih terlihat menakutkan daripada disebut cantik.  Lebih dari itu, dia memaksakan diri mengenakan pakaian mini pada tubuhnya yang gendut dan malah membuatnya tampak seperti badut. Secara singkat, bisa kukatakan dia sama sekali tidak menarik.
“Anda mau melakukan apa hari ini?” tanyanya, tetap dengan nada yang membuat aku sama sekali tidak tertarik. Sepertinya dia sudah tahu bahwa aku akan datang ke sini dan membeli beberapa pakaian baru.
“Aku mau beli beberapa tuxedo, sepatu dan juga beberapa melati putih.” kataku tanpa tedeng aling-aling. Wanita menyedihkan itu tetap berusaha membuat aku terkesan.
“Baiklah……” katanya sambil mengedipkan matanya padaku. Lagi-lagi aku ingin muntah. Sambil menunggu barang yang kutunggu datang. Aku ‘merapikan penampilanku’ di salon yang sama dengan toko itu. Leslie Cauley adalah salah satu peñata rambut favoritku. Bukan karena dia cantik. Tapi, karena dia orang yang tidak berusaha ‘sok mencuri perhatianku.
            “Seperti biasa?” tanyanya sambil tersenyum ramah. Aku membalas senyumannya dan mengangguk. Kemudian, duduk dan membiarkan dia merapikan rambutku yang agak berantakan. Setelah, selesai aku segera mengganti bajuku dan melangkahkan kakiku pergi ke bandara dimana pesawat pribadiku sedang menungguku, untuk membawaku pergi ke tempat yang jauh.......
#####
Tempat itu adalah sebuah lapangan terbuka. Sebuah padang rumput yang sangat luas dan megah. Beberapa rusa tampak berlarian kesana-kemari dan beberapa yang lain tampaknya sedang asyik mencari makanan. Tak ada siapapun di sini karena ini adalah makam pribadi keluargaku. Aku berjalan dengan tenang kemudian duduk menghampiri makam yang selalu terawat rapi dan bersih itu. Ada dua makam di sana. Yang satu, besar dan kokoh milik ayahku. Satu lagi yang lebih kecil milik ibuku.
Seperti juga hari-hari sebelumnya ketika aku datang ke sini. Aku hanya akan diam dan tak berbicara apapun. Hanya diam dan meletakan dua buah bunga ke makam mereka. Setelah itu aku akan pergi dengan  tenang dan kembali melakukan kegiatanku yang biasanya. Tapi, entah kenapa seperti ada menahanku ketika aku akan pergi. Seperti ada sebuah kenangan yang menahanku untuk menaiki mobil.
“Chris….”
Suara itu….
Ibu.
            Suara itu benar-benar menghipnotisku. Setelah itu, aku berjalan dengan kenangan itu membanyangi-bayangi kepalaku. Keluar dari pemakaman ayah dan ibuku. Berjalan tak tentu arah melewati berbagai macam orang dan bangunan kota yang mewah, tapi sama sekali tidak memperlihatkan keindahan yang menenangan hati.
Aku terdiam. Suara itu seperti memanggilku sekarang.
“Kita naik kereta yuk! Kamu belum pernah naik kereta kan?”
Aku terus berjalan dengan langkah lambat sampai aku menemukan apa yang kucari.
            “Stasiun kereta bawah tanah….”
            Aku berjalan dan turun kebawah. Tempat itu terasa gelap walaupun hari masih siang. Cahaya lampu menerangi tempat itu. Aku membeli sebuah karcis dengan asal. Kemudian masuk ke kereta dengan asal pula. Aku duduk dengan canggung karena inilah hari pertamaku naik kereta. Tak ada penumpang lain, kecuali dua orang pria. Kemudian seperti tersihir. Tiba-tiba mataku mengantuk dengan cepat. Tak lama setelah itu aku  tertidur dengan pulas.
            “Kamu ngantuk ya? Sini tidur di pelukan mama!”

Itulah hal terakhir yang kudengar sebelum akhirnya mataku tertutup. Aku sama sekali tidak menyadari jika saat aku telah masuk ke dalam kereta itu. Aku telah melengkapi sebuah takdir yang akan mulai bergerak dan mengikatku sampai kapanpun. Saat itu, Tuhan mulai menggerakkanku ke dalam takdir yang tak disangka-sangka. 

wangja 25

25
            Kim San melangkahkan kakinya ke dalam mobil. Setelah mengantarkan Min Ho pulang ke apartemen mereka. Kim San memutuskan untuk tidak tidur di sana malam ini. Kim San sedang tidak ingin melakukannya. Kim San sendiri tak tahu kenapa. Dia hanya sedang tidak ingin melakukannya.
Kim San masuk ke dalam mobil. Salju sudah mulai tinggi. Orang-orang yang lalu lalang   menjadi lebih sedikit jika dibandingkan hari-hari yang biasa. Suhu juga mulai bertambah dingin.
“Kemana?” tanya Jung Woo
“Ke tempat So Hee.” kataku. Jung Woo mengerti dan tidak banyak bicara lagi. Dengan cepat dia melajukan mobilnya. Kim San memandangi salju yang semakin lama  semakin banyak. Menutupi pohon-pohon, atap mobil, atap rumah, beberapa danau kecil menjadi beku dan terkadang menjadi tempat ice skating di waktu siang. Setelah, beberapa lama, keduanya sampai ke tempat yang dituju.
Kim San turun dari mobil dan berjalan perlahan masuk ke dalam mini market dimana So Hee bekerja. Kim San melihat So Hee bekerja semestinya. Seperti biasa, dia tidak mengatakan apapun dan hanya diam.
Kim San memperhatikan So Hee diam-diam sambil memilih barang-barang yang akan dia beli. Untung dia mengenakan sarung tangan hitam, sehingga tangannya tidak terlalu terasa dingin. Akhirnya, Kim San memutuskan membeli beberapa coke dan jus kalengan yang hangat.
Saat, dia akan membayar, tiba-tiba dua orang pria masuk ke dalam mini market. Wajah mereka ditutupi oleh topeng berwarna hitam dan Kim San sadar jika mini market akan dirampok.  Perampok pertama berbadan besar dan perampok yang masuk kedua berbadan lebih kecil. Tak ada siapa-siapa di mini market ini kecuali mereka berdua. Mana mungkin ada orang yang mau datang ke mini market saat malam sudah larut dan badai salju juga akan segera datang.
 Salah satu perampok langsung berteriak, “Angkat tanganmu!”
            Kim San mengangkat tangannya. Salah satu dari mereka mendekati San dan menyuruhnya membalikkan badannya, lalu memeriksa tubuhnya. Kim San menolehkan wajahnya dan saat itulah dia melihat So Hee.
 Setelah tiga tahun memperhatikannya, baru sekarang tatapan matanya sedikit berubah menjadi lebih bergairah...
So Hee tidak mengangkat tangan. Dia hanya diam. Matanya sama sekali tidak terlihat takut. Dia hanya diam di sana. Mungkin, kurang tepat jika kukatakan dia sedang melindungi uang majikannya. Lebih, tepat jika kukatakan, sedang membiarkan dirinya agar bisa dibunuh oleh perampok itu.
“Tembak aku.” katanya dengan manatap salah satu perampok itu. 
            “Kau mau uang?” katanya. “Kau hanya bisa mengambilnya setelah membunuhku. Aku tak akan membiarkanmu mengambilnya.”
            Perampok pertama kelihatan ragu. Saat perhatian perampok kedua teralihkan Kim San mendorong tubuhnya dengan punggungnya sampai dia terbentur tembok. Kemudian, Kim San berbalik dan saat perampok itu akan mengacungkan pistolnya. Kim San memukul lehernya dan membanting tubuhnya ke tanah. Kemudian, dia mengambil pistol itu dengan segera dan mengarahkan pada perampok yang pertama dan...
            DORR!!!
            Perampok pertama terbunuh. Kim San menembak tubuhnya, timah panas itu sekarang pasti sudah bersarang di jantungnya. Saat perampok yang kedua bangkit. Kim San langsung menembakkan timah panas di kedua kakinya. Dia tersungkur dan berteriak kesakitan. Kim San memukul wajahnya dengan sangat keras dan aku yakin cukup untuk membuat perampok itu pingsan. Kim San segera berlari ke tempat kasir dan menekan alarm tanda bahaya.
            Suaranya terdengar kemana-mana.
            Saat, aku pikir ini sudah berakhir, So Hee malah mendekati Kim San dan memohon dengan sangat, “Tembak aku! Aku ingin mati! Aku mohon....”
            Tanpa banyak berpikir, Kim San langsung memukul perutnya.
Brukk!!
            So Hee terjengkang kebelakang, Kim San tahu dia belum pingsan. Kim San segera menarik badannya dan membalikkan tubuhnya dan memukul tengkuknya dengan bagian bawah pistol. Tanpa waktu lama, dia terjatuh dan pingsan.
            “Mungkin, kau ingin mati. Tapi, aku ingin hidup.....” kata Kim San.
Jung Woo masuk ke dalam mini market dengan wajah terkejut.  “Bawa dia ke dalam mobil!” kata San.
Kim San lalu menembak kamera CCTV yang tersedia di mini market itu sampai hancur. Lalu, berlari sebuah pintu di ujung mini market dan masuk ke dalamnya. Seperti yang  Kim San duga, ada komputer di sana. Kim San segera membantingnya dan menembaknya sampai hancur. 
Tak ada yang boleh tahu apa yang telah aku lakukan. Itulah yang sedang dia coba lakukan.  Karena, jika, mereka melihat CCTV ini, mereka akan tahu jika Kim San-lah yang membunuh salah satu perampok itu. Kim San juga tak ingin membiarkan So Hee dibawa ke penjara. Tidak boleh, meski hanya untuk satu menit sekalipun. Tidak boleh meski hanya untuk menginterogasi sekalipun.
            Dia milikku.
            Kim San segera kembali ke mini market. Kim San tahu, untung dia memakai sarung tangan sehingga sidik jarinya tidak akan kelihatan. Dia mengarahkan pistol itu ke bahu kirinya. Lalu, timah itu menyerempet kulitnya.
DORR!!!
Darah mulai mengucur dari sana.
Setelah itu, Kim San melemparkan pistol itu ke  dekat salah satu perampok. Lalu,  dia memukul dirinya sendiri dan merobek pakaiannya. Lalu, melepas sarung tangannya dan menyembunyikannya di dalam jaketnya. Sekitar, lima belas menit kemudian, dua unit mobil polisi datang ke mini market itu.
“Apa yang telah terjadi?” tanya salah satu dari mereka dengan tekejut. Polisi yang bertanya itu adalah seorang pria dengan badan kecil dan rambut yang sudah botak. Sementara, polisi lain berwajah lebih muda. Tapi, mereka semua sama terkejutnya.
Karena, di hadapan mereka ada dua orang pria dengan penutup wajah yang terkapar di lantai. Sementara, seorang pria dengan pakaian sobek dan badan yang terluka berdiri di tengah mini market. Tangan dan wajahnya terluka. Bahu kirinya mengeluarkan darah.
“Tuan.. apa yang telah terjadi?” tanya polisi botak itu. Dia mendekat ke arah Kim San yang gemetar dan ketakutan.
“Aku...sedang berbelanja....” kata Kim San dengan nada takut dan terkejut yang nyaris sempurna. “Tapi.... kemudian... tiba-tiba ada perampok datang.... aku tak tahu apa yang terjadi karena tiba-tiba mereka saling tembak.....”
“Aku ketakutan......”

Di dalam pria yang ketakutan itu, sebenarnya tengah berdiri iblis yang tengah tersenyum. Tidak, mungkin lebih tepatnya iblis yang tengah kegirangan karena menemukan tokoh lain yang pas untuk melengkapi rencananya.

Kamis, 07 Mei 2015

persahabatan segitiga 1-3

Bab 1
Jika kalian melihatnya, kalian mungkin akan sedikit merasa aneh ada laki-laki sepertinya. Laki-laki itu berbadan kurus dengan kulit sawo matang. Rambutnya lurus dan disisir ke samping. Wajahnya agak lonjong dengan dahi sedikit lebih lebar. Menandakan jika laki-laki itu adalah laki-laki yang cerdas. Matanya berwarna hitam dan tajam.
            Dia sedang duduk dengan kepala menghadap ke dinding. Meski wajahnya menatap lurus ke tembok, tapi, pikiran laki-laki itu sedang berada di tempat lain. yaitu, berada pada Sang Pencipta. Nama laki-laki itu, Muhammad Hakim Rasyid dan laki-laki bernama Hakim itu sedang berdoa setelah lepas shalat isya.
            Dia berada di sebuah sajadah berwarna hijau muda dengan gambar Ka’bah di tengahnya. Di ujung sajadah itu ada beberapa benang-benang yang sekarang sudah hampir rusak karena termakan usia. Tapi, tampaknya Hakim sendiri memang tidak terlalu tertarik untuk memperhatikan hal lain selain-Nya. Matanya yang hitam legam dan tangannya yang kurus terangkat ke atas menandakan jika dia benar-benar serius dalam berdoa.
            Mata laki-laki itu hitam legam. Tapi, matanya yang hitam itu seolah-olah memperlihatkan keteguhan dan juga ketegaran laki-laki itu. Di rumahnya sama sekali tak ada apa-apa.
            Dia benar-benar pria sederhana.
#####
Jim Davidson tak banyak bicara hari ini. Mukanya merenggut pertanda marah. Laki-laki berusia empat puluh tahun itu tak mampu untuk berbicara macam-macam. Walaupun dia sebetulnya ingin marah sekali.
Perusahaan tempatnya bekerja adalah perusahaan yang membawahi berbagai macam industri. Mulai dari baja, minyak mentah, obat-obatan dan berbagai macam industri lainnya. Karena itu jangan heran jika di tangannya ada jam tangan emas yang mahal. Mobilnya juga luar biasa dan laki-laki berbadan agak bungkuk dan berwajah seperti burung bangkai yang siap menuggu kematian mangsanya itu tak terlihat bahagia walaupun Veronika berulang kali menghiburnya.
“Sabar Tuan! Mungkin sebentar lagi Mr. Severe akan datang….” katanya sambil menggunakan tampang menggoda yang membuat nafsunya naik. Tapi, Michael mencoba menolak tawaran itu dengan memalingkan muka.
Dasar perempuan jalang !” katanya mendesis.
Tak ada satu orang pun yang tidak mengenal Veronica. Perempuan yang selalu membuat orang tergila-gila itu rela memberikan apapun demi apa yang diinginkannya. Karena itu sudah jadi rahasia umum jika dia mengalami kenaikan pangkat karena menyerahkan ‘sesuatu’ pada bagian kenaikan pangkat.
Jim mengusap keningnya yang basah karena mencoba menahan diri dari Veronica.  ‘wanita jalang’ itu menggunakan rok pendek dan baju berwarna merah padam. Lipstiknya tebal dan memamerkan sebagian dari ‘bagian dalam’ tubuhnya yang eksotis.
Veronica masih tetap mengganggu Jim sampai seseorang yang ditunggunya datang. Laki-laki itu tampaknya dilahirkan di dunia ini memang untuk dipuja dan digilai banyak wanita. Laki-laki itu berbadan tegap dan juga tinggi dengan badan yang meski tertutupi kemeja putih, tetap memperlihatkan otot-ototnya secara sempurna. Kulitnya putih bersih dengan wajah yang seolah-olah dipahat oleh para malaikat. Wajahnya itu berbentuk persegi panjang dengan dagu yang agak runcing. Hidung mancung dengan bibir merah muda yang sempurna. Tapi, matanya itulah yang paling sering membuat orang terpukau. Matanya itu berwarna biru cermerlang menandakan kecerdasan dan intelegensia yang tinggi. Laki-laki itu sangat sempurna untuk ukuran manusia.
Orang-orang yang melihatnya sering terpukau dengan wajah dan penampilannya yang rupawan.  Jim berdiri dan mencoba memberi salam pada bosnya.  Tapi, bosnya itu sama sekali tidak perduli.
Nama laki-laki itu Christian Severe IV.
Orang-orang menjulukinya dengan Malaikat yang Turun ke Bumi. Dia mengenakan sebuah anting berbentuk salib di sebelah kanannya yang terbuat dari emas murni. Ketika cahaya mengenai anting itu, cahayanya terpencar ke segala arah.
#####
Badannya tegap dan tingginya mungkin mungkin sekitar seratus delapan puluh lima sentimeter. Tak kalah dari laki-laki yang tadi.  Laki-laki itu berambut mohawk dengan cat yang merah  menyala. Di telinga kanannya ada enam anting dan begitu juga di telinga kirinya. Bibirnya kehitaman karena terlalu banyak merokok. Meski tertutupi oleh bajunya yang hitam dan sobek. Tapi, siapapun jelas bisa mengetahui jika laki-laki itu memiliki tato. Satu-satunya yang paling menarik adalah dari matanya. Matanya berwarna kuning keemasan atau yang lebh dikenal dengan sebutan amber[1].
Dia merokok dan membiarkan asap keluar dari mulutnya, mengepul ke udara. Laki-laki itu sedang menduduki seorang laki-laki lain.
“Lepaskan aku!” teriak laki-laki satunya.
Mereka sedang berada di sebuah tempat kumuh yang ada di belakang pabrik. Sampah dan bangkai hewan berceceran di mana-mana. Tiba-tiba seorang laki-laki berbadan kurus berlari ke arahnya dengan terburu-buru.
“Bos! Mereka datang!” katanya.
Laki-laki yang menyeramkan itu tampak tenang saja.
Benar saja, ada segerombolan laki-laki yang membawa rantai dan alat pemukul berlarian ke arahnya.  Laki-laki yang diduduki oleh laki-laki menyeramkan itu berusaha melawan, “Kau lihat? Kau akan mati!”
Tapi, si laki-laki menyeramkan itu hanya tersenyum mengejek.
Dia melepaskan rokoknya dan menginjaknya. Dia berdiri, setelah tak lupa menendang laki-laki yang tadi didudukinya sampai tak sadarkan diri. Dia melepaskan jaketnya dan benar saja. Dia mengenakan baju hitam tanpa lengan dan memperlihatkan sebuah tato abstrak yang berbentuk seperti api. Memanjang dari pergelangan tangannya, melewati  bahunya sampai ke lehernya.
Nama laki-laki itu, Alfa Century.
Orang-orang menjulukinya dengan sebutan Iblis Hitam. Mungkin, ada sekitar dua puluh orang yang berlari ke arahnya. Mereka membawa pemukul, pisau, bahkan rantai. Tapi, tampaknya dia tidak terganggu sama sekali. Orang-orang itu tak tahu, jika mereka akan hancur hari ini.



















Bab 2
Muhammad Hakim Rasyid
Jika, kau tanya aku. Tempat tinggalku tak lebih dari sebuah apartemen kecil yang sejujurnya tak bisa disebut rumah. Ketika aku mengatakan kata ‘apartemen’ pasti yang akan terbayangkan di benak kebanyakan orang ( Indonesia) adalah sebuah gedung mewah dengan berbagai macam peralatan yang modern. Tapi, sayangnya apa yang kusebut dengan ‘apartemen’ adalah sebuah kamar bekas gudang yang ada terpisah dari gedung aslinya. Apartemenku berada di lantai paling atas.
Di depannya kujadikan halaman, ada sebuah kursi goyang, sebuah meja panjang yang sering kugunakan untuk tempat duduk. Selain itu, di apartemenku hanya terdapat barang-barang yang murah dan kebanyakan merupakan barang bekas. Seperti komputer yang sudah sangat butut dan kadang selalu saja mati secara tiba-tiba.
Selain itu, di kamarku hanya terdapat sebuah kasur yang lumayan bagus (sangat lumayan sebetulnya) dan kupikir, kasur itu adalah salah satu barang mewah yang kumiliki –walaupun,  beberapa bagiannya sudah bolong-bolong dan sama sekali tidak bisa diperbaiki. Seperti juga lemari dan juga barang  yang lainnya. Kasur itu juga merupakan kasur bekas yang sudah tidak bisa dipakai lagi. Tapi, karena aku tidak punya uang yang banyak. Jadi, aku tetap menggunakan kasur yang butut ini.
Aku tinggal di The Bronx. Begini, New York City atau City of New York adalah salah satu kota terpadat di dunia. New York terletak di pelabuhan alami besar di pantai Atlantik Amerika Serikat Timur Laut. Ada lima borough[2] yaitu: Manhattan, Brooklyn, Queens, The Bronx dan Staten Island. Nah, aku tinggal di the Bronx yang merupakan borough paling utara. Satu hal yang paling menarik adalah bagaimana orang-orang yang belum pernah ke sini mengatakan jika the Bronx adalah sebuah kota yang kumuh.
Di the Bronx memang ada bagian kumuh. Tapi, bukankah hal semacam itu memang selalu dan dimanapun kita berada? Jangankan, di New York. Di Bandung saja, bukankah ada bagian-bagian kota yang indah. Tapi, ada juga tempat tinggal kumuhnya juga bukan?  Tempat tinggalku bukan tempat tinggal yang mewah seperti di Manhattan. Tapi, lebih sederhana dan juga lebih tenteram.
Kamar (yang bekas gudang ini) berada di atas apartemen yang asli. Apartemen ‘yang asli’ memiliki dua lantai dan beberapa bagiannya sudah rusak dan tidak bisa dipakai.  Enaknya, tempat tinggalku punya halaman tersendiri dan juga beberapa pot berisi bunga-bunga yang kutanam sendiri. Karena tempatnya agak tinggi. Jadi, jika mau masuk ke dalam  rumahku. Harus menaiki tangga yang tidak terlalu besar. Aku sudah tinggal di sini nyaris delapan tahun karena tidak lulus –lulus dari kuliahku di jurusan kedokteran.
Apartemen ini dimiliki oleh seorang haji yang pindah dari Pakistan ke kota ini. Namanya, Mohamed Hisyam (lafalnya Muhammad Hisyam, tapi orang barat memang lebih sering melafalkannya dengan pelafalan Mohamed). Pria itu berbadan gemuk dan berkulit sangat putih. Ditambah dengan jenggot dan kumis yang tebal –sebagaimana khas orang Arab kebanyakan- sampai kadang aku berpikir bagaimana jika dia flu? Bukannya malah akan membuat ingusnya mengalir kemana-mana?
Hubungan AS dan Islam yang pasang-surut tentu berpengaruh juga padaku. Mungkin, sekarang sudah sedikit lebih baik. Tapi, dulu jika terjadi ketegangan sedikit saja antara Amerika dan islam. Kami pasti akan jadi korban. Dulu, tetanggaku yang tinggal di apartemen dalam. Pernah dilempari batu oleh orang yang tidak dikenal. Akibatnya, dia harus dibawa ke rumah sakit karena batu itu mengenai matanya.
Hari ini ada banyak sekali  tugas yang harus dilakukan. Kebanyakan orang memilih menuliskan semua yang akan dilakukan dan mengaturnya sedemikian rupa. Sehingga nantinya tidak berantakan. Tapi, aku tidak melakukannya, karena aku sudah hafal semua jadwal-jadwalku. Selain sekolah kedokteran, aku juga bekerja sampingan sebagai penjaga buku di perpustakaan, penjaga restoran, penerjemah buku bahasa arab ke dalam bahasa inggris , jadi kasir di sebuah mall, jadi tukang dagang kaki lima dan kadang-kadang jadi tukang becak –di sini dikenal dengan sebutan pedcabe.
Begitulah, siklus hidupku. Walaupun dapat tunjangan dari beasiswa –dari mulai tempat tinggal sampai makan dan segala macam. Tapi, aku ingat seseorang yang lebih butuh dariku. Siapa dia?
Ibuku.
Ayahku sudah meninggal sejak lama. Karena itu yang jadi tulang punggung keluarga adalah aku. Aku yang harus repot sana-sini demi menghidupi satu orang ibu, empat orang adik. Lahan peninggalan ayah memang lumayan, tapi, jika dilihat sekarang, di mana harga-harga di Indonesia melambung tinggi. Harga dari tanah itu hanya cukup untuk makan. Sedangkan tentu saja adik dan semua keluargaku pasti butuh hal lain. Semuanya memerlukan biaya lebih. Untuk biaya sekolah, untuk membayar listrik dan tentunya untuk makan dan juga minum.
Aku sama sekali tidak berusaha sok elit atau berusaha agar kelihatan kaya. Tapi, aku benar-benar berusaha agar keluargaku hidup yang cukup. Karena itu aku selalu bekerja dengan keras. Setap hari senin aku akan pergi ke universitas untuk kuliah. Setelah itu langsung ganti seragam jadi seorang penjaga toko buku sampai sore. Terakhir jadi seorang pelayan restoran sampai larut malam. Jika beruntung dan tidak ada tugas apapun maka aku akan pulang sekitar pukul satu pagi. Tapi, jika ada tugas, aku bisa tidak tidur seharian penuh.
Karena itu, jangan heran, jika di mataku terkadang ada garis kehitaman pertanda kurang tidur. Mataku kadang bengkak karena kurang tidur. Tapi, seperti yang kukatakan, aku harus bekerja demi semua angota keluargaku. Semua anggota keluargaku harus hidup bahagia tanpa merasa kesusahan sedikitpun. Di kamarku ada berbagai macam tulisan, nasihat, perkataan orang hebat yang berfungsi untuk menguatkanku. Membuat semangatku naik. Walaupun kenyatan bukan karena itulah aku betahan. Aku bertahan karena sebuah perkataan ibuku yang jauh lebih mmebuatku semangat,
“Jadilah orang hebat nak! Kejarlah impianmu. Jadilah orang yang benar-benar bisa membawa kebaikan bagi dunia ini.”
Itulah sebuah kata-kata yang pertama kali diucapkan oleh ibuku kepadaku ketika aku pergi dari negeriku ke tempat asing ini. Dan sampai saat ini, kata-kata itulah yang selalu terngiang dalam kepalaku. Jika aku kehabisan stok semangat, maka aku akan mengingat ibuku dan membiarkannya membuat semangatku naik kembali. Begitulah siklus hidupku yang sebenarnya sangat membosankan. Tak kurang selama bertahun-tahun aku selalu melakukan ini tanpa ada waktu istirahat sedikitpun.
#####
Suatu  hari ketika seorang teman yang kasihan padaku membawa sebuah pekerjaan yang bisa membuat aku tidak perlu bekerja keras lagi –itulah yang dikatakannya. “Kamu tak perlu bekerja sekeras itu lagi. Jika kamu mau bekerja dengan sungguh-sungguh maka bukanlah tidak mungkin kamu bisa membeli sebuah apartemen baru yang lebih bagus.” katanya. Aku menjadi penasaran. Pekerjaan apakah  itu?
“Apa itu?” tanyaku penasaran. Pria yang membawaku itu adalah seorang TKI dari Indonesia. Namanya, Mahmud. Kulitnya sawo matang dengan wajah agak gelap dan hidung pesek. Kami kenal sudah cukup lama, meski selama ini aku selalu berusaha menghindarinya. Bukannya bermaksud, untuk berprasangka buruk. Tapi, dia memang bukan orang yang terlalu baik. Tapi, untuk yang satu ini aku ingin berprasangka baik padanya.
“Pokoknya, ikutlah dulu denganku. Kapan kau libur kuliah?”
“Rabu aku sudah libur selama seminggu.” kataku.
Mahmud mengangguk perlahan-lahan dan berkata, “Baik. Nanti, bawalah bajumu secukupnya. Kita akan pergi ke tempat yang jauh.” Setelah itu, kami naik kereta dan pergi dengannya ke salah satu tempat yang tidak terlalu kukenal. Dia membawaku sampai akhirnya kami sampai ke tempat yang dia maksud. Tapi, setelah mengalami perjalanan begitu jauh, pada akhirnya hanya kekecewaan yang kudapat.
 “Disini..” ujarnya.
Aku kecewa.
Sangat kecewa.
Tanpa berkata apa-apa lagi aku pergi dan tak mempedulikannya. Membiarkannya berteriak-teriak seperti orang gila kepadaku yang terus menjauh, “Kenapa kau menolak semua ini?! Hakim! Jadi orang jangan terlalu naïf! Kita hidup butuh duit! Kau juga harus melunasi biaya pendidikan adik-adikmu, kan?”
Aku terus berjalan tanpa memperdulikannya.
Tapi, Mahmud malah menarik tanganku dan berusaha membawaku ke sana.
“Apa kau gila?!”
Aku melepaskan genggamannya dengan keras dan kembali melangkah pergi. Rasanya menakutkan bagaimana dia melakukan ini padaku. Tempat yang dia maksud adalah sebuah  tempat perjudian yang cukup besar. Aku memang tak pernah ke sana. Tapi, tempat itu cukup terkenal di New York dan salah satu tempat perjudian terbesar yang ada di Amerika.
Aku tak bisa bekerja di sana.
Seandainya, bisa aku ingin hidup seperti Imam Ahmad yang menolak semua uang dari penguasa dan hidup miskin demi menjaga diri dari benda-benda ataupun harta-harta syubhat. [3] Tapi, aku tahu betul jika untuk keadaanku sekarang membuatku tidak bisa melakukannya. Aku hidup di negeri ini, hidup di sebuah negeri penuh kebebasan dan menganggap agama hanya sebagai penghalang menuju kebebasan. Tapi, setidaknya, bahkan meski aku harus memakan benda syubhat sekalipun. Aku tidak akan bekerja di tempat seperti itu.
Tidak akan pernah. 
            Aku tidak akan membiarkan penghasilan haram pada diriku dan keluargaku. Aku berjalan dengan tegas dan kuat. Sementara, Mahmud  masih saja berteriak tak karuan dengan bahasa jawa yang medok.
            “Kau orang tua yang kolot Hakim! Kau sangat kolot! Kau kuno!”
            Aku hanya berjalan perlahan sambil berkata, “Kau sangat menyedihkan Mahmud. Kau hanya hidup untuk uang. Kau tidak punya prinsip, pemikiran. Kau hanya hidup untuk uang. Kau sangat menyedihkan....”
Hujan tuba-tiba membasahi bumi. Membiarkan langit membasuhku dengan hujannya yang lebat.
“Ya Allah, aku seorang muslim. Aku tahu bahwa engkau Tuhanku. Tolonglah aku ya  Rabb! Maka tolong aku. Datangkanlah pertolongan-Mu yang akan membantuku keluar dari semua masalah ini....”
Tanpa sadar aku berdoa dan terus berlari.
Memasuki lorong yang menuju ke kereta bawah tanah. Walaupun saat ini perasaan sakit masih mendera hatiku yang kacau. Tapi, aku masih sadar hanya dengan keretalah aku bisa pulang. Uangku tak cukup untuk menaiki taksi. Jadi, dalam keadaan basah kuyup aku membeli tiket dan memasuki kereta dengan asal. Kemudian, duduk dengan asal pula.
Bismillah! kataku dalam hati.




[1] Amber adalah warna kuning keemasan dan warna coklat muda/ tembaga pada mata. Terjadi akibat pengendapan lipochrome  dan pigmen kuning pada iris mata. Salah satu warna mata paling langka di dunia dan disebut juga mata serigala.
[2] Borough adalah suatu bentuk pemerintahan khusus yang memimpin lima bagian konstituen tetap dari kota terkonsodilasi.
[3] Benda yang tidak jelas halal atau haramnya.

wangja 22-24

22
Sebenarnya, aku tak ingin menceritakan bagian ini. Tapi, akhirnya, kutulis juga meski dengan perasaan tak menentu. Seperti yang kalian tahu. Kim San telah memalsukan identitasnya ketika kuliah. Mengganti namanya dari Kim Tae Ho menjadi Kim San.
Karena, San tahu tak mungkin menjadi kaya hanya dengan modal kejujuran. Karena itu, dia memutuskan untuk melakukannya. Membayar dengan harga yang tinggi menjadi bayaran untuk masuk ke salah satu universitas. Dalam waktu beberapa tahun, kecerdasan, ketampanan dan prestasi-prestasinya  terkenal ke segala penjuru kampus. Kim San menjadi idola dan juga menjadi magnet bagi setiap orang yang mengenalnya.
                Kim San tidak tinggal di asrama, tapi tinggal di sebuah apartemen di dekat universitas.  Kim San memutuskan untuk melakukannya, karena akan lebih mudah bekerja sambil kuliah jika bisa tinggal diluar asrama. Merepotkan memang, tapi bagi San itu tak apa-apa. Dia anggap itu menjadi bayaran untuknya.
                Kim San, sejak sudah memilah-milah siapa yang akan menjadi sasarannya.  Dia sudah memikirkan akan menghamili seorang mahasiswi perempuan dan menikah dengannya. Kim San berpikir untuk memilih siapa. Apakah Go Bong Hee yang merupakan anak dari salah satu pengusaha terkemuka di Korea? Ataukah Choi Yoon Hee  yang merupakan salah satu anak dari pejabat tinggi di Korea? Atau Sun Young yang anak pemilik agensi besar Apolo Entertainment? Seperti yang kalian tahu, meski, Kim San membenci wanita. Tidak berarti, dia akan menolak mereka.
Kim San justru akan memanfaatkan mereka.
                Tapi, saat Kim San berusaha mendekati salah satu dari mereka. Ada seorang siswa berkaca mata dan kelihatannya sama sekali tidak menarik. Dia pria pendiam dan juga penyendiri. Penyendiri dalam artian dia adalah sasaran dari kekerasan yang sering dilakukan oleh anak-anak berkuasa lain. Rambutnya yang hitam sering dibiarkan kusut dan tidak terurus. Giginya dipagari kawat dengan mata yang selalu bengkak karena dua hal. Jika, tidak menangis, ya karena dipukuli. Badannya kurus dan tampak lemah.
                Nama pria itu Park Min Ho
                Anak dari Park Jae Seong dan Choi Jin Hee dari Grup DK.
                Saat, Kim San melihatnya, dia memutuskan untuk menghancurkan hidupnya. Mungkin, tak jauh bedanya dengan setan yang berjanji pada Tuhan akan membawa manusia ke dalam neraka bersama dirinya. Kim San juga memutuskan untuk menjadikannya bejat, seperti diriku. Menjadikannya homoseksual dan mengajaknya  masuk ke dalam neraka bersamanya.
#####
                Park Min Ho berjalan dalam gelap. Dia disuruh oleh Hyun Chul –seorang mahasiswa yang berbadan besar-  untuk mengambil air. Mereka kehabisan air di kamar. Min Ho berjalan dengan hati-hati agar air yang dibawanya tidak jatuh. Dia membawa terlalu banyak air.
Min Ho memang tinggal di asrama. Dia sudah sering  mengatakan pada kedua orang tuanya agar pindah ke rumah saja. Tapi, kedua orang tuanya tidak pernah mengindahkannya.
                Dari kejauhan, dia melihat sepasang muda mudi yang saling berciuman di tempat gelap. Satu-satunya yang menakutkan bagi Min Ho adalah jika mereka merasa terganggu dan menghajarnya. Min Ho berusaha berjalan sepelan dan secepat mungkin. Tapi, tiba-tiba dari arah lain tampak ada yang berjalan ke arahnya dan menabraknya. Air dan teko yang dipegangnya berjatuhan di lantai.
                Min Ho terkejut.
                “Apa yang kau lakukan?” teriak mahasiswa yang ditabrak.
                Mahasiswa yang tadi berciuman merasa terganggu dan kenyataannya mereka langsung mendekat dan marah. Apalagi saat mereka tahu jika Min Ho yang membawanya. Tanpa ragu Min Ho dihajar sampai babak belur. Mereka menginjak-nginjak kakinya tanpa ragu.
Min Ho berusaha melindungi kepalanya dengan tangannya sendiri. Min Hi tak pernah berharap ada yang menolongnya. Tak pernah satu kalipun. Dia menyadari apa yang menjadi posisinya di tempat ini. Min Ho terus diinjak-injak tanpa ragu. Sampai barulah mereka berhenti saat ada seorang pria yang mendekat ke arahnya. Pria itu tampak marah dan murka.
                “Apa yang kalian lakukan?”
                Mereka berhenti dan melakukannya. Melihat pada pria itu dan tertawa mengejeknya.
                “Untuk apa kau membelanya?”
                “Tidak. Aku tak tertarik membelanya. Aku hanya berpikir ini keterlaluan.”
                Mereka tampaknya enggan untuk berurusan dengan pria itu dan mulai pergi. Ya, Kim San datang membantunya. Mulai memainkan perannya sebagai pria baik hati dan hangat.  Aku tahu jika saat itu, ada secercah perasaan senang dalam hati Min Ho karena seseorang datang menolongnya.
                Cahaya yang datangnya dari iblis.
23          
Aku ingin sekali menceritakan pada kalian bagaimana sepak terjang Kim San dalam mengubah Min Ho agar menjadi seorang gay. Tapi, tiba-tiba aku jadi berubah pikiran. Kupikir akan lebih bijaksana jika aku menjelaskannya dengan sederhana. Sebab, hal semacam ini mungkin bukan sesuatu yang pantas untuk diceritakan dengan panjang lebar.
                Sejak saat itu, San selalu melindungi Min Ho Jika ada yang mengganggunya Kim San akan datang untuk segera menolongnya. Jika, ada yang menjahilinya Kim San akan berusaha membantunya. Kim San selalu melakukan itu semampunya. Kim San juga berusaha agar sekuat mungkin bisa menahan rasa sakit yang dia alami.
Kenyataan jika kedua orang tua Min Ho sama sekali tidak mencintai dan menyayanginya. Membuat segalanya lebih mudah bagi Kim San. Homoseksual bisa terjadi karena berbagai macam hal. Salah satunya, jika pria itu sendiri sudah tidak ingin mencintai wanita lagi.
Min Ho sedang menuju kehancurannya sendiri.
Tapi, Kim San tidak akan berhenti. Seperti, yan dikatakan Jung Woo. Hal yang paling menakutkan dari San adalah saat dia memutuskan untuk menghancurkan hidup seseorang. Kim San tidak akan menggunakan pedang tajam, melainkan pedang berkarat yang sangat menyakitkan.
Lalu, dia menggesekannya ke leher lawannya.
Terus dengan sabar....
Sampai lawannya mati.
#####
Semuanya berawal dari pertemanan.
Awalnya, Min Ho heran karena ada yang mau menolongnya. Baginya ini sangat aneh karena awalnya tak ada satupun yang mau menolongnya. Keduanya berteman dengan baik dan bisa dibilang menjadi sahabat. Kim San dan Min Ho sering bercerita tentang masing-masing diri mereka. Dia juga tanpa ragu menceritakan bagaimana perlakuan kedua orang tuanya padanya.
“Mereka hanya menganggapku sebagai alat! Apa kau  mengerti San?”
Aku menggeleng, pura-pura tidak mengerti.
“Mereka hanya ingin agar aku menjadi pion yang bisa dengan sesuka hati mereka gerakan. Aku yakin jika nanti mereka akan memintaku menikah dengan seorang anak orang kaya sebagai alat untuk menyatukan dua perusahaan!”
Mereka berteman seperti itu selama beberapa tahun.
Sampai tahun ketiga mereka kuliah.
Waktu itu, aku masih ingat dengan jelas Kim San dan Min Ho sedang duduk berdua di atas loteng. Sebuah tempat yang hanya mereka berdua yang tahu. Mereka sering sekali mengobrol dan saling bercanda bersama. Tiba-tiba saat keduanya mengobrol, Min Ho bertanya,  “Untuk apa sebenarnya kau mendekatiku?” kata Min Ho sambil menundukkan kepalanya.
Kim San tahu dia agak ragu untuk bertanya. “Jika, kau mendekatiku hanya untuk uang. Kau tahu bukan jika ayah dan ibuku bahkan mungkin tidak akan pernah memberikan uang padaku jika memang tidak ada untungnya bagi mereka?”
Kim San pura-pura marah.
“Apa maksudmu? Apa kau pikir aku hanya berteman denganmu demi uang?” kata Kim San. Kim San akan berdiri, tapi tangan Min Ho langsung memegang tangannya dan berkata, “Maaf! Aku tahu ini kurang sopan. Aku hanya merasa takut jika kau mengharapkan lebih darimu. Kau satu-satunya teman bagiku.”
Kim San menghela napas panjang.
“Aku tak yakin akan menceritakannya padamu.” kata San. Kim San memperlihatkan kegugupanku dengan sangat baik.
“Tak apa-apa. Ceritakan saja! Bukankah kita ini teman?”
Dia tersenyum tulus.
Kim San juga tersenyum membalasnya.
Kim San memegang tangan Min Ho dengan hangat dan berkata dengan perlahan, “Aku menyukaimu.”
Min Ho tampaknya agak terkejut, tapi berusaha menymbunyikannya. Dia berkata, “Aku juga menyukaimu.” Kim San menggeleng dengan tegas. Dia  berkata, “Bukan seperti itu. Aku menyukaimu. Seperti seorang wanita mencintai seorang pria atau sebaliknya.”
Min Ho terkejut.
Dia kelihatan jijik pada San. Dengan segera dia melepas tangannya dan berlari menjauh dari San. Sama sekali tidak menoleh atau sekedar melirik pada San. Dengan cepat tubuhnya sudah menghilang dari pandanganku.
Kim San hanya tersenyum saat melihatnya.
#####
 Kim San berlari dengan tergesa-gesa. Keringat bercucuran dari tubuhnya. Min Ho sedang disiksa! Dia  harus menolongnya! Benar saja, di salah satu sudut universitas yang jarang  digunakan. Min Ho dipukuli habis-habisan oleh beberapa mahasiswa.
 Dengan berani Kim San menerobos mereka dan berteriak dengan kencang, “Apa yang kalian lakukan?”
Mereka hanya terkekeh.
“Apa kalian tidak punya hati?”
“Kau ini banyak bicara!” kata salah satu dari mereka. Mereka gantian menghajar San dan menyiksanya. “Tadinya, kami tak mau menyiksamu. Tapi, kau mau berteman dengan orang sepertinya. Kau pantas menjadi sampah yang pantas diinjak sama sepertinya.”
“Memang kenapa?” kata San dengan tangan menutupi kepalanya. Sementara, kaki-kaki mereka menendangi perutku. “Memang kenapa jika kami berteman? Memang kenapa jika aku menyukainya? Apa itu menjadi masalah?”
Mereka terus menghajar Kim San sampai dia tak bisa bergerak. Baru sekitar dua jam kemudian, mereka pergi karena bosan. Min Ho bangkit dan mendekatiku. Badannya tak kalah babak belurnya dengan San. Sejak kejadian itu Min Ho memang tidak mau bertemu denganku lagi. Karema itu, Kim San berusaha menjauh.
“Jangan dekat-dekat! Bukankah bagimu aku ini mahluk hina?”
Min Ho tampak merasa bersalah.
Dia memegang tanganku dengan kuat. Kim San berusaha melepasnya, tapi Min Ho malah memegangnya dengan kuat.
“Apa maumu?” teriaknya.
Min Ho menatap Kim San dalma-dalam. Tangannya mulai melemas dan melepasnya. Darah mengucur dari bibir Min Ho saat dia berkata, “Aku tak pernah merasa dicintai. Hanya kau satu-satunya yang mencintaiku. Aku tak tahu bagaimana nanti kedepannya. Tapi, apa kau mau mengajariku agar bisa mencintaimu? Apa kau mau tetap mencintaiku dan kita menghadapi ini bersama?”
                Kim San bangkit.
Air matanya turun perlahan-lahan. Kim San memeluk Min Ho dan berkata dengan haru, “Aku mencintaimu Min Ho! Aku sangat mencintaimu!”
Tangan Min Ho perlahan-lahan mulai  memeluk tubuh Kim San.
                Seperti, yang kukatakan, ada banyak alasan kenapa seorang pria menjadi gay. Salah satunya, saat pria itu sendiri tidak ingin lagi mencintai wanita.
24
                Kim San hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuhnya. Tubuhnya yang berotot dibiarkanya terbuka. Matanya terpejam dan membiarkan nafas panjang. Keringat bermuncul dari tubuhnya. Dia sedang menikmati sauna bersama Min Ho. Dia memang menyewa tempat sauna itu untuk dia dan Min Ho. Berdua saja. Aku tak terlalu ingat berapa uang yang harus dia bayar. Tapi, yang jelas itu bukan hal yang sulit baginya.
                Min Ho  berbaring dengan menjadikan paha San sebagai bantalan.
                Sama seperti San, Min Ho juga hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya. Nafas keduanya terdengar beraturan, seperti irama yang diciptakan oleh tubuh secara otomatis. Bagi orang yang religius, Tuhanlah yang memberikan nafas itu sebagai anugerah. Tapi, bagi yang mengingkari adanya Tuhan, itu hanya sebuah kebetulan.
                Kim San dan Min Ho sebenarnya tidak terlalu berbeda usia. Mereka juga tak pernah memikirkan, siapakah yang menjadi pemeran pria dan pemeran wanita dalam hubungan mereka. Bagi mereka, mereka adalah pria dan mereka saling mencintai. Meski, bahkan bagi masyarakat Korea sekalipun, gay adalah masih sesuatu yang janggal. Keduanya tidak mempercayai Tuhan, menjadi seorang ateis[1] membuat keduanya bisa hidup tanpa aturan. Bagi keduanya, sangat merepotkan harus memilki keyakinan dan berusaha membenarkan tindakan mereka dengan mencari-cari dalil atau alasan yang jelas-jelas sebenarnya tidak ada[2].
                Kemudian, perlahan-lahan Kim San mengusap rambut Min Ho.
                “Apa kau bahagia bersamaku?” tanya San.
                “Apa maksudmu?” tanya Min Ho.
                “Tidak. Hanya, aku ingin tahu. Apa kau bahagia dengan kondisimu sekarang?” tanya San. “Hubungan kita ini, tidak akan membuat dunia mau mengakui keberadaan kita. Eksistensi kita. Kita tidak akan pernah memiliki anak. Meski, kita menikah sekalipun. Tapi, bagi negeri ini, kita tetap saja seorang lajang.”
                “Aku tidak masalah dengan itu. Aku juga tidak menginginkan keberadaan anak. Aku bahagia dengan kondisiku sekarang.” kata Min Ho.
                Kim San mencium pipi Min Ho dengan lembut.
                 Setelah itu, keduanya kembali diam. Hanya suara nafas mereka yang terdengar. Menikmati suhu panas di tengah cuaca dingin diluar sana. Aku tak tahu apakah diluar sana ada orang yang tak sengaja melihat atau mendengar percakapan Kim San dan Park Min Ho. Kalaupun ada, aku juga tak tahu apakah mereka akan menerima hal-hal semacam itu.
Aku sama sekali tidak tahu....
                Ketika di luar salju dengan lumayan lebat, Min Ho menceritakan banyak hal pada Kim San. Meski, Kim San sendiri hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Sesekali, dia akan tersenyum atau berkata, ‘begitukah?’ atau ‘benarkah?’ Lagi-lagi aku tak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan San saat itu. Mungkin, lebih tepat jika kukatakan aku tidak ingat.
                Tiba-tiba, setelah bercerita dengan begitu semangatnya. Min Ho diam. Kemudian, dia menatap Kim San dengan lembut. Tangannya memegang tangan Kim San dan berkata, “Terima kasih. Karena, kau telah mencintaiku.”
                Min Ho terdiam sebentar, setelah beberapa saat, barulah dia kembali bicara, “Aku senang karena kau mencintaiku. Aku senang karena kau mau hadir dalam kehidupanku. Aku bersyukur karena kita bertemu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada hidupku jika kita tidak bertemu. Apa yang kukhawatirkan dalam kehidupanku, jika aku tidak akan bahagia. Tak pernah menjadi kenyataan karena ada kau.”
                Benarkah? pikir San. Ada sebuah senyuman yang terbit di dalam hatinya. Sebuah senyuman kepuasan atas apa yang telah dia lakukan pada Min Ho.
                “Orang tuaku tak pernah mencintaiku. Aku tak tahu apa yang sebenarnya mereka ingin dari seorang anak. Tapi, bagi mereka aku hanyalah alat. Alat yang akan mereka gunakan untuk kepentingan mereka. Bagi mereka, aku hanyalah sesuatu yang akan menjadi pengikat dengan wanita yang nanti akan dijodohkan denganku.”
                “Maaf. Karena, aku hanya bisa memberikan cinta yang membeku padamu.” kata Kim San. “Maaf, karena mungkin cinta yang kuberikan adalah racun bagi tubuhmu yang bisa saja membunuhmu.”
                Min Ho menggelengkan kepalanya, “Meski, cintamu beracun dan akan membunuhku sekalipun. Aku akan tetap meminum racun itu sampai aku sendiri mati.”
                “Begitukah?” kata Kim San dengan sambil membuka matanya.
                “Ya. Aku akan mati, jika itu yang kau inginkan....”
                Kim San tersenyum. Senyuman yang lembut dan mungkin siapapun tidak akan percaya. Jika, sebentar lagi, hanya sebentar lagi, Kim San akan menjilat darah Min Ho. Karena, dengan ucapannya yang barusan, Kim San tahu dia telah membuat Min Ho sekarat dengan pedangnya yang berkarat.
                Dalam setiap perang, pasti akan ada korban tak bersalah yang menjadi korban. Korban dalam kisah ini, adalah Park Min Ho. Hanya satu kali, dia pernah bertindak sebagai Hanya satu kali. Kemudian, darah pun mengalir.......       



[1] masyarakat korea sebagian besar adalah ateis (tidak mempunyai agama). mayoritas kedua adalah penganut budha, kemudian Kristen. sementara, islam termasuk agama yang sangat minoritas di sana. Meski, masyarakat Korea sendiri cukup memahami kebiasaan islam secara ‘umum’. Seperti, orang islam, tidak minum-minuman keras, sholat (berdoa) lima kali sehari, tidak memakan babi dll.
[2] penulis seorang muslim dan penulis sendiri tidak membenarkan tindakan dan pemikiran seperti itu. Hanya saja, pada akhirnya, kita harus mengakui, jika di dunia ini. Ada orang-orang dengan pemikiran seperti itu. Setiap manusia, terlahir dengan kehidupan yang berbeda-beda.  Bagi, kita yang terlahir dengan keyakinan (entah itu muslim, Kristen dll) akan terbiasa dengan aturan dan menjadikan keyakinan kita sebagai panutan. Tapi, bagi mereka yang terlahir di negeri dengan mayoritas ateis/tidak memiliki keyakinan.  Pemikiran seperti ini, bisa jadi malah tidak aneh sama sekali.
novel ini tidak ditulis untuk membenarkan tindakan homoseksual. Apakah itu gay ataupun lesbian. Melainkan, hanya untuk membuka mata kita jika hal semacam ini (homoseksual) bisa terjadi dimanapun pada siapapun dengan berbagai alasan. Dalam islam sendiri, homoseksual termasuk hal yang paling terlarang. Tapi, yang mengkhawatirkan adalah fakta jika penjelasan tentang homoseksual itu sendiri tidak terlalu sering disinggung. Berbeda dengan zina, padahal, homoseksual tak kalah berbahayanya dari zina. Bahkan, hukuman bagi pelaku liwath juga bisa lebih berat dari pelaku zina. tugas kita adalah mencegah dan mengobati hal-hal seperti ini.